Sebuah pelayaran yang agung

Kali ini sudah dua jam lewat tengah malam. Mendadak aku dikejutkan oleh tangis seorang perempuan, tepatnya seorang Ibu. Ia menangis histeris, dan perlahan mulai mereda tersedu-sedu. Rupanya, ia sedang meratapi hilangnya keyakinan anak yang dikasihinya, yang ia cinta tanpa berharap pamrih.

Ia tampak begitu terpukul. Keyakinan yang ditanamkannya sejak sang anak masih belum mampu bicara, bahkan belum dapat membuahkan pikiran sehat, kini terpaksa sirna. Hilang diterpa badai ilmu pengetahuan, yang tentu terpisahkan jarak berupa jaman. Sang Ibu dilanda kebimbangan, kalut atas kenyataan yang sulit dicerna, sekaligus barang tentu agak mustahil dibantahnya.

Kegagalan sedang memenuhi kepalanya saat ini, meski sang anak justru merasa Ibunya sudah mencapai keberhasilan tertinggi manusia, pada suatu bagian. Tak bisa tidak, pertentangan pemikiran keduanya tak bermuara, dan semakin menjauhkan makna akan kehidupan masing-masing.

Sang anak yang tak lagi bocah sadar betul, keputusannya untuk kembali bersikap jujur akan berdampak prahara. Batinnya pun tak kalah tersiksa, antara enggan membohongi perempuan yang bertaruh nyawa demi kelahirannya, atau sebaliknya. Ia belum lagi mampu mengusap air mata sang Ibu.

Kini kedua manusia sedarah itu tak hanya dipisahkan lautan membentang. Namun juga samudra realita, yang juga diarungi seribu harap dan doa. Di tengah perahu yang ditumpanginya, sang Ibu terus memohon pada sang pencipta. Memohon agar kapal yang dinahkodai anaknya tak karam, dan lekas merapat ke darat. Di daratan manapun yang dikehendaki buah hatinya.

Gurat senyum mulai melengkung di bibir perempuan itu, karena ia mulai tahu, ia tengah berada dalam sebuah pelayaran yang agung..

Palu Peretas

Berpikir membutuhkan keberanian.
Keberanian yang melampaui kemampuan fisik.
Keberanian untuk menembus sekat dan jaman,
mempertanyakan pengetahuan,
menggulingkan dogma yang membalut tiran,
mendobrak keyakinan yang selama ini dibenarkan,
menggali harta bawah sadar untuk sebuah pertimbangan.

Entah bagaimana mewujudkan keberanian itu.
Betapa malas manusia yang membatasi pikirannya.
Memberi batasan waktu,
memangkas aliran darah,
dengan getah nilai semu yang melemahkan sendi punggung,
dan kaki, dan sekujur tubuh!

Sedikit yang aku tahu, masa muda adalah masa peralihan menuju masa berpikir.
Tak ada cara lain, selain membawa bekal sebanyak mungkin.
Makanlah pengetahuan sekenyang mungkin,
berlarilah ke segala arah, sejauh-jauhnya,
sampai kau kembali pada titik kelahiranmu,
yakni kematian baru.

Sampai pada saat yang dikehendaki, aku akan terlibat pergumulan sengit denganku sendiri.
Perdebatan alot,
dialog tengah malam,
tarik-tambang antara dua kesimpulan,
dalam perang menuju makna.
Hal ini harusnya juga berlaku bagi kau, kau, kau, dan juga kau.

Aku merasa cukup sadar dengan duniaku, meski kerap aku sendiri meragukannya.
Dunia yang enggan ditemani sepi,
yang tak mau menggigil,
menolak terik mentari,
memunggungi kenyataan bahwa sejumlah anugrah hanyalah kebetulan.
Atau bahkan ceceran sampah ilusi,
dari mimpi-mimpi yang menenangkan.

Suatu saat akan ada bisikan, yang bisa dengan gegabah kau sembah.
Jawaban atas pertanyaan,
kunci menuju pintu perjalanan,
di mana kau akan temukan bercak-bercak darah, menuju persimpangan yang tak kalah mengerikan.
Di antara gelap gulita, kau akan membutuhkan pelita.
Dan kau, dan siapapun, telah memilikinya.
Maka, maukah kau menemani dirimu sendiri?

My fellow’s poet while he’s on a trip.

What is real?
What is unreal?
What is reality?
Is my reality different than your reality?
Can’t you see me preaching in technicolor?
Because it’s real..
Just because you said it isn’t real doesn’t mean it isn’t real.
Or is it unreal?
Is it really unreal?

Ah, here you go again..
You and your dull-polluted version of reality..

A reality shaped by culture..
A culture who told you what to do,
what to buy, what to eat, who’s to vote,
who’s to blame, who’s to listen to,
they even told you how to die!

They force their own version of reality,
into your fragile life, and before you know it,
you perceived it as real.
As your own reality..

And that’s sad.. 😥

23 Maret 2014

Air, Mata, Tanah.

Sungguh malu diri ini. Seakan tak lagi pantas menghadapkan diri pada sejarah. Bagaimana mungkin wajah asli berbalut kulit berwarna pernah berlomba, bersaing dengan sadar dan bangga untuk menjadi bagian dari kehancuran bangsa? Menganggap diri sedarah dengan barat, meski harus melalui penindasan, mengemis dengan darah mengalir, di sepanjang jalan di mana darah membanjir.

Agaknya tak ada hal yang lebih sulit di dunia yang bulat ini, selain hidup dalam penyeragaman yang ditentukan dari luar. Lebih dari seperempat abad lamanya turut menghirup udara nusantara, aku tak juga membalas budi. Aku bahkan pernah bersuka cita dengan harapan besar, untuk segera melepas label pribumi. Seluruhnya kulakukan atas dasar keinginan memperbaiki diri sendiri, tidak lebih. Andai saja ada kehinaan yang lebih dari sekadar tindakan Soeharto dalam dokumen setelah ia mati, maka mungkin aku tenggelam di dasarnya. Di dasar kehinaan bangsa.

Entah apa sebenarnya dosa bangsa ini, hingga seluruh kebodohan dan kebebalan dilimpahkan bak sebuah kutukan. Menangislah aku, dan sewajarnya seluruh anak negeri, bila membaca perkiraan di mana letak daratan yang hilang seperti dikisahkan Poseidon. Daratan yang dianggap punya peradaban paling maju, terhormat, bahkan melebihi apa yang ada dalam imajinasi manusia saat ini. Dan lihatlah apa yang ada sekarang. Boneka-boneka buatan yang diselimuti topeng imitasi seperti merayakan perampasan harga diri bangsa, hingga rela meneteskan air mata haru!

Sejauh yang aku tahu sebelumnya, dibutuhkan kebanggaan dan kesetiaan dari seorang anak bangsa untuk menghormati tanah airnya, dengan cara yang paling layak. Namun secuil pengalaman ini rupanya membuktikan ada hal lain yang lebih diperlukan. Kebanggaan membuat diri tenggelam dalam lautan Dewata, tanpa peduli seperti apa kehidupan para penindas di masa yang sama. Sedangkan kesetiaan membuat tanah air menjadi yang utama, sekaligus acuh kepada yang lain, termasuk kepada para perampas. Demikian, bukan berarti pengetahuan tak diperlukan, bahkan untuk menumbuhkan rasa bangga dan loyal. Pengetahuan membuat manusia hina ini mulai memahami cara dan tipu muslihat dunia luar, dalam menghidangkan racun pemati rasa kepada kawan sebangsanya. Teori Asosiasi Snouck Hurgronje sepertinya sudah membuktikan penyesalannya saat ini. Memang hal pamungkas tak juga menjanjikan kenyamanan, karena pada dasarnya ia dan sesamanya terlahir tanpa pengaman. Namun setidaknya ia berusaha, untuk tak mengulang hal menjijikkan yang sama: Menjilat pantat pucat, yang tak hanya busuk, tapi juga tanpa rasa yang tak bisa dirasakan manusia mana pun. Dalam hatinya ia bersumpah..

Anang Porwoko, 3 Maret 2014.

tanah dewata

A Celebration of Friendship, Reuni Hura-Hura di Tengah Konser Musik Kejar Profit

Beberapa waktu belakangan memang saya mulai dibuat muak oleh pertanyaan dan pernyataan yang berhubungan dengan kultur underground, kultur tandingan, cutting edge, atau apalah itu sekarang disebutnya. Rasa pesimis tersebut semakin kuat dengan kian bodoh dan kegilaan akan citra sebagian besar penggerak mesin pemberontakan, yang saya yakin bakal jadi warisan bagi para underbow-nya. Tapi mendadak saya rindu datang ke konser musik, yang tidak menye. Oke, tidak menye.

Hanya berbekal publikasi via situs micro-blogging Twitter, even bertajuk “A Celebration of Friendship” secara cukup mendadak mengubah agenda ngopi saya menjadi acara mabuk sambil nonton band. Durasinya terbatas, start jam enam sore kurang lebih dan hanya empat band plus satu band tamu tak diundang, yang kebetulan sedang singgah di Malang. Selasa, 2 Oktober 2012, sekitar jam enam sore, warung bir yang melegalkan pengunjungnya menyelundupkan alkohol, dan acara pun dimulai dalam keadaan cukup mabuk..

Dibuka oleh sang pembawa acara, yang tak lain adalah Oneding, rekan saya, mantan hippies yang malam itu banyak saya kritik hahahaha sori yo Ding. Oke, diulang. Dibuka oleh sang pembawa acara, yang tak lain adalah Oneding, band penampil pertama adalah, “Tamu Tak Diundang, Yang Kebetulan Singgah di Malang” yang sebenernya cukup panjang untuk nama sebuah band. Berbekal musik pop-punk-2007-an dari ranah Borneo, mereka gagal mengalihkan fokus saya ke panggung. Alhasil obrolan sesama rekan dan bir pun masih jadi hal favorit pengunjung. Anggap saja welcome party yang gagal.

Setelahnya, band resmi pertama di acara bertema perayaan pertemanan tersebut diperankan oleh Stand In, band hardcore dalam kota yang saya baru tahu kalo pemain drumnya adalah mas dengan inisial IK. Belum kenal musiknya, apalagi liriknya, tapi adrenalin saya berhasil mereka tingkatkan beberapa inci. Cukup keren sam, selanjutnya bisa masuk daftar download kalo sedang kelebihan bandwidth.

Yang kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab. Band hardcore satu lagi yang berasal dari lain penjuru kota Malang, Difficult and Hard. Dan saya baru tahu, kalo band ini ternyata punya temen baru saya. Woaa, dan baru tahu juga dia kalo maen ternyata nggak pake alas kaki. Jos. Menurut pencermatan orang yang sedang mabuk, musik band-nya temen saya ini kurang lebih menyerupai Hatebreed. Kadar metalnya cukup banyak, liriknya belum tahu, tapi dulu pernah baca. Cuma bentuk kebencian mereka sama satu kaum tertentu. Bintang dua saja ya mas-mas.

Kids Next Door atau biasa dirangkum jadi kaende ini band math-core, atau chaotic, begitulah, yang cukup dinanti sebagian pengunjung-penonton malam itu, yang mayoritas memang saling kenal. Band ini punya pemain bass yang aksi panggungnya atraktif, dan benar saja. Membawakan beberapa lagu yang saya ingat di antaranya berjudul “Bang! You’re Dead” (lagu untuk BamBang hahaha sori mas) dan “Bleeding Balerina”, selain sing along, si pemain bass yang namanya enggan disebut ini tampil edan berdarah-darah, katanya. Karena sebenarnya waktu kaende maen, saya sudah sangat kesulitan duduk, dan akhirnya memilih tidur, merem, sambil mendengarkan kaende tampil. Mendengarkan saja, tanpa menonton.

Dan grup musik yang sayangnya harus jadi yang terakhir malam itu adalah, band hardcore-metal yang menurut saya oke punya, Screaming Factor. Berhubung band ini jarang manggung, saya berusaha sekuat tenaga untuk duduk, kemudian berdiri, mulai ikut nyanyi, masuk moshpit, dan silahkan berimajinasi tentang kesempurnaan acara bertema persahabatan. Sebenernya lebih seperti acara reuni, temu kangen beberapa mas-mas dan mbak-mbak hardcore punk, yang mungkin lama tak bersua akibat tuntutan kehidupan dunia lapis kedua, hehehe. Dan masalah performa Screaming Factor malam itu, ya seperti biasa. Super bagus, menyenangkan dan menyehatkan. Closing yang memorable, karena puluhan penonton gagal encore, dalam kondisi kelelahan dengan dua meja dalam keadaan patah. 2 milyar jempol untuk penyelenggara, top.

Seketika rombongan penerbang panggung dan peselancar crowd kembali menuju meja masing-masing, menghabiskan sisa minuman, kemudian meninggalkan venue, atau warung, untuk menuju spot ngopi favorit, Moskow..

(Sesampainya di Moskow sebagian dari kami akhirnya kembali memutuskan untuk mabuk kembali, sambil saya belajar perbandingan antara kondisi scene lokal dari masa ke masa, dengan saya mewakili generasi kreatif kekinian, yang goblok, memuakkan, mesum dan populer tanpa perubahan. Seperti biasa, perbincangan hanya menghasilkan wacana tanpa solusi, apalagi gerakan. Dan berserulah, “kami adalah konsumenmu wahai underground.”)

Anang Porwoko, 9 Oktober 2012, beberapa bulan sebelum kiamat. ((x

Nggak punya foto dokumentasi acara karena tak punya kamera.

Hantu dari korea itu bernama produsen.

Sebenarnya ini bukanlah hal yang baru untuk dibahas, hanya saja beberapa waktu kemarin salah seorang rekan sedang berapi-api membahas tentang begitu tingginya daya konsumsi kita, terutama terhadap produk asing. Dalam sudut pandangnya, dia memperhatikan masalah euforia konsumerisasi, daya konsumsi yang ditujukan untuk menaikkan derajat para menengah, bukan kegilaan pada produk luar negeri atas dasar perbandingan kualitas. Dan yang akan coba saya bagi bukan dari kedua sudut tadi, karena yang jadi objek adalah rokok. Masa iya, kita bahas rokok dari segi kebanggaan dalam mengkonsumsi, apalagi pertimbangan kualitas. Tentu saja tidak.

Oke, awalnya memang saya sudah geram dengan berbagai seni serapan dari korea. Ya contohnya adalah menjamurnya boy/girl-band (kalau memang beda gender) a la korea yang hampir setiap saat menghiasi televisi kita, yang mana… Ah, sudahlah. Setidaknya kalau anda memang waras, pasti mengerti apa yang saya rasakan. Dan, ternyata itu bukanlah akhir dari invasi budaya mereka. Karena beberapa waktu yang lalu baru saya amati merk rokok rekan saya yang lain, yang mana cukup langka di lingkup komunal kami. Rokok itu, berjudul “The One”. Ketika saya tanya rokok macam apakah itu, dengan bangga dia jawab “ini rokok sehat.” Rokok sehat? Tembakaunya diganti daun bayam? Ternyata bukan. Hanya saja, kandungan tar dalam rokok merk tersebut jauh lebih sedikit dari rokok kebanyakan, yakni hanya 1 Miligram di tiap batangnya. Memang jauh lebih sedikit dari kandungan tar pada rokok yang umumnya berkisar antara 7 sampai 22 Miligram per batang. Seperti yang kita tahu, bahwa tar adalah sebuah zat yang dihasilkan dalam pembakaran tembakau (rokok biasa) dan bahan tanaman lain (rokok herbal). Merupakan campuran dari beberapa zat yang bersama-sama membentuk suatu massa yang dapat melekat di paru-paru (untuk lebih jelasnya mengenai efek negatif yang ditimbulkan oleh tar silahkan googling), dan pastinya merugikan tubuh. Indikator keanehannya adalah, rokok “The One” sudah memiliki persepsi rokok sehat, atau lebih tepatnya rokok yang tidak membunuh secepat rokok kebanyakan. Alibinya, bisa menjaga kesehatan asal masih tetap bisa merokok. Begitulah.

Menurut saya pribadi, persepsi macam tadi memang sengaja diciptakan oleh produsen rokok tersebut. Yah semacam strategi promo produknya begitu. Mana ada sih rokok yang menyehatkan? Toh semua juga paham tentang akibatnya, bahkan para perokok yang hiperaktif sekalipun, meski mereka juga seringkali gagal menghentikan kebiasaannya tersebut. Sekali lagi, menurut saya, ini hanya strategi untuk memasarkan produk ke Indonesia, dimana akhirnya rekan saya berhasil mengkonsumsi produk tersebut.

Tampaknya para produsen rokok sudah mempersiapkan trik lain supaya produk mereka tetap berada di jalur aman secara penjualan. Di tengah gencarnya isu pemanasan global dan go green movement tentunya. Sudah pasti rokok dan polusi asap kendaraan adalah hal dasar yang dapat dibasmi bahkan oleh individu sekalipun. Dan Indonesia adalah negara yang termasuk gencar dalam kampanye perlindungan alam, entah karena kesadaran akan posisinya sebagai paru-paru dunia, atau memang ada “energi” lain dibalik kampanye anti-polusi dan penghijauan tersebut. Hebatnya lagi, para pemuda-pemudi harapan bangsa pun turut bersumbangsih atas kampanye yang akhirnya dengan sukses menjadi tren yang mewabah. Jelas sudah, semua gerakan ini tidak ada sangkut pautnya dengan kesadaran hidup lebih baik, melainkan tren, yang erat hubungannya dengan fashion. Dan untuk menjaga asa fashion, kita perlu sifat yang satu ini: Konsumtif.

Pihak marketing rokok “The One” pasti tahu betul mengenai tipikal pasar Indonesia. KT&G Corps (dulu Korea Tobacco & Ginger, kini Korea Tomorrow & Global) sebagai perusahaan yang memproduksi rokok tersebut tentu sudah paham mengenai produk mana dan segmentasi yang akan dijadikan mangsa di Indonesia. Yakni anak-anak muda yang aktif, yang tampak peduli dengan sekitar, meskipun karbitan dan tidak terlalu paham mengenai alam beserta segala konspirasi di sekelilingnya. Mereka (produsen rokok) justru mampu memanfaatkan semangat anak-anak muda yang sedang bersuka cita memberantas eksploitasi alam dan budaya, dengan iming-iming berkedok kepedulian. Sungguh saya pikir ini adalah era kehancuran dari segala aspek kita, penjajahan melalui invasi kebudayaan. Korea yang jahat? Sepertinya bukan, hanya kita saja yang kurang pandai dan peduli.

Sekali lagi, ini murni pendapat saya loh ya. Sangat bisa menerima bantahan dari pandangan yang lain. At least, eksklusifitas dalam mengkonsumsi sesuatu nantinya akan hilang setelah produk tersebut menjadi masif, dan berstatus “segala usia”. Dan untuk merokoknya, kalau memang ingin sehat tanpa rokok, kenapa tidak berhenti saja? Ngomong-ngomong, saya juga sedang berusaha keras kok, walaupun sangat susah. Selamat mencoba. 🙂

Anang Porwoko, 23 April 2012.

Patahkan Jarum Hipodermik!

Kamis, 16 Februari 2012 yang lalu saya mengikuti proses yudisium fakultas, sebagai salah satu syarat kegiatan menuju prosesi wisuda. Pada acara tersebut terdapat salah satu bagian bernama ‘Orasi Ilmiah’, dimana menyampaikan sebuah orasi dari hasil analisa seorang dosen yang sifatnya lebih kepada motivasi kepada calon wisudawan agar lebih memfungsikan dirinya bagi masyarakat. Tema yang diangkat kali itu cukup umum, tetapi menarik. Yakni mengenai progres jurnalisme infotaintment yang semakin kesini semakin berlebihan, sekaligus menjijikkan.

Siapa yang tidak mengkonsumsi berita infotaintment hari ini? Adakah seseorang yang tidak tahu siapa itu Syahrini? Siapa kekasihnya, siapa kekasih sebelumnya, bagaimana model rambutnya, dan banyak lagi pertanyaan memuakkan yang sayangnya justru menjadi konsumsi primer bagi mayoritas masyarakat televisi di Indonesia, dan tentunya juga dari segala jenis kelamin serta tak mengenal batasan usia. Sebuah survey dari lembaga riset AC. Nielsen mengatakan bahwa Indonesia adalah negara dengan program acara infotaintment terbanyak di dunia, dan otomatis juga menjadikan acara tersebut sebagai program dengan durasi paling lama. Padahal hampir seluruh negara maju di dunia sudah menciptakan filter bagi program semacam ini, salah satunya adalah dengan tidak memberi banyak durasi untuk acara infotaintment. Biasanya, komisi penyiaran di tiap negara hanya memberi durasi paling lama lima menit, itupun sifatnya hanya sebagai intermezo, dan disisipkan pada program berita umum. Kasus yang hampir serupa dengan pergerakan rokok disini, dan di negara maju.

Infotaintment rupanya sudah berhasil memperdaya konsumen media massa dalam negeri yang mayoritas menggunakan televisi sebagai sumber informasi, dan membentuk budaya busuk yang baru. Sebut saja, menggunjing, atau menggosip, begitulah. Infotaintment hampir selalu menyajikan berita seputar kehidupan pribadi seorang publik figur, tanpa memperdulikan garis privasi objek liputannya. Apa yang dilakukan jurnalis infotaintment di Indonesia lebih seperti tugas paparazzi, yang dianggap ilegal. Sementara kode etik jurnalistik yang mereka jadikan pegangan akhirnya hanya jadi wacana.

Bagi saya pribadi, menjadi jurnalis infotaintment sama saja dengan memproduksi sesuatu yang tidak layak dikonsumsi secara massal. Tidakkah membosankan ketika hari-hari kita dihabiskan dengan mengorek kehidupan pribadi orang lain yang tidak kita kenal dengan baik? Apa pula manfaatnya bagi orang lain? Mungkin tidak terlalu bijak jika hanya menitik beratkan ‘kesalahan’ pada media dan awak jurnalisnya. Mengutip sebuah kalimat percakapan di film ‘V for Vendetta’, yakni ‘.. if you’re looking for the guilty,  you need only look into a mirror.‘ Patut disayangkan melihat pasifnya konsumen media massa (dalam hal ini televisi) dalam proses interaksi dengan sumber informasi mereka sendiri. Sampai akhirnya terbentuklah hal yang dikatakan dalam teori agenda setting, dimana hal yang sedang diangkat oleh media massa akan menjadi tren di masyarakat, bersifat populer tentu saja. Dengan begitu derasnya terpaan arus informasi tersebut, konsumen ditekan hingga tidak memiliki ruang gerak, sampai pada akhirnya tidak berdaya dan menjadi korban keganasan infotaintment. Semakin banyak orang tidak berdaya, maka kebiasaan untuk mengkonsumsi akan terbentuk, hingga taraf membudaya, dan akhirnya rating mereka meningkat. Dengan rating yang tinggi, maka pihak pemasang iklan komersial akan datang dengan sendirinya. Siapa yang diuntungkan? Media akan semakin kaya, sementara kita? Jadi abu.

Sebelum sampai pada tahap bencana tersebut, ada baiknya kita asah daya literasi terhadap media. Teori uses and gratification berpendapat bahwa kendali terhadap arus media massa ada pada konsumen. Jangan pernah lupa bahwa remote televisi ada di tangan kita. Tumbuhkanlah sikap melek terhadap media, bangunlah filtrasi yang baik. Karena dalam literasi media sendiri terdapat empat tahap kemampuan komunikan atau konsumen media, yakni kemampuan mengakses media; kemampuan analisa pesan; kemampuan evaluasi pesan; dan yang terakhir adalah tahap kemampuan memproduksi sebuah pesan baru yang berasal dari hasil kita menyerap media. Siapapun dapat melakukan keempat hal tersebut, asal diasah dengan serius, dengan niat memperbaiki pesan yang disampaikan. Feedback sebagai jawaban atas pertanyaan dan pernyataan dari media sangat dibutuhkan, buatlah komunikasi yang berkesinambungan. Meskipun tidak langsung tertuju kepada komunikator (media), setidaknya kita dapat mendistribusi pesan dari kacamata masing-masing kepada orang lain yang belum mampu mengidentifikasi pesan dari media.

Saat ini sudah tersedia berbagai sarana untuk kita menyebar pandangan dalam bentuk apapun, salah satunya social media. Ketika sampai pada proses distribusi pesan melalui social media, maka terbentuklah jaringan komunikasi virtual, yang merupakan salah satu sub-bab citizen journalism. Sekali lagi, siapapun bisa melakukannya, siapapun bisa dan berhak menjadi bagian dari citizen journalism. Setidaknya, patahkan teori jarum hipodermik. Jangan biarkan media menusuk kepala kita dengan tanpa perlawanan, karena sekali lagi, semua media massa memiliki kepentingan yang tidak sedikit. Tidak perlu mematikan televisi, cukup lakukan media literasi tadi. Semakin sempit ruang gerak mereka, maka daya kreatifitas mereka dalam membentuk persepsi masyarakat juga akan semakin terkuras. Mereka tidak akan berkembang tanpa peran kita. Stay sharp!

Anang Porwoko, 21 Februari 2012

Tagged

Splakblak!Mutakarak: Kompilasi Musisi Malang nan Seru.

Anak muda selalu indentik dengan sifat yang membuat orang tua resah. Sifat itu namanya gegabah. Istilah kerennya, gegabah itu hampir sama dengan idiom “no future” yang entah kenapa kini kian sering ditemui diantara lelahnya kita dalam meletakkan harapan. Kalau menurut pandangan awam, gegabah mungkin akan identik dengan suatu tindakan buru-buru yang hanya akan menghasilkan output yang levelnya cuma kelas bulu.

 

Adalah sebuah kompilasi musikal yang dinamakan secara gegabah (baca: tidak catchy), Splak Blak! Muta Karak (SB!MK) namun seru dari sekelompok pemuda di Malang Raya. Berisikan 22 lagu dari 11 musisi muda Malang, kompilasi SB!MK ini juga melibatkan ke-gegabah-an di proses pengerjaan yang hanya memakan waktu kurang dari dua bulan saja, mulai dari saat pengonsepan, rekaman, sampai rilis. Dalam waktu pengerjaan yang sesingkat itu, kompilasi ini juga memiliki konsep yang cukup unik yaitu mengkolaborasikan 11 band yang ada dengan 11 artworker muda yang berbeda, plus dua artworker yang mengerjakan artwork untuk sleeve CD dan artwork untuk kepingan CD. Gegabah? Tentu saja! Kelas bulu? Tunggu dulu!

Ternyata, justru cukup gegabah untuk menilai bahwa sebuah hal yang dikerjakan dengan buru-buru hanya akan menghasilkan produk level kelas bulu. Walaupun mayoritas musisi yang ada di kompilasi hanya bermain di genre rock dan sub-genrenya, kompilasi ini kaya akan potensi. Kesebelas musisi yang terlibat mampu memainkan gaya musikal mereka dengan mumpuni. Bumbui potensi-potensi tadi dengan kadar chauvisnis yang tepat, maka mungkin hanya bakso Malang (plus sambal) saja yang bisa menandingi pedasnya isi kompilasi ini.

Berikut adalah wawancara via email yang dilakukan oleh kontributor Jakartabeat.net di Malang, M. Hilmi Khoirul Umam, dengan Anang “Ateng” Purwoko (drummer Pickwolf) dan Adon Saputra, dua orang di antara tim Splak Blak! Muta Karak itu. Simak cerita mereka tentang Jogja Istimewa hingga maraknya band Malang yang (hanya) jualan kaos:

Proyek kompilasi ini dikeluarkan beberapa saat setelah Jogja mengeluarkan kompilasi Jogja Istimewa yang monumental itu, apakah kompilasi SB!MK ini dapat diartikan sebagai respon Malang atas Jogja Istimewa?

Ateng: Kalau diartikan sebagai respon, nggak juga sih ya. Karena sejak awal dicetuskan ide produksi kompilasi, tujuannya cuma pengen menunjukkan bahwa masih ada band/komunitas lain di Malang yang perlu diangkat. Kalaupun mereka lebih awal rilis, ini hanya masalah waktu dan kesempatan, nggak lebih.

Adon: Ah nggak, kompilasi ini bukan mega proyek seperti halnya Jogja Istimewa, apalagi sampai dengan tujuan menjadi monumental. Lagian kenapa parameternya mesti Jogja Istimewa? Kompilasi itu kan udah tahun lalu, yang baru-baru ini kan ada juga kompilasi Rock After School 3, proyek kompilasinya teman-teman dari Bali.

Bagaimana proses kurasi karya sebelum akhirnya bisa masuk dalam kompilasi ini?

Adon: Proses kompilasi ini nggak seribet  seperti proses proyek kebanyakan, yang harus punya konsep ini atau itu, dengan tujuan ini atau itu. Proses awalnya saya ngobrol sama teman-teman, kasih tawaran, deal, terus produski, udah gitu aja. Ini cuma proyek seneng-seneng, no future, kalau gak diterima audience gak masalah, kalau laku ya resiko.

Ateng: Simpel saja, kami kumpulkan varian genre, kemudian mendapat beberapa rekomendasi dari temen-temen band, mereka punya kemauan, karya berkualitas, siap kerja keras, punya kapasitas. Sama halnya ketika kami ambil beberapa seniman visual lokal Malang. Sebagian dari mereka juga ada yang menawarkan diri. Selama mereka bisa, kenapa tidak? Sesederhana itu saja.

Sebagian besar band yang ada di kompilasi ini sebenarnya adalah band sudah pernah (dan sering) masuk kompilasi yang kurang lebih serupa, apakah band Malang yang pantas didengar cuma ini-ini saja?

Ateng: Ya nggak dong! Saya masih sangat percaya bahwa Malang memiliki banyak stok band dengan musik bagus. Sayangnya, sebagian dari mereka masih belum paham mengenai visi mereka sendiri. Seperti ketika banyak band bilang musik mereka bagus, dan pantas didengar. Tapi mana wujudnya? Untuk rekaman saja mereka masih mempertimbangkan biaya studio, yang faktanya lebih murah daripada membiayai gaya hidup. Nggak malu dengan status anak band? Intinya, jarang yang mau bertanggung jawab dengan musik dan pesan yang mereka sampaikan.

Adon: Memang iya, sebagian dari mereka memang sudah pernah ikut terlibat di proyek kompilasi lainnya. Kompilasi ini sebenarnya adalah proyek lanjutan dari rangkaian tur yang kami buat beberapa waktu yang lalu (Dari Moskow Kemana-mana Tour, tur Jawa Timur-Bali). Dan kebetulan personil band-band yang ikut terlibat di kompilasi ini juga orang-orang yang ikut terlibat di tur itu sendiri.  Banyak banget band Malang yang layak didengar, walau nggak sebanyak yang layak disablon.

Dengan kata lain, musisi yang tampil di kompilasi ini muncul hanya dari satu tongkrongan, apakah ini tidak rawan untuk dimaknai sebagai supremasi golongan tertentu?

Ateng: Siapa peduli supremasi? Kompilasi ini dibuat bukan untuk kepentingan sepihak. Dan faktanya, beberapa band partisipan kompilasi ini tidak berasal dari satu tongkrongan. Buktinya adalah adanya sedikit kesulitan pada saat meng-koordinasikan band-band tersebut. Kalaupun dinilai sebagai supremasi salah satu squad, saya pikir siapapun berhak punya persepsi. Jadi, santai saja. Rileks mendalam..

Adon: Satu tongkrongan apaan? Malah kenyataannya individu-individu yang ada di kompilasi ini suka nongkrong di banyak tempat dan spot ngopi, sebut aja mulai dari kopian kebalen, pak ran, moskow sampai sumbersari. Lagian kompilasi ini juga ngelibatin bebrapa band dari scene East Coast Empire – Mlg Ska, dll.

Walaupun materi dalam kompilasi ini cukup berwarna, namun kebanyakan berasal dari genre yang kurang lebih sama, yaitu berputar di sekitaran musik rock, apakah ini merupakan maksud tersembunyi untuk mengembalikan “kejayaan musik rock” yang dulunya dipegang Kota Malang? Bagaimana pendapat tentang genre non-rock di Malang?

Ateng: Menurut saya pribadi, musik rock nggak pernah mati. Mereka tetap berjaya, dalam berbagai dimensi. Mengenai asumsi maksud terselubung, nggak juga. Karena beginilah seharusnya musik untuk kaum muda, bersemangat. Mungkin bisa dibilang realisasi dari identitas kota Malang yang keras dan lugas. Buat apa jadi lugas kalau hanya berupa tulisan tanpa wujud nyata. Tentang genre non-rock yang entah bagaimana mendeskripsikannya, itu pilihan masing-masing. Saya hormati, asal nggak kehilangan esensi main band dan nggak disorientasi. Selebihnya, mari bermain dengan teritori masing-masing, secara sehat.

Adon: Nggak ada maksud tersembunyi di kompilasi ini. Kalau ini bisa jadi trigger untuk mengembalikan kejayaan musik rock di Malang wah itu bagus banget. Walau sebenernya nggak ada tujuan kesana, sekali lagi ini cuma proyek seneng-seneng. Pendapat? Waduh referensi pendengaran saya ini sempit, jarang denger band-band “non-rock” nya Malang. Jangankan dengerin, tau namanya aja nggak.

Setelah Snickers and The Chicken Fighters kemarin hari merilis CD yang berkualitas, dan menyusul SB!MK dengan kompilasi. Tampaknya tahun 2011 akan semakin ramai dengan beberapa rilisan dari band Malang. Apakah ini sebuah pertanda bahwa Malang akan kembali menancapkan taring di skena musik industri Indonesia?

Ateng: Amin! Revolusi scene musik sebuah daerah nggak bisa diukur hanya dengan banyaknya rilisan. Banyak parameternya, termasuk perubahan pola pikir dalam bermain musik. Tapi saya tetep optimis kok, Malang mampu take over, selama mereka punya kemauan, menyatukan visi. Dengan banyaknya rilisan lokal, setidaknya sudah mampu menjawab pertanyaan seputar eksistensi band-band Malang. Kalau dinilai sebagai pertanda, sebaiknya kita amini bersama, hehehe. Oh ya, selamat untuk Snickers and the Chicken Fighter, akhirnya rilis full-length album.

Adon: Iya sebelumnya ada rilisan CD dari SATCF, Fallen to Pieces dan Taste of Poison. Saya pribadi sih nggak muluk-muluk, seandainya band Malang bisa jadi tuan rumah di kotanya sendiri aja itu udah bagus banget. Nggak cuma jadi band pembuka terus.

Kompilasi ini menyuarakan dengan lantang kebanggaan atas Kota Malang, bagaimana dengan kritikan terhadap Kota Malang? Siapa yang ingin disentil lewat kompilasi ini?

Adon: Hahaha… Ini pertanyaan apaan sih? Gak pingin sentil siapa-siapa, pokoknya saya bangga jadi Arek Malang.

Ateng: Yang pertama, jelas kritik terhadap pendapat yang mengatakan bahwa Irfan Bachdim lebih hebat dari Ahmad Bustomi, hahaha. Oke, banyak yang harus dikritik sebenarnya, mulai dari bagaimana menjadi pemuda lokal yang baik dan benar, pemahaman tentang local movement, sampai regenerasi yang harus segera dilakukan di segala titik. Mengenai siapa yang ingin disentil, nggak pengen menyentil sebenarnya, hehehe. Hanya saja, memang kompilasi ini dapat dikatakan sebagai hasil dari budaya tandingan, dan akhirnya menyentil sebagian pihak yang belum mampu mengartikan apa itu counter culture. Ketika banyak anak muda ‘smarter than fifth grader’ berperang asumsi, kompilasi ini muncul dengan imej yang jujur, tanpa harus berlagak pandai. Terkadang sesuatu yang terlihat remeh justru nggak bisa diremehkan..

Kompilasi ini dengan cerdas memadukan konsep musik dengan artwork, apa yang mendasarinya? bagaimana ide ini bermula?

Ateng: Terinspirasi dari banyaknya pertanyaan seputar perbedaan komunitas, lintas genre, dan sebagainya, yang bagi sebagian orang pesimis merupakan hal yang sulit dilakukan. Iseng saja sebenarnya, tapi nekat aja. Toh tujuannya memperbagus tampilan kompilasi, solutif juga, sukur-sukur kalo dianggap breakthrough, dan mampu menambah nilai jual kompilasi ini. Cutting edge lah pokoknya, hahaha… Cutting edge bullshit..

Adon: Saya juga nggak tau, tiba-tiba aja ide buat bikin semacam katalog kecil para pelaku seni itu keluar, mungkin karena saya ini banyak nganggurnya jadi pikirannya gampang melebar ngalor ngidul, ahirnya keluar deh ide itu, tanya ongkos produksi cetak, ternyata ongkos cetaknya mampu kita cover. Ya sudah kita buka tawaran buat artworker lewat twitter, ahirnya mereka mulai ngerjain dalam waktu kurang lebih cuma seminggu, saya sih cuma asik-asikan aja tiap hari berenang sambil mainan bintang laut, hehehe… (tambahan keterangan, Adon Saputra menjalankan tugasnya di kompilasi ini dari Bali, tempat tinggalnya sekarang).

Kompilasi ini muncul dengan cepat (tanpa banyak promo coming soon), namun tiba-tiba saja bisa keluar dan menghasilkan kompilasi yang berbahaya, bagaimana proses kerja tim dalam pengerjaan kompilasi ini?

Adon: Saya beruntung bisa bekerjasama dengan tim, band dan artworker yang yang bisa diajak kerja ngebut dan antusias dalam menanggapi kompilasi ini. Karena  jarak domisili yang berjauhan kami pun banyak memanfaatkan sarana konferensi di Yahoo Messenger buat komunikasi untuk pembagian tugas pada saat pengerjaan kompilasi.

Ateng: Kami cuma nggak ingin menciptakan kondisi harap-harap cemas, dan promo coming soon sepertinya hanya akan menebar janji yang belum pasti. Mengenai proses kerja tim, standar sih. Pembagian deskripsi kerja yang jelas, disiplin, tanpa toleransi, hahaha. Kompilasi berbahaya yang humanis, banget! Oh, satu hal yang tak kalah penting: MERIAH!

Kebanyakan band hanya diberikan waktu yang sempit dalam mengerjakan lagu-lagunya yang masuk dalam kompilasi ini, ketika sampai pada hasil akhir, sudah sesuai harapankah materi-materi yang ada dalam kompilasi ini?

Adon: Udah (sesuai harapan) kok, malah melebihi harapan. Coba dengerin Take This Life yang nyoba nawarin karakter sound yang beda dari band metal kebanyakan. Atau explorasi sound drum super genit yang ada di dua tracknya Lolyta And The Disgusting Trouble.

Ateng: Wah, buat saya malah jauh melebihi ekspektasi lo, suer deh. Waktu deadline pengumpulan materi, saya cuma berpikir, “Saya bener-bener kurang pergaulan, sampai nggak tau ada seniman-seniman lokal yang punya karya sebagus ini.” Mereka serius dalam pengerjaan materi, baik band maupun artwork designer. Keren.

Sebuah kompilasi lokal daerah selalu berpotensi untuk dilabeli dengan slogan “Support Your Local Act”. Padahal slogan tersebut telah berkembang menjadi konsep yang basi ketika slogan tersebut hanya dimaknai sebagai dukungan buta pada musisi lokal (bahkan ketika musisi tersebut karyanya jelek). Menurut sampeyan, bagaimana konsep supportive yang benar bagi kompilasi ini?

Adon: Hahaha… kok dikasih pertanyaan gini sih, pikiran saya langsung ke beberapa orang di Malang yang paling doyan ngobral kata support di twitter atau facebook loh. Nggak ah, saya nggak mau jawab pertanyaan ini, hehehe.

Ateng: Kalo dalam proyek kompilasi ini, seperti yang saya katakan sebagai proyek humanis banget, karena menerapkan konsep support yang benar-benar support. Promo artist, pasti. Dari segi materi, atau kita sebut saja royalti, semua pihak yang berkecimpung berhak mendapatkan, mulai dari artist sampai dealer by hand. Setelah artist sudah memiliki nilai jual, mereka dipersilahkan untuk berkembang sesuai pemahaman masing-masing. Sederhana, kompilasi ini sudah memberi rejeki sekaligus membuka jalan bagi seniman yang berkarya. Realistis kan? Kalo masih ada yang kurang, kompilasi ini butuh saran. Karena sepengetahuan saya, begitulah konsep support. Simbiosis mutualis, saling menguntungkan.

Di sleeve CD saya melihat SB!MK telah menjadi brand tersendiri atas nama SB!MK Music Development. Apa yang bisa diharapkan dari SB!MK Music Development ini nantinya? Akankah ada SB!MK jilid II?

Adon: SB!MK itu memang brand atau wadah untuk meng-implementasikan ide-ide unik yang ada di pikiran temen-temen. SB!MK jilid ll? Maksudnya kompilasi jilid 2 ya? Saya rasa nggak perlu ada jilid berikutnya, nanti kalau kita pingin bikin kompilasi lagi ya kita buat aja format yang baru, lagian ntar nggak enak juga diliatnya, splak blak muta karak 2. Nggak deh, kita bikin lainnya aja.

Ateng: Selama tidak ada band-band muda yang tidak dapat diharapkan, maka kami pun tidak dapat diharapkan, hehehe. Intinya SB!MK berupaya mengembangkan seniman, khususnya musik, yang memang punya kemauan untuk maju. Sukur-sukur kalo dalam perkembangannya bisa jadi record label, dan membantu perkembangan (ekonomi) band lokal, biar nggak selalu mentok di bea produksi karya ketika punya kreasi. SB!MK jilid II? Tunggu saja.

Diproduksi berapa copy cd kompilasi ini? Optimiskah dengan penjualan CD di era pasar yang lebih suka koleksi baju band daripada cd musik?

Adon: Baru produksi 500 keping, sekarang masuk produksi kedua, sejumlah 500 keping juga. Optimis aja, dari 500 keping pertama hari ini tinggal sisa beberapa keping CD saja, nggak sampai 20 biji.

Ateng: Awalnya hanya cetak 500 keping. Tapi dengan lebay-nya pembeli CD, sampai ludes dalam waktu seminggu hanya untuk skala lokal, sepertinya produksi gelombang kedua memang harus dilakukan. Kasihan yang request dari luar kota, distribusi di sana belum rata. Dengan situasi begini, yang pesimis dengan penjualan CD berarti dia emang udah kehilangan fungsi otaknya. Perlu banyak minum susu. Harus maksa pasar dong, capek kalo harus terus kasih penawaran.

Apa yang ingin dicapai dari kompilasi ini?

Ateng: Mendapatkan semangat berkarya dari band dan seniman lain yang belum kaya, belum jadi headliner karena masih muda, serta belum dikenal, supaya nggak mati tertimbun jutaan karyanya sendiri. Dan mudah-mudahan kata pesimis dihapuskan dari kamus besar bahasa indonesia.

Adon: Nggak tau mas apa yang saya ingin capai dari kompilasi ini. Wong sampai hari ini juga, saya belum ngelihat CD kompilasi ini secara otentik, hahaha.

Intipan tracklist penuh seru Splak Blak! Muta Karak oleh Anang “Ateng” Porwoko:

Anniverscary. Track 06 (Dirty Identity) dan track 18 (Stuck in The Middle East). Muda, nakal, urakan. Band punk generasi baru yang tidak perlu dikhawatirkan. Mereka, brengsek.

Brigade 07. Track 09 (Lupakan) dan track 22 (Masa Muda). Original pop punk taste. Easy, sumringah, sekaligus bikin klepek-klepek. Rekomended buat lagu di tempat karaoke. Nancep!

Gang Holiday. Track 08 (Moskow) dan track 15 (Better Day). Ska dub, santai banget. Saya nggak begitu paham musik ska, tapi kalo disuruh denger dua lagu ini sambil minum beer, monggo.

Give Me A Chance. Track 01 (Pride of The City) dan track 16 (Stagedive). Semangat hardcore-nya, gaul. Rancak, vokalnya oke, favorit deh. Silahkan operasi nambah jempol, buat kasih mereka enam jempol. Menyenangkan, dan menyehatkan.

Kobra. Track 07 (Pemuda Harapan Bangsa) dan track 20 (Malam). Klasik, dan ngakunya garage punk. Okelah, apapun, musiknya oke, dan beda. Vokalisnya centil. Masih muda, seleranya gila. Saya kagum.

Lolyta and the Disgusting Trouble. Track 10 (Hard Machine) dan track 17 (Magic of Rock). Classic rock, kakek moyang metallica mungkin. Part melodi dan liriknya magis memang, sayang vokalisnya jelek. Band ini keren! Blacktide 2011 sih, lewaat.

Pickwolf. Track 04 (Balada Rimba Fana) dan 14 (Delusional Kehidupan). Hardrock, nendang. Bukan narsis, tapi liriknya dalem loh, beneran. Warna vokalnya lebih keliatan kalo cowok, kekar. Nah, itu dia. Hardrock kekar!

Sharkbite. Track 05 (S.T.M.L.B) dan track 13 (Set Us Free).  Yang belum paham bagaimana itu beatdown hardcore, mereka bisa jadi mentor yang baik. Mantap, gahar!

Son Of Sundance. Track 02 (Masa) dan track 12 (Lingkaran). Post-rock, manis, ganteng, dan bertenaga. Sudah mumpuni kalau harus maen di acara musik televisi. Mbak-mbak bakal suka setelah dua kali putar lagu mereka.

Take This Life. Track 03 (I’m The Owl, I Roam The Night Alone) dan track 21 (When The Dolphin Pray For Forgiveness). Chaotic, math-core, rumit, kacau. Luas referensi musiknya, penggemar Converge wajib pasang dua lagu ini di playlist!

Youngster City Rockers. Track 11 (Step Back) dan track 19 (Pouring Threat). Ska punk, padat tapi tidak merayap, cepat, rancak, ceria, penuh pokoknya. Vokalisnya nggak kalah ngebut sama gitarnya. Rekomendasi banget buat soundtrack telat kuliah!

Hilmi, 13 September 2011

Dimuat di website Jakartabeat.net

Responden: Adon Saputra & Anang Porwoko

Review: “Dari Moskow Kemana-mana” Tour 2011

Perjalanan panggung, mengenai komunikasi, interaksi, dan apresiasi.

 

“Kenapa komunitas musik non-mainstream di kota Malang selalu dikotak-kotakkan?”. Pertanyaan tersebut seakan menjadi soal wajib bagi calon pelaku komunitas non-mainstream di Kota Malang, yang mana masing-masing memaknai persoalan tadi secara beragam. Dan ketika mayoritas pelaku menganggapnya sebagai masalah tanpa solusi, dari sebuah tongkrongan di salah satu sudut kota Malang bernama Moskow tercetus ide untuk melakukan perjalanan promo musik lintas genre. Ide yang terbentuk hanya dalam semalam, dari sebuah tongkrongan yang (dianggap) tidak keren, dan disertai keraguan dari beberapa pihak, serta minim pendanaan tersebut akhirnya disepakati untuk: Harus Terealisasi!

Setelah sebelumnya tim East Coast Empire sempat melakukan tur Jawa Tengah beberapa waktu lalu, kali ini dengan tema yang lebih ceria, tur Dari Moskow Kemana-mana (DMKM) beramunisikan: Gang Holiday (Ska); Give Me A Chance (Hardcore); Lolyta and the Disgusting Trouble (Classic Rock); Pickwolf (Hardrock). Band-band tersebut dipilih berdasar varian musik, intensitas komunikasi, dan yang terpenting adalah semangat mereka. Dengan daerah tujuan: Bali; Surabaya; Gresik; Malang, tur DMKM dilaksanakan selama tiga hari, terhitung sejak 28-30 April 2011. Proses kerjasama juga dilakukan dengan beberapa industri kreatif lokal, beserta media cetak dan elektronik (yang juga tidak kalah lokal) sebagai official media partner. Sebagai salah satu bentuk publikasi, beberapa hari sebelum tur dilaksanakan, perwakilan dari panitia tur DMKM menyempatkan diri untuk melakukan sesi interview dengan radio MFM seputar rangkaian kegiatan. Dan akhirnya di 27 April 2011 malam, 37 awak perjalanan (bands & kru) telah siap untuk bersenang-senang..

 

28 April 2011

Beberapa jam sebelum keberangkatan, seluruh tim sudah melakukan cek ulang personil dan perbekalan. Sampai akhirnya bis dengan kapasitas 40 seats yang sudah dipermak ulang tiba menjemput rombongan sekitar pukul 00:30. Sebagai rumah kedua selama beberapa hari ke depan, bis sewaan kami cukup manis dengan tambahan pamflet oneway vision di sisi kiri, plus cukup liar dengan driver dan navigator yang tidak lebih nakal dari para peserta tur DMKM. Perjalanan pun dimulai, tinggal landas dari Moskow, segera menuju pulau dewata..

Dipenuhi kenakalan yang natural, bis kami serasa tidak mengenal kegalauan. Tanpa terasa rombongan sudah menyebrangi selat Bali, dan sampai di Central Parking Kuta pada siang menjelang sore hari. Setibanya di penginapan (poppies 2), tanpa istirahat, atau setidaknya merebahkan diri sejenak, para pemuda sok nge-band berjumlah 37 orang tadi langsung memilih aktivitas lain: Bermain ombak pantai Kuta. Terlalu bersemangat kelihatannya..

Hingga saat program utama mereka tiba, promo lewat showcase. Band yang didaulat untuk tampil hari pertama adalah Give Me A Chance dan Lolyta and the Disgusting Trouble. Ditemani satu band tuan rumah, yakni Gommora, pertunjukan dengan Twice Bar sebagai venue dimulai tepat pada 21:00 WITA. Gommora membuka show malam itu dengan alunan hardcore metal ala Terror. Entah masih terasa asing atau memang terbawa sikap juri khas audiens Malang, rombongan tur DMKM hanya menikmati nomor-nomor mereka dengan antusias yang cukup dingin. Cukup sigap untuk sekedar tarian selamat datang. Tiba giliran Give Me A Chance (GMAC) dipersilahkan untuk unjuk kebolehan diluar wilayahnya. Sekitar sepuluh menit untuk setting sound, GMAC langsung menghajar telinga pengunjung Twice Bar dengan track-track andalan mereka, antara lain dua lagu dalam promo-kit mereka beberapa waktu lalu, “Beware of the danger” dan “Big shot!”, disusul tembang-tembang yang belum masuk studio rekam, “No time”, “Stage diving”, “Through the past”, dan sebuah lagu cover dari Champion, “The decline”. Hardcore cepat yang mereka mainkan ternyata ditanggapi lebih agresif oleh crowd malam itu. Kaki-kaki beterbangan, puluhan badan saling bertabrakan, dan hebatnya, crowd lokal juga sing-along. Diluar sebuah lagu cover dari Champion, lagu mereka sudah cukup populer rupanya..

Performer selanjutnya, Lolyta and the Disgusting Trouble (LATDT). Bagi mereka, ini adalah panggung luar daerah untuk pertama kali. Rasa penasaran akan respon telinga luar pun tidak hanya membayangi LATDT, tetapi juga seluruh rombongan tur. Membuka dengan intro yang disusul dengan salah satu track di mini album 2008 mereka,  “Get up (Get the partytonite)”, LATDT serasa menghipnotis seluruh pengunjung Twice Bar. Ini bukan kalimat hiperbola, percayalah. Semua mata dan telinga tidak berhenti menelanjangi aksi Limbang malam itu, yang didukung aksi atraktif seluruh personilnya. Memainkan “Time to rock”, “Black Lights”, dan single 2010 mereka berjudul “Magic of rock”, mereka sangat maksimal. Nomor terakhir sepanjang malam, “Syair ababil”. Lagu dengan puluhan sumpah serapah tersebut, entah, sangat kuat aura magisnya. Belum lagi ketika Limbang beradegan menutup kedua mata dengan syal sembari bermain melodi bersama gitarnya. Maka sepantasnya mereka menyesal, event organizer lokal yang sempat memilih LATDT sebagai band pembuka di acara buatannya. Karena mereka adalah headliner. Setidaknya begitu pendapat bule-bule dan mbak-mbak turis lokal penggemar Limbang dan band-nya. Pertunjukkan malam itu ditutup dengan sesi foto-gratis, obrolan santai antara pengunjung bar dengan player beserta rombongan lain. Arena musik keras pun seketika menghangat.

 

29 April 2011

Hari kedua di Bali, tidak banyak berbeda dengan yang dilakukan para pengunjung lokal pulau dewata (mengenai cerita dan pengalaman selama di Bali, sudah disampaikan rekan saya melalui catatan di akun situs facebook-nya). Belanja oleh-oleh, jalan-jalan, makan panganan khas daerah Bali, atau berenang di pantai. Hingga tiba waktunya showcase malam terakhir di Twice Bar. Kali ini sebagai penutup sudah bersiap Gang Holiday dan Pickwolf, dikawal oleh Poppies Soldier, sebuah band punk lokal dari sekitaran Poppies land.

Kembali, pukul 21:00 WITA pertunjukan live music Twice Bar dimulai. Tidak seperti hari sebelumnya, kali ini rombongan Malang difasilitasi sebuah booth untuk merchandise tur DMKM, tepat di pintu masuk bar. Dan kabar keberadaan band-band Malang di Bali ternyata cukup menyedot antusias rekan-rekan yang berdomisili disana, sebagian besar hadir pula menyaksikan show hari terakhir.

Pesta dibuka oleh Gang Holiday (GH), yang pada kesempatan itu diperkuat oleh Fariz, drummer mereka sesungguhnya, yang terpaksa meninggalkan Malang karena alasan tertentu. Membuka malam terakhir dengan track “Heaven smile”, GH mulai memaksa pengunjung Twice Bar yang sedari tadi masih bercengkerama di halaman luar bar. Menyusul lagu anyar mereka “Moskow”, sebuah lagu cover dari Weezer “Burndt Jam”, dan dua lagu dari promo mereka tahun lalu, “Selly for sale” dan “Try my poison”. Original Dub Ska yang dimainkan GH ternyata mampu menggoyang kepala dan kaki pengunjung bar. Belum lagi ketampanan sang vokalis yang membuat gadis-gadis bule klepek-klepek. Alhasil, promo-kit mereka habis diborong mbak-mbak non-Indonesia, plus foto-foto bareng sang artis yang memang luar biasa peka terhadap antusiasme audiens lawan jenis. Hahaa..

Performer selanjutnya, local hero pengiring band pendatang hari itu, Poppies Soldier, yang saya pikir die hard fans dari Rancid. Dan benar saja, mereka memainkan kurang lebih 6 lagu yang mayoritas membawakan nomor-nomor andalan Rancid dari seluruh album. Meskipun begitu, mereka cukup lihai memainkan cover songs tersebut. Diselingi beberapa kali salam dan ucapan selamat kepada rombongan tur dari Malang, maka kami merasa berada di rumah sendiri. Punk yang ramah, apresiatif, patut diteladani..

Seusai Poppies Soldier, giliran band terakhir malam itu, yang juga last warrior dari rangkaian tur DMKM di Bali, Pickwolf unjuk gigi. Sedikit utak-atik sound gitar (sang gitaris memang sedikit manja untuk urusan sound, haha), mereka seketika menghantam telinga penonton dengan intro cover “Roman holiday” milik Everytime I Die. Semakin gerah suasana venue, mereka langsung menggelontor tanpa jeda dengan sebuah lagu baru “Balada rimba fana” yang rencananya akan masuk dalam sebuah album kompilasi lokal. Dengan sigap crowd yang awalnya menyandar bertahap merangsek ke depan, berhadapan langsung dengan sang vokalis. Benar-benar mengagumkan, tidak ada sekat antara band dan audiens, totally awesome! Sebuah nomor lama “This song is called” turut dihadirkan, menyusul tiga lagu dalam mini album 2010 mereka, “Musik sebuah arena”, “Stop this fuckin’ false rock ‘n roll episode”, dan “Asimilasi budaya millenium ketiga”. Benar saja kalau musik rock memang identik dengan lelaki gagah. Mas-mas bule bertato sedari awal mengamati langsung mendekat, seusai Pickwolf beres-beres equipment. Mereka yang ternyata berasal dari Swiss dan Belgia berminat menawarkan kerjasama dengan band-band tur DMKM dalam sebuah proyek rahasia bersama band hardcore-nya. Yah, anggap saja ini sedikit hadiah dari perjuangan rekan-rekan tur atas kerja kerasnya, meskipun belum pasti terealisasi. Setidaknya mereka lebih percaya diri.

Showcase selama dua hari tersebut berdampak besar terhadap penilaian kami pada gigs-gigs lokal sebelumnya, dimana terlalu lebar jarak yang dibuat antara artis dengan penonton. Dengan megahnya panggung, jauhnya barikade, berartinya ID Card, maka interaksi antara keduanya juga semakin lebar. Setidaknya, percakapan setelah manggung yang kami dapat di Twice Bar adalah salah satu bentuk apresiasi mereka terhadap band. Ketika mereka puas, maka ada ketertarikan untuk mengenal lebih jauh. Kenapa tidak terjadi di kota kami? Benar-benar pelajaran yang sangat berharga. Terima kasih Bali..

 

30 April 2011

Menempuh perjalanan sekitar kurang lebih sepuluh jam dari pulau dewata, rombongan tur DMKM akhirnya sampai di kota pudak, Gresik. Harusnya kami singgah terlebih dahulu di kota pahlawan unyuk sebuah panggung. Tetapi karena even dibatalkan secara sepihak, maka akhir pekan kami habiskan disini. Sore hari, rombongan langsung dihadapkan pada venue yang kurang bersahabat, sekaligus menggoda. Betapa tidak, panggung di areal gudang kendaraan berat membuat kami merasa sedang dalam rangkaian hellfest. Bersebelahan dengan lapangan indoor futsal, yang akhirnya kami pilih sebagai sarana melepas penat. Setelah sound check, cukup istirahat dan bermain sepakbola, even pun dimulai bagi band-band tur sejak pukul 18:30.

Setelah sempat dibuka oleh band lokal dengan gaya musik garage rock, Pickwolf yang didaulat sebagai band tur pertama bermain cukup rapi, dengan sound good looking tetapi kualitas sederhana, plus panggung indah nan mungil, mereka cukup luwes dan mampu memantik gairah penonton Gresik yang memang tidak seantusias Malang. Setelah tiga lagu dirasa cukup, giliran band lokal Gresik yang saya lupa namanya (sorry..) menghibur penonton, yang mayoritas warga sekitaran venue, dan beberapa penikmat musik lokal. Hebatnya, beberapa diantara mereka bahkan sudah menunggu dari siang untuk menyaksikan Gang Holiday dan Give Me A Chance! Maka saya berpendapat, mas-mas tadi pasti memiliki facebook. Haha

Berikutnya, Lolyta and the Disgusting Trouble naik panggung. Dengan penampilan uniknya, mereka sudah mendapat applause dari penonton, bahkan sebelum alat musik berbunyi. Dan memang pantas kalau LATDT terpilih sebagai most valuable band of the tour. Entah bagaimana caranya, penonton Gresik yang sebelumnya benar-benar buta akan mereka, bisa dibuat gembira, dan sesekali terpaku pada pola musik LATDT. Menjelang lagu ketiga yang berarti lagu terakhir, gangguan kembali terjadi. Kali ini beberapa orang dari polsek setempat mendatangi venue dan meminta acara diberhentikan saat itu juga. Mereka beralasan birokrasi yang belum beres dari pihak penyelenggara, dan beberapa saat sebelumnya menerima komplain warga atas keramaian yang ditimbulkan even tersebut. Alhasil, even kembali dihentikan setelah LATDT menuntaskan sebuah tembang penutup malam itu, “Magic of rock”. Ketidak beruntungan tersebut sedikit mengecewakan kami, dimana dua band, Give Me A Chance dan Gang Holiday gagal menghibur beberapa penggemar setianya. Tapi apa mau dikata, stamina kami terbatas kalau hanya untuk beradu argumen dengan aparat yang kurang bersahabat. Saat itu juga kami berpamitan kepada rekan-rekan Gresik sebagai penyelenggara. Paling tidak, usaha mereka untuk membangun kota Gresik dalam hal seni musik patut diacungi jempol. Mereka berjanji akan kembali bekerja sama dengan band-band Malang suatu hari nanti. Mudah-mudahan terwujud..

Akhirnya seluruh rangkaian “Dari Moskow Kemana-mana” Tour 2011 berakhir sampai kembali di tempat asal kami, Moskow. Terima kasih kepada semua pihak lokal atas terselenggaranya tur DMKM 2011, juga East Coast Empire dimana beberapa dari mereka juga turut bergabung dalam tur, Antz Studio, serta rekan-rekan Goldstreet 108. Banyaknya pelajaran yang kami dapat setidaknya membuka pandangan baru, bahwa komunikasi yang intens dan tanpa basa-basi dapat mewujudkan segala tujuan. Tidak peduli siapa dengan siapapun, asal tidak berkepentingan individu, maka semua akan lebih mudah. Paling tidak kami berhasil mematahkan pendapat kenapa komunitas kota Malang seperti mengalami separasi di tiap genre musik. Malang berubah? Kenapa tidak? Kemajuan adalah tujuan, regenerasi adalah keharusan!

Anang Porwoko, 12 Mei 2011

Dimuat di website MajalahSintetik.tumblr.com

Esensi Warung Kopi.

Apa yang anda bayangkan mendengar kata warung kopi? Kata yang begitu familiar di telinga kita, sebagai orang Indonesia. Begitu familiar sampai-sampai sebuah grup lawak Ibukota mengambil kata tersebut sebagai nama grup mereka. Mengagumkan..

Ya, warung kopi secara umum digambarkan sebuah tempat (kuliner) yang menjadikan ‘kopi’ sebagai menu andalannya. Sementara makanan kelas ringan, sampai kelas menengah hanya menjadi menu pendukung dalam menikmati suasana. Maka tidak heran bila tiap warung kopi memiliki keunikan rasa yang berbeda. Yang akan coba saya bagi disini adalah bukan mengenai detail racikan kopi di tiap warung. Tidak juga tentang profil grup lawak yang saya sebut di paragraf sebelumnya. Tetapi lebih kepada esensi sebuah warung kopi.

Membicarakan tentang esensi, maka kita akan membahas tentang fungsi yang sebenarnya atas suatu hal. Selaras berkembangnya jaman, maka bergeserlah fungsi dan kegunaan segala hal, termasuk sebuah warung kopi. Umumnya mereka datang ke warung kopi atas dasar tujuan yang sama, minum kopi dan ‘membeli’ suasana. Sebelumnya, disini saya membedakan warung kopi menjadi dua jenis, tradisional dan modern.

Yang pertama, warung kopi tradisional. Entah persepsi dari mana, warung kopi tradisional identik dengan penggemar kopi kelas menengah. Mungkin karena lokasi, tata ruang (bahkan eksterior), harga, sampai ‘pelayan’nya yang akhirnya membentuk identitas warung non-eksekutif. Kesederhanaan itulah yang akhirnya membekali niat tulus bagi pengunjung warung kopi tradisional, yang mana tujuan mereka ‘ngopi’ adalah minum kopi dan ngobrol. Bisnis? Bisa jadi, kalau hanya sebatas bisnis kecil sampai menengah, bukan transaksi jual beli helikopter atau negosiasi pembelian mesin keruk. Bagi anda yang berminat untuk mencari teman yang sesungguhnya, saya anjurkan untuk lebih memilih warung kopi tradisional daripada yang modern. Masalah relasi bisnis, itu nomor sekian. Etika kaum elit, apalagi. Yang penting pesan segelas kopi, berbekal rokok sisa semalam, tangan kanan gorengan-tangan kiri cabe, ngobrol ngalor-ngidul panjang-lebar, maka akan terasa perbedaan antara dunia nyata dan dunia maya. Tidak ada kan aplikasi twitter yang bisa mencetak tempe menjes atau pisang goreng? Absolutely, no!

Kategori berikutnya, warung kopi modern. Kenapa modern? Hampir semuanya memilih nama tempat menggunakan bahasa asing. Begitu juga dengan desain interior, manajemen dan pemasaran layaknya perusahaan besar, metode penyajian yang ‘lebih’, sampai pengunjung Coffee Shop (ada baiknya disebut demikian) yang lebih banyak didominasi oleh kalangan high end teenager, hingga pengusaha (yang high end pula). Fasilitas yang disediakan juga bisa dibilang modern, mulai dari buku bacaan, wi-fi area yang memungkinkan akses internet tanpa batas, toilet yang dijamin bersih (meskipun belum tentu steril), dan tentunya panorama mata, turun ke hati, haha. Dengan banyaknya fasilitas tersebut, maka efek samping yang ditimbulkan adalah ‘melenceng’nya tujuan pengunjung Coffee Shop. Yang awalnya berniat untuk minum kopi, akhirnya harus direpotkan dengan dandanan yang tidak apa adanya, bertopeng make up, membebani diri dengan laptop, dan segala ketidak harusan yang terpaksa disertakan dalam kegiatan ngopi.

Mana yang lebih baik? Terserah anda. Semua tergantung tujuan, apa yang kita cari di tempat singgah favorit tersebut. Tapi sebentar, anda penikmat kopi kan? Kalau bukan, hmmm berarti saya salah orang.. 😉

Anang Porwoko, 15 Oktober 2010

Tagged