Hantu dari korea itu bernama produsen.

Sebenarnya ini bukanlah hal yang baru untuk dibahas, hanya saja beberapa waktu kemarin salah seorang rekan sedang berapi-api membahas tentang begitu tingginya daya konsumsi kita, terutama terhadap produk asing. Dalam sudut pandangnya, dia memperhatikan masalah euforia konsumerisasi, daya konsumsi yang ditujukan untuk menaikkan derajat para menengah, bukan kegilaan pada produk luar negeri atas dasar perbandingan kualitas. Dan yang akan coba saya bagi bukan dari kedua sudut tadi, karena yang jadi objek adalah rokok. Masa iya, kita bahas rokok dari segi kebanggaan dalam mengkonsumsi, apalagi pertimbangan kualitas. Tentu saja tidak.

Oke, awalnya memang saya sudah geram dengan berbagai seni serapan dari korea. Ya contohnya adalah menjamurnya boy/girl-band (kalau memang beda gender) a la korea yang hampir setiap saat menghiasi televisi kita, yang mana… Ah, sudahlah. Setidaknya kalau anda memang waras, pasti mengerti apa yang saya rasakan. Dan, ternyata itu bukanlah akhir dari invasi budaya mereka. Karena beberapa waktu yang lalu baru saya amati merk rokok rekan saya yang lain, yang mana cukup langka di lingkup komunal kami. Rokok itu, berjudul “The One”. Ketika saya tanya rokok macam apakah itu, dengan bangga dia jawab “ini rokok sehat.” Rokok sehat? Tembakaunya diganti daun bayam? Ternyata bukan. Hanya saja, kandungan tar dalam rokok merk tersebut jauh lebih sedikit dari rokok kebanyakan, yakni hanya 1 Miligram di tiap batangnya. Memang jauh lebih sedikit dari kandungan tar pada rokok yang umumnya berkisar antara 7 sampai 22 Miligram per batang. Seperti yang kita tahu, bahwa tar adalah sebuah zat yang dihasilkan dalam pembakaran tembakau (rokok biasa) dan bahan tanaman lain (rokok herbal). Merupakan campuran dari beberapa zat yang bersama-sama membentuk suatu massa yang dapat melekat di paru-paru (untuk lebih jelasnya mengenai efek negatif yang ditimbulkan oleh tar silahkan googling), dan pastinya merugikan tubuh. Indikator keanehannya adalah, rokok “The One” sudah memiliki persepsi rokok sehat, atau lebih tepatnya rokok yang tidak membunuh secepat rokok kebanyakan. Alibinya, bisa menjaga kesehatan asal masih tetap bisa merokok. Begitulah.

Menurut saya pribadi, persepsi macam tadi memang sengaja diciptakan oleh produsen rokok tersebut. Yah semacam strategi promo produknya begitu. Mana ada sih rokok yang menyehatkan? Toh semua juga paham tentang akibatnya, bahkan para perokok yang hiperaktif sekalipun, meski mereka juga seringkali gagal menghentikan kebiasaannya tersebut. Sekali lagi, menurut saya, ini hanya strategi untuk memasarkan produk ke Indonesia, dimana akhirnya rekan saya berhasil mengkonsumsi produk tersebut.

Tampaknya para produsen rokok sudah mempersiapkan trik lain supaya produk mereka tetap berada di jalur aman secara penjualan. Di tengah gencarnya isu pemanasan global dan go green movement tentunya. Sudah pasti rokok dan polusi asap kendaraan adalah hal dasar yang dapat dibasmi bahkan oleh individu sekalipun. Dan Indonesia adalah negara yang termasuk gencar dalam kampanye perlindungan alam, entah karena kesadaran akan posisinya sebagai paru-paru dunia, atau memang ada “energi” lain dibalik kampanye anti-polusi dan penghijauan tersebut. Hebatnya lagi, para pemuda-pemudi harapan bangsa pun turut bersumbangsih atas kampanye yang akhirnya dengan sukses menjadi tren yang mewabah. Jelas sudah, semua gerakan ini tidak ada sangkut pautnya dengan kesadaran hidup lebih baik, melainkan tren, yang erat hubungannya dengan fashion. Dan untuk menjaga asa fashion, kita perlu sifat yang satu ini: Konsumtif.

Pihak marketing rokok “The One” pasti tahu betul mengenai tipikal pasar Indonesia. KT&G Corps (dulu Korea Tobacco & Ginger, kini Korea Tomorrow & Global) sebagai perusahaan yang memproduksi rokok tersebut tentu sudah paham mengenai produk mana dan segmentasi yang akan dijadikan mangsa di Indonesia. Yakni anak-anak muda yang aktif, yang tampak peduli dengan sekitar, meskipun karbitan dan tidak terlalu paham mengenai alam beserta segala konspirasi di sekelilingnya. Mereka (produsen rokok) justru mampu memanfaatkan semangat anak-anak muda yang sedang bersuka cita memberantas eksploitasi alam dan budaya, dengan iming-iming berkedok kepedulian. Sungguh saya pikir ini adalah era kehancuran dari segala aspek kita, penjajahan melalui invasi kebudayaan. Korea yang jahat? Sepertinya bukan, hanya kita saja yang kurang pandai dan peduli.

Sekali lagi, ini murni pendapat saya loh ya. Sangat bisa menerima bantahan dari pandangan yang lain. At least, eksklusifitas dalam mengkonsumsi sesuatu nantinya akan hilang setelah produk tersebut menjadi masif, dan berstatus “segala usia”. Dan untuk merokoknya, kalau memang ingin sehat tanpa rokok, kenapa tidak berhenti saja? Ngomong-ngomong, saya juga sedang berusaha keras kok, walaupun sangat susah. Selamat mencoba. 🙂

Anang Porwoko, 23 April 2012.

Advertisements

One thought on “Hantu dari korea itu bernama produsen.

  1. sinpalumbo says:

    kalau mau berhenti merokok, coba pake plester nikotin mas koko’

    *abaikan komenku yo, iki mau mek ngetes kolom komen + akunku seng mari bejat ae 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: