Category Archives: Social Distortion

My fellow’s poet while he’s on a trip.

What is real?
What is unreal?
What is reality?
Is my reality different than your reality?
Can’t you see me preaching in technicolor?
Because it’s real..
Just because you said it isn’t real doesn’t mean it isn’t real.
Or is it unreal?
Is it really unreal?

Ah, here you go again..
You and your dull-polluted version of reality..

A reality shaped by culture..
A culture who told you what to do,
what to buy, what to eat, who’s to vote,
who’s to blame, who’s to listen to,
they even told you how to die!

They force their own version of reality,
into your fragile life, and before you know it,
you perceived it as real.
As your own reality..

And that’s sad.. 😥

23 Maret 2014

Air, Mata, Tanah.

Sungguh malu diri ini. Seakan tak lagi pantas menghadapkan diri pada sejarah. Bagaimana mungkin wajah asli berbalut kulit berwarna pernah berlomba, bersaing dengan sadar dan bangga untuk menjadi bagian dari kehancuran bangsa? Menganggap diri sedarah dengan barat, meski harus melalui penindasan, mengemis dengan darah mengalir, di sepanjang jalan di mana darah membanjir.

Agaknya tak ada hal yang lebih sulit di dunia yang bulat ini, selain hidup dalam penyeragaman yang ditentukan dari luar. Lebih dari seperempat abad lamanya turut menghirup udara nusantara, aku tak juga membalas budi. Aku bahkan pernah bersuka cita dengan harapan besar, untuk segera melepas label pribumi. Seluruhnya kulakukan atas dasar keinginan memperbaiki diri sendiri, tidak lebih. Andai saja ada kehinaan yang lebih dari sekadar tindakan Soeharto dalam dokumen setelah ia mati, maka mungkin aku tenggelam di dasarnya. Di dasar kehinaan bangsa.

Entah apa sebenarnya dosa bangsa ini, hingga seluruh kebodohan dan kebebalan dilimpahkan bak sebuah kutukan. Menangislah aku, dan sewajarnya seluruh anak negeri, bila membaca perkiraan di mana letak daratan yang hilang seperti dikisahkan Poseidon. Daratan yang dianggap punya peradaban paling maju, terhormat, bahkan melebihi apa yang ada dalam imajinasi manusia saat ini. Dan lihatlah apa yang ada sekarang. Boneka-boneka buatan yang diselimuti topeng imitasi seperti merayakan perampasan harga diri bangsa, hingga rela meneteskan air mata haru!

Sejauh yang aku tahu sebelumnya, dibutuhkan kebanggaan dan kesetiaan dari seorang anak bangsa untuk menghormati tanah airnya, dengan cara yang paling layak. Namun secuil pengalaman ini rupanya membuktikan ada hal lain yang lebih diperlukan. Kebanggaan membuat diri tenggelam dalam lautan Dewata, tanpa peduli seperti apa kehidupan para penindas di masa yang sama. Sedangkan kesetiaan membuat tanah air menjadi yang utama, sekaligus acuh kepada yang lain, termasuk kepada para perampas. Demikian, bukan berarti pengetahuan tak diperlukan, bahkan untuk menumbuhkan rasa bangga dan loyal. Pengetahuan membuat manusia hina ini mulai memahami cara dan tipu muslihat dunia luar, dalam menghidangkan racun pemati rasa kepada kawan sebangsanya. Teori Asosiasi Snouck Hurgronje sepertinya sudah membuktikan penyesalannya saat ini. Memang hal pamungkas tak juga menjanjikan kenyamanan, karena pada dasarnya ia dan sesamanya terlahir tanpa pengaman. Namun setidaknya ia berusaha, untuk tak mengulang hal menjijikkan yang sama: Menjilat pantat pucat, yang tak hanya busuk, tapi juga tanpa rasa yang tak bisa dirasakan manusia mana pun. Dalam hatinya ia bersumpah..

Anang Porwoko, 3 Maret 2014.

tanah dewata

A Celebration of Friendship, Reuni Hura-Hura di Tengah Konser Musik Kejar Profit

Beberapa waktu belakangan memang saya mulai dibuat muak oleh pertanyaan dan pernyataan yang berhubungan dengan kultur underground, kultur tandingan, cutting edge, atau apalah itu sekarang disebutnya. Rasa pesimis tersebut semakin kuat dengan kian bodoh dan kegilaan akan citra sebagian besar penggerak mesin pemberontakan, yang saya yakin bakal jadi warisan bagi para underbow-nya. Tapi mendadak saya rindu datang ke konser musik, yang tidak menye. Oke, tidak menye.

Hanya berbekal publikasi via situs micro-blogging Twitter, even bertajuk “A Celebration of Friendship” secara cukup mendadak mengubah agenda ngopi saya menjadi acara mabuk sambil nonton band. Durasinya terbatas, start jam enam sore kurang lebih dan hanya empat band plus satu band tamu tak diundang, yang kebetulan sedang singgah di Malang. Selasa, 2 Oktober 2012, sekitar jam enam sore, warung bir yang melegalkan pengunjungnya menyelundupkan alkohol, dan acara pun dimulai dalam keadaan cukup mabuk..

Dibuka oleh sang pembawa acara, yang tak lain adalah Oneding, rekan saya, mantan hippies yang malam itu banyak saya kritik hahahaha sori yo Ding. Oke, diulang. Dibuka oleh sang pembawa acara, yang tak lain adalah Oneding, band penampil pertama adalah, “Tamu Tak Diundang, Yang Kebetulan Singgah di Malang” yang sebenernya cukup panjang untuk nama sebuah band. Berbekal musik pop-punk-2007-an dari ranah Borneo, mereka gagal mengalihkan fokus saya ke panggung. Alhasil obrolan sesama rekan dan bir pun masih jadi hal favorit pengunjung. Anggap saja welcome party yang gagal.

Setelahnya, band resmi pertama di acara bertema perayaan pertemanan tersebut diperankan oleh Stand In, band hardcore dalam kota yang saya baru tahu kalo pemain drumnya adalah mas dengan inisial IK. Belum kenal musiknya, apalagi liriknya, tapi adrenalin saya berhasil mereka tingkatkan beberapa inci. Cukup keren sam, selanjutnya bisa masuk daftar download kalo sedang kelebihan bandwidth.

Yang kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab. Band hardcore satu lagi yang berasal dari lain penjuru kota Malang, Difficult and Hard. Dan saya baru tahu, kalo band ini ternyata punya temen baru saya. Woaa, dan baru tahu juga dia kalo maen ternyata nggak pake alas kaki. Jos. Menurut pencermatan orang yang sedang mabuk, musik band-nya temen saya ini kurang lebih menyerupai Hatebreed. Kadar metalnya cukup banyak, liriknya belum tahu, tapi dulu pernah baca. Cuma bentuk kebencian mereka sama satu kaum tertentu. Bintang dua saja ya mas-mas.

Kids Next Door atau biasa dirangkum jadi kaende ini band math-core, atau chaotic, begitulah, yang cukup dinanti sebagian pengunjung-penonton malam itu, yang mayoritas memang saling kenal. Band ini punya pemain bass yang aksi panggungnya atraktif, dan benar saja. Membawakan beberapa lagu yang saya ingat di antaranya berjudul “Bang! You’re Dead” (lagu untuk BamBang hahaha sori mas) dan “Bleeding Balerina”, selain sing along, si pemain bass yang namanya enggan disebut ini tampil edan berdarah-darah, katanya. Karena sebenarnya waktu kaende maen, saya sudah sangat kesulitan duduk, dan akhirnya memilih tidur, merem, sambil mendengarkan kaende tampil. Mendengarkan saja, tanpa menonton.

Dan grup musik yang sayangnya harus jadi yang terakhir malam itu adalah, band hardcore-metal yang menurut saya oke punya, Screaming Factor. Berhubung band ini jarang manggung, saya berusaha sekuat tenaga untuk duduk, kemudian berdiri, mulai ikut nyanyi, masuk moshpit, dan silahkan berimajinasi tentang kesempurnaan acara bertema persahabatan. Sebenernya lebih seperti acara reuni, temu kangen beberapa mas-mas dan mbak-mbak hardcore punk, yang mungkin lama tak bersua akibat tuntutan kehidupan dunia lapis kedua, hehehe. Dan masalah performa Screaming Factor malam itu, ya seperti biasa. Super bagus, menyenangkan dan menyehatkan. Closing yang memorable, karena puluhan penonton gagal encore, dalam kondisi kelelahan dengan dua meja dalam keadaan patah. 2 milyar jempol untuk penyelenggara, top.

Seketika rombongan penerbang panggung dan peselancar crowd kembali menuju meja masing-masing, menghabiskan sisa minuman, kemudian meninggalkan venue, atau warung, untuk menuju spot ngopi favorit, Moskow..

(Sesampainya di Moskow sebagian dari kami akhirnya kembali memutuskan untuk mabuk kembali, sambil saya belajar perbandingan antara kondisi scene lokal dari masa ke masa, dengan saya mewakili generasi kreatif kekinian, yang goblok, memuakkan, mesum dan populer tanpa perubahan. Seperti biasa, perbincangan hanya menghasilkan wacana tanpa solusi, apalagi gerakan. Dan berserulah, “kami adalah konsumenmu wahai underground.”)

Anang Porwoko, 9 Oktober 2012, beberapa bulan sebelum kiamat. ((x

Nggak punya foto dokumentasi acara karena tak punya kamera.

Hantu dari korea itu bernama produsen.

Sebenarnya ini bukanlah hal yang baru untuk dibahas, hanya saja beberapa waktu kemarin salah seorang rekan sedang berapi-api membahas tentang begitu tingginya daya konsumsi kita, terutama terhadap produk asing. Dalam sudut pandangnya, dia memperhatikan masalah euforia konsumerisasi, daya konsumsi yang ditujukan untuk menaikkan derajat para menengah, bukan kegilaan pada produk luar negeri atas dasar perbandingan kualitas. Dan yang akan coba saya bagi bukan dari kedua sudut tadi, karena yang jadi objek adalah rokok. Masa iya, kita bahas rokok dari segi kebanggaan dalam mengkonsumsi, apalagi pertimbangan kualitas. Tentu saja tidak.

Oke, awalnya memang saya sudah geram dengan berbagai seni serapan dari korea. Ya contohnya adalah menjamurnya boy/girl-band (kalau memang beda gender) a la korea yang hampir setiap saat menghiasi televisi kita, yang mana… Ah, sudahlah. Setidaknya kalau anda memang waras, pasti mengerti apa yang saya rasakan. Dan, ternyata itu bukanlah akhir dari invasi budaya mereka. Karena beberapa waktu yang lalu baru saya amati merk rokok rekan saya yang lain, yang mana cukup langka di lingkup komunal kami. Rokok itu, berjudul “The One”. Ketika saya tanya rokok macam apakah itu, dengan bangga dia jawab “ini rokok sehat.” Rokok sehat? Tembakaunya diganti daun bayam? Ternyata bukan. Hanya saja, kandungan tar dalam rokok merk tersebut jauh lebih sedikit dari rokok kebanyakan, yakni hanya 1 Miligram di tiap batangnya. Memang jauh lebih sedikit dari kandungan tar pada rokok yang umumnya berkisar antara 7 sampai 22 Miligram per batang. Seperti yang kita tahu, bahwa tar adalah sebuah zat yang dihasilkan dalam pembakaran tembakau (rokok biasa) dan bahan tanaman lain (rokok herbal). Merupakan campuran dari beberapa zat yang bersama-sama membentuk suatu massa yang dapat melekat di paru-paru (untuk lebih jelasnya mengenai efek negatif yang ditimbulkan oleh tar silahkan googling), dan pastinya merugikan tubuh. Indikator keanehannya adalah, rokok “The One” sudah memiliki persepsi rokok sehat, atau lebih tepatnya rokok yang tidak membunuh secepat rokok kebanyakan. Alibinya, bisa menjaga kesehatan asal masih tetap bisa merokok. Begitulah.

Menurut saya pribadi, persepsi macam tadi memang sengaja diciptakan oleh produsen rokok tersebut. Yah semacam strategi promo produknya begitu. Mana ada sih rokok yang menyehatkan? Toh semua juga paham tentang akibatnya, bahkan para perokok yang hiperaktif sekalipun, meski mereka juga seringkali gagal menghentikan kebiasaannya tersebut. Sekali lagi, menurut saya, ini hanya strategi untuk memasarkan produk ke Indonesia, dimana akhirnya rekan saya berhasil mengkonsumsi produk tersebut.

Tampaknya para produsen rokok sudah mempersiapkan trik lain supaya produk mereka tetap berada di jalur aman secara penjualan. Di tengah gencarnya isu pemanasan global dan go green movement tentunya. Sudah pasti rokok dan polusi asap kendaraan adalah hal dasar yang dapat dibasmi bahkan oleh individu sekalipun. Dan Indonesia adalah negara yang termasuk gencar dalam kampanye perlindungan alam, entah karena kesadaran akan posisinya sebagai paru-paru dunia, atau memang ada “energi” lain dibalik kampanye anti-polusi dan penghijauan tersebut. Hebatnya lagi, para pemuda-pemudi harapan bangsa pun turut bersumbangsih atas kampanye yang akhirnya dengan sukses menjadi tren yang mewabah. Jelas sudah, semua gerakan ini tidak ada sangkut pautnya dengan kesadaran hidup lebih baik, melainkan tren, yang erat hubungannya dengan fashion. Dan untuk menjaga asa fashion, kita perlu sifat yang satu ini: Konsumtif.

Pihak marketing rokok “The One” pasti tahu betul mengenai tipikal pasar Indonesia. KT&G Corps (dulu Korea Tobacco & Ginger, kini Korea Tomorrow & Global) sebagai perusahaan yang memproduksi rokok tersebut tentu sudah paham mengenai produk mana dan segmentasi yang akan dijadikan mangsa di Indonesia. Yakni anak-anak muda yang aktif, yang tampak peduli dengan sekitar, meskipun karbitan dan tidak terlalu paham mengenai alam beserta segala konspirasi di sekelilingnya. Mereka (produsen rokok) justru mampu memanfaatkan semangat anak-anak muda yang sedang bersuka cita memberantas eksploitasi alam dan budaya, dengan iming-iming berkedok kepedulian. Sungguh saya pikir ini adalah era kehancuran dari segala aspek kita, penjajahan melalui invasi kebudayaan. Korea yang jahat? Sepertinya bukan, hanya kita saja yang kurang pandai dan peduli.

Sekali lagi, ini murni pendapat saya loh ya. Sangat bisa menerima bantahan dari pandangan yang lain. At least, eksklusifitas dalam mengkonsumsi sesuatu nantinya akan hilang setelah produk tersebut menjadi masif, dan berstatus “segala usia”. Dan untuk merokoknya, kalau memang ingin sehat tanpa rokok, kenapa tidak berhenti saja? Ngomong-ngomong, saya juga sedang berusaha keras kok, walaupun sangat susah. Selamat mencoba. 🙂

Anang Porwoko, 23 April 2012.

Patahkan Jarum Hipodermik!

Kamis, 16 Februari 2012 yang lalu saya mengikuti proses yudisium fakultas, sebagai salah satu syarat kegiatan menuju prosesi wisuda. Pada acara tersebut terdapat salah satu bagian bernama ‘Orasi Ilmiah’, dimana menyampaikan sebuah orasi dari hasil analisa seorang dosen yang sifatnya lebih kepada motivasi kepada calon wisudawan agar lebih memfungsikan dirinya bagi masyarakat. Tema yang diangkat kali itu cukup umum, tetapi menarik. Yakni mengenai progres jurnalisme infotaintment yang semakin kesini semakin berlebihan, sekaligus menjijikkan.

Siapa yang tidak mengkonsumsi berita infotaintment hari ini? Adakah seseorang yang tidak tahu siapa itu Syahrini? Siapa kekasihnya, siapa kekasih sebelumnya, bagaimana model rambutnya, dan banyak lagi pertanyaan memuakkan yang sayangnya justru menjadi konsumsi primer bagi mayoritas masyarakat televisi di Indonesia, dan tentunya juga dari segala jenis kelamin serta tak mengenal batasan usia. Sebuah survey dari lembaga riset AC. Nielsen mengatakan bahwa Indonesia adalah negara dengan program acara infotaintment terbanyak di dunia, dan otomatis juga menjadikan acara tersebut sebagai program dengan durasi paling lama. Padahal hampir seluruh negara maju di dunia sudah menciptakan filter bagi program semacam ini, salah satunya adalah dengan tidak memberi banyak durasi untuk acara infotaintment. Biasanya, komisi penyiaran di tiap negara hanya memberi durasi paling lama lima menit, itupun sifatnya hanya sebagai intermezo, dan disisipkan pada program berita umum. Kasus yang hampir serupa dengan pergerakan rokok disini, dan di negara maju.

Infotaintment rupanya sudah berhasil memperdaya konsumen media massa dalam negeri yang mayoritas menggunakan televisi sebagai sumber informasi, dan membentuk budaya busuk yang baru. Sebut saja, menggunjing, atau menggosip, begitulah. Infotaintment hampir selalu menyajikan berita seputar kehidupan pribadi seorang publik figur, tanpa memperdulikan garis privasi objek liputannya. Apa yang dilakukan jurnalis infotaintment di Indonesia lebih seperti tugas paparazzi, yang dianggap ilegal. Sementara kode etik jurnalistik yang mereka jadikan pegangan akhirnya hanya jadi wacana.

Bagi saya pribadi, menjadi jurnalis infotaintment sama saja dengan memproduksi sesuatu yang tidak layak dikonsumsi secara massal. Tidakkah membosankan ketika hari-hari kita dihabiskan dengan mengorek kehidupan pribadi orang lain yang tidak kita kenal dengan baik? Apa pula manfaatnya bagi orang lain? Mungkin tidak terlalu bijak jika hanya menitik beratkan ‘kesalahan’ pada media dan awak jurnalisnya. Mengutip sebuah kalimat percakapan di film ‘V for Vendetta’, yakni ‘.. if you’re looking for the guilty,  you need only look into a mirror.‘ Patut disayangkan melihat pasifnya konsumen media massa (dalam hal ini televisi) dalam proses interaksi dengan sumber informasi mereka sendiri. Sampai akhirnya terbentuklah hal yang dikatakan dalam teori agenda setting, dimana hal yang sedang diangkat oleh media massa akan menjadi tren di masyarakat, bersifat populer tentu saja. Dengan begitu derasnya terpaan arus informasi tersebut, konsumen ditekan hingga tidak memiliki ruang gerak, sampai pada akhirnya tidak berdaya dan menjadi korban keganasan infotaintment. Semakin banyak orang tidak berdaya, maka kebiasaan untuk mengkonsumsi akan terbentuk, hingga taraf membudaya, dan akhirnya rating mereka meningkat. Dengan rating yang tinggi, maka pihak pemasang iklan komersial akan datang dengan sendirinya. Siapa yang diuntungkan? Media akan semakin kaya, sementara kita? Jadi abu.

Sebelum sampai pada tahap bencana tersebut, ada baiknya kita asah daya literasi terhadap media. Teori uses and gratification berpendapat bahwa kendali terhadap arus media massa ada pada konsumen. Jangan pernah lupa bahwa remote televisi ada di tangan kita. Tumbuhkanlah sikap melek terhadap media, bangunlah filtrasi yang baik. Karena dalam literasi media sendiri terdapat empat tahap kemampuan komunikan atau konsumen media, yakni kemampuan mengakses media; kemampuan analisa pesan; kemampuan evaluasi pesan; dan yang terakhir adalah tahap kemampuan memproduksi sebuah pesan baru yang berasal dari hasil kita menyerap media. Siapapun dapat melakukan keempat hal tersebut, asal diasah dengan serius, dengan niat memperbaiki pesan yang disampaikan. Feedback sebagai jawaban atas pertanyaan dan pernyataan dari media sangat dibutuhkan, buatlah komunikasi yang berkesinambungan. Meskipun tidak langsung tertuju kepada komunikator (media), setidaknya kita dapat mendistribusi pesan dari kacamata masing-masing kepada orang lain yang belum mampu mengidentifikasi pesan dari media.

Saat ini sudah tersedia berbagai sarana untuk kita menyebar pandangan dalam bentuk apapun, salah satunya social media. Ketika sampai pada proses distribusi pesan melalui social media, maka terbentuklah jaringan komunikasi virtual, yang merupakan salah satu sub-bab citizen journalism. Sekali lagi, siapapun bisa melakukannya, siapapun bisa dan berhak menjadi bagian dari citizen journalism. Setidaknya, patahkan teori jarum hipodermik. Jangan biarkan media menusuk kepala kita dengan tanpa perlawanan, karena sekali lagi, semua media massa memiliki kepentingan yang tidak sedikit. Tidak perlu mematikan televisi, cukup lakukan media literasi tadi. Semakin sempit ruang gerak mereka, maka daya kreatifitas mereka dalam membentuk persepsi masyarakat juga akan semakin terkuras. Mereka tidak akan berkembang tanpa peran kita. Stay sharp!

Anang Porwoko, 21 Februari 2012

Tagged

Esensi Warung Kopi.

Apa yang anda bayangkan mendengar kata warung kopi? Kata yang begitu familiar di telinga kita, sebagai orang Indonesia. Begitu familiar sampai-sampai sebuah grup lawak Ibukota mengambil kata tersebut sebagai nama grup mereka. Mengagumkan..

Ya, warung kopi secara umum digambarkan sebuah tempat (kuliner) yang menjadikan ‘kopi’ sebagai menu andalannya. Sementara makanan kelas ringan, sampai kelas menengah hanya menjadi menu pendukung dalam menikmati suasana. Maka tidak heran bila tiap warung kopi memiliki keunikan rasa yang berbeda. Yang akan coba saya bagi disini adalah bukan mengenai detail racikan kopi di tiap warung. Tidak juga tentang profil grup lawak yang saya sebut di paragraf sebelumnya. Tetapi lebih kepada esensi sebuah warung kopi.

Membicarakan tentang esensi, maka kita akan membahas tentang fungsi yang sebenarnya atas suatu hal. Selaras berkembangnya jaman, maka bergeserlah fungsi dan kegunaan segala hal, termasuk sebuah warung kopi. Umumnya mereka datang ke warung kopi atas dasar tujuan yang sama, minum kopi dan ‘membeli’ suasana. Sebelumnya, disini saya membedakan warung kopi menjadi dua jenis, tradisional dan modern.

Yang pertama, warung kopi tradisional. Entah persepsi dari mana, warung kopi tradisional identik dengan penggemar kopi kelas menengah. Mungkin karena lokasi, tata ruang (bahkan eksterior), harga, sampai ‘pelayan’nya yang akhirnya membentuk identitas warung non-eksekutif. Kesederhanaan itulah yang akhirnya membekali niat tulus bagi pengunjung warung kopi tradisional, yang mana tujuan mereka ‘ngopi’ adalah minum kopi dan ngobrol. Bisnis? Bisa jadi, kalau hanya sebatas bisnis kecil sampai menengah, bukan transaksi jual beli helikopter atau negosiasi pembelian mesin keruk. Bagi anda yang berminat untuk mencari teman yang sesungguhnya, saya anjurkan untuk lebih memilih warung kopi tradisional daripada yang modern. Masalah relasi bisnis, itu nomor sekian. Etika kaum elit, apalagi. Yang penting pesan segelas kopi, berbekal rokok sisa semalam, tangan kanan gorengan-tangan kiri cabe, ngobrol ngalor-ngidul panjang-lebar, maka akan terasa perbedaan antara dunia nyata dan dunia maya. Tidak ada kan aplikasi twitter yang bisa mencetak tempe menjes atau pisang goreng? Absolutely, no!

Kategori berikutnya, warung kopi modern. Kenapa modern? Hampir semuanya memilih nama tempat menggunakan bahasa asing. Begitu juga dengan desain interior, manajemen dan pemasaran layaknya perusahaan besar, metode penyajian yang ‘lebih’, sampai pengunjung Coffee Shop (ada baiknya disebut demikian) yang lebih banyak didominasi oleh kalangan high end teenager, hingga pengusaha (yang high end pula). Fasilitas yang disediakan juga bisa dibilang modern, mulai dari buku bacaan, wi-fi area yang memungkinkan akses internet tanpa batas, toilet yang dijamin bersih (meskipun belum tentu steril), dan tentunya panorama mata, turun ke hati, haha. Dengan banyaknya fasilitas tersebut, maka efek samping yang ditimbulkan adalah ‘melenceng’nya tujuan pengunjung Coffee Shop. Yang awalnya berniat untuk minum kopi, akhirnya harus direpotkan dengan dandanan yang tidak apa adanya, bertopeng make up, membebani diri dengan laptop, dan segala ketidak harusan yang terpaksa disertakan dalam kegiatan ngopi.

Mana yang lebih baik? Terserah anda. Semua tergantung tujuan, apa yang kita cari di tempat singgah favorit tersebut. Tapi sebentar, anda penikmat kopi kan? Kalau bukan, hmmm berarti saya salah orang.. 😉

Anang Porwoko, 15 Oktober 2010

Tagged

Dewasalah Aremania! Kita sudah di ambang surga!

Masyarakat Kota Malang kembali melanjutkan selebrasi kemenangan setelah di laga pamungkas Super Liga Indonesia tim Arema Indonesia berhasil mengganyang Persija Jakarta di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) pada 30 Mei 2010 lalu. Siapapun warga yang sedang berada atau berdomisili di Kota Malang sudah barang tentu ikut merasakan juga atmosfer euforia, atau malah hanyut dalam konvoi bergelombang sebagai wujud kebahagiaan Aremania akan prestasi mentereng Arema musim ini. Di berbagai sudut jalan Kota Malang hampir dipastikan selalu terpampang entah spanduk atau sekedar tulisan tentang Arema. Begitu pula dengan atribut, satu hal yang sejak beberapa waktu dianggap sebagai seragam segala aktifitas oleh sebagian besar masyarakat Kota Malang. Dan sangat wajar, mengingat perayaan gelar seperti ini telah mereka tunggu selama kurang lebih 13 tahun, pasca era Galatama.

Hampir setiap saat, sesaat setelah tim Singo Edan berhasil mengunci gelar juara di Stadion Rumbai dimana disiarkan melalui siaran radio oleh Radio Republik Indonesia Pekanbaru, kita penduduk Kota Malang selalu dihibur oleh nyanyian Aremania. Pada awalnya saya salut, sekaligus terharu mendengar nyanyian kemenangan di ruas-ruas jalan, mengalahkan suara adzan, lebih bertenaga dari auman singa sekalipun, juga lebih menyayat daripada lagu Indonesia raya, mungkin. Ya, emosi siapapun pasti sangat labil saat itu, antara menangis dan tertawa. Berkali-kali saya berbicara pada siapapun, “Saya bangga menjadi warga Malang. Saya bangga mendukung Arema!”.

Tetapi selang satu dua hari, perayaan mereka mulai mengarah pada hal yang negatif. Contoh paling kongkrit adalah ketika konvoi di banyak jalan Kota Malang. Mereka jarang menyanyikan mars-mars kemenangan Arema Indonesia, melainkan lebih banyak “misuhi” kelompok supporter lain yang memang menjadi musuh bebuyutan bagi Aremania. Yang perlu digaris bawahi adalah pada penggunaan kata-kata “misuh” tersebut, pada tempat dan situasi yang tidak selayaknya. Pertama, kita Aremania sedang merayakan keberhasilan tim Singo Edan meraih prestasi. Alangkah baiknya bila kita menyanyi dengan sopan, dengan nada dan pesan yang menimbulkan kebanggaan warga Malang lainnya tergali kembali, bukannya menebar kebencian yang akhirnya memprovokasi rekan maupun lawan. Anda salah sikon bung bila menyanyikan lagu untuk suporter yang tahun depan tim kebanggaannya terdegradasi ke divisi utama! Tidak ada alasan untuk “membalas” atau apapun istilahnya bagi Aremania, karena kita pernah (dan mungkin masih, semoga) dianggap sebagai role model suporter modern di Indonesia. Yang perlu diingat adalah ini saat untuk ber-euforia, mari berselebrasi bersama. Kedua, tidak ada satu pihak pun saat ini yang memungkiri bahwa Arema seakan menjadi agama baru bagi warga Malang Raya, dari segala jenis, usia sampai status sosial. Dari atribut, sampai istilahnya makes everything in an Arema way. Dan, dampak buruk dari nyanyian tersebut adalah semakin meningkatnya kemampuan balita seusia 4-5 tahun untuk mengenal kata “musuh” dan “misuh”. Mereka tahu apa yang dikatakan, dan kepada siapa kata-kata tersebut ditujukan oleh Aremania di jalanan. Atau mungkin memang terdapat semacam misi regenerasi bagi penerus Sandi Macan, bocah asli Malang yang beberapa waktu lalu sempat meramaikan berita di media nasional, who knows? J

Yang tidak kalah memprihatinkan adalah perilaku Aremania di jalanan. Sudahlah, tidak ada yang meragukan loyalitas kalian di panggung sepakbola nasional sebagai suporter dengan fanbase terbesar, dengan daya kreatifitas tinggi, dengan tingkah yang santun, tetapi juga tidak tinggal diam ketika diusik ketentramannya. Tetapi, siapa yang berani mengusik kalian di kandang kalian sendiri, Kota malang tercinta? Tidak ada! Tidak usahlah kiranya kita berlagak jagoan, preman, atau apalah namanya. Kita sudah diakui, maka sekarang buktikan. Jangan Cuma besar mulut saudaraku. Kalian berani melakukan justifikasi bahwa suporter tetangga adalah biang onar, tapi kenyataannya kalian juga tidak lebih baik dari kelompok tersebut. Mana bukti dari idiom “Aremania cinta damai” yang selama ini kalian dengungkan? Mana aplikasi dari slogan “Kami adalah suporter, bukan perusuh” yang banyak tertulis di atribut kalian? Mari sama-sama mengoreksi kekurangan dan memperbaiki kelebihan kita..

Satu lagi fakta yang akhirnya membuat hati saya (dan mungkin beberapa ibu-ibu yang menjadi saksi kriminalitas ala Aremania) menangis, marah, sekaligus malu menjadi bagian dari Aremania. Hari senin, tanggal 31 Mei 2010, sekitar pukul 19.00 WIB di kawasan jalan Tlogomas Malang, tepatnya di depan SPBU Tlogomas, saya yang kebetulan pulang dari kampus secara tidak sengaja berhadapan dengan rombongan konvoi Aremania (X), dengan skala yang tidak begitu besar. Dari arah berlawanan muncul seorang Aremania (Y) sedang berkendara motor sendirian. Entah apa yang terjadi, seketika seorang anggota dari massa X meneriaki Y dengan nada dan kata yang menantang. Jelas sekali terdengar saudara muda kita berucap “heh j*****! Mandeg o!” (heh, berhenti!). Dan Y yang merasa tidak bersalah pun berhenti. Walaupun tidak terdengar dialog mereka secara jelas, tetapi dari gestur tubuh Y seolah mengatakan, “Aku yo Arema sam. Ono opo?” (Aku juga Arema mas. Ada apa?), sembari menunjukkan syal kebanggaan Aremania dan t-shirt yang dikenakannya. Sejurus kemudian, yang terjadi adalah X dan seorang temannya malah melucuti atribut Y yang notabene juga seorang Aremania. Bahasa tubuh Y menunjukkan rasa ketakutan, dan mengiba kepada “saudara”nya tersebut. Setelah itu X dengan santainya pergi meninggalkan Y dipinggir jalan, dan kembali meneriakkan “AREMA!”. Siapa yang akan bertanggung jawab kepada Y, bila suatu saat hal ini juga terjadi kepada Y-Y yang lain? Tidak ada! Karena Aremania adalah raja, raja yang bengis. Setidaknya itu analogi saya saat itu. Kecewa? Sangat! Menjadi suatu ironi, ketika persahabatan diantara Aremania sendiri pada kenyataannya tidak terbukti. Dan parahnya, mayoritas massa X adalah Aremania licek, berusia setara siswa sekolah menengah. Darimana kalian mendapat “pelajaran” seperti itu? Memprihatinkan..

Yang terjadi pun akhirnya, beberapa teman dari berbagai daerah yang berdomisili di Malang malah sengaja berbelanja atribut Arema bukan karena antusiasme mereka terhadap Singo Edan belaka, melainkan juga sebagai tameng atau pelindung ketika berada di jalan raya. Karena mereka berpikir dengan atribut Arema, maka keselamatan mereka akan terjamin. Tragis bukan?

Apa sebenarnya yang menjadikan Aremania menjadi beringas, bahkan tidak memiliki empati antar sesama sekalipun? Kenapa mereka begitu sensitif terhadap rekan, bahkan saudaranya sendiri? Tidak adakah edukasi yang mereka terima sebelum “membaptiskan” diri menjadi seorang suporter yang bermartabat? Ingat sam, ini Malang. Dan Malang juga masih bagian dari pulau jawa, yang berbudaya santun dan memiliki tenggang rasa.  Dewasalah, jadilah contoh yang baik. Marilah membangun sikap saling menghormati antar sesama pengguna jalan, karena dari hal kecil semacam itulah persepsi masyarakat akan tindak negatif Aremania bisa berangsur berubah. Siapa yang akan mengembalikan citra apik Aremania kalau bukan mereka sendiri? Stay calm, stay cool, Lions. Lanjutkan selebrasi kalian..

Salam Satu Jiwa!! (Katanya..)

 

Anang Porwoko, 1 Juni 2010

Dimuat di website Ongisnade.net, tribunaremania.com

Tagged

Kita, terlalu banyak toleransi!

(Memberi terlalu banyak, kepada yang ‘sebenarnya’ mampu berbuat banyak)

Rabu, tanggal 18 November 2009 kemarin, saya bergegas menuju ke rumah setelah meninggalkan kampus, dengan alasan petandingan kualifikasi pra-piala Asia antara Timnas Indonesia melawan Kuwait disiarkan secara langsung oleh salah satu stasiun televisi swasta. Di pertandingan yang krusial tersebut Tim Merah-Putih bermain apik, dan layak disebut tim Nasional, meskipun dalam skala Asia. Dan hasilnya, pasukan garuda senior mampu unggul 1-0 di penghujung babak pertama. Betapa bangganya saya menyaksikan laga pada babak pertama tersebut, dimana akhirnya optimisme membekali hati saya melanjutkan pertunjukan di babak selanjutnya. Babak kedua baru dimulai sekitar 7 menit, kekecewaan saya muncul lagi. Apa pasal? Permainan “tradisional” khas liga Indonesia malah menjadi suguhan pamungkas mereka. Permainan keras menjurus kasar, protes disertai tindakan fisik, dan segala kebodohan sepakbola Indonesia justru diterapkan di saat-saat genting seperti itu. Alhasil, Timnas Indonesia bermain hanya dengan 10 orang keras kepala dan dungu, yang akhirnya menggagalkan euforia Indonesia karena mereka kebobolan di sisa waktu tersebut. Gagal sudah mimpi saya malam itu untuk mengacungkan jempol kepada punggawa-punggawa “andalan” masyarakat di dunia sepakbola Indonesia. Kecewa? Jelas saya sangat kecewa!

Dalam hati saya berpikir, “Apa yang ada di kepala mereka sewaktu melakukan tindakan bodoh dan tidak perlu tersebut? Sadarkah mereka betapa pentingnya pertandingan tersebut? Atau yang lebih mulia, apakah mereka tidak ingin merubah citra buruk sepakbola Negerinya sendiri?”. Kembali saya pikirkan dan akhirnya saya berkesimpulan bahwa mereka terlalu nyaman bermain dengan iklim sepakbola Indonesia. Iklim yang mengutamakan otot daripada otak, mengesampingkan sikap profesional, urakan, dan segala “kehebatan” pemain lokal. Memang, bila bermain di level nasional sikap-sikap tersebut masih dan mungkin sangat bisa diterima, tetapi untuk tingkat Internasional? Jangan harap! Pemimpin pertandingan tidak segan-segan mengeluarkan mereka, bahkan pelatih sampai anak-cucunya keluar lapangan bila perilaku mereka dirasa tidak sesuai dengan kitab FIFA (federasi sepakbola seluruh dunia). Belangnya sudah barang tentu ada pada sikap kita sendiri, menyama-ratakan peraturan Indonesia dan Internasional. Bagi mereka (sebut saja, orang barat) peraturan sangat perlu untuk dipatuhi, dan itu mutlak, karena mereka sadar bahwa peraturan dibuat agar semua berjalan dengan baik, paling tidak untuk membatasi gerakan-gerakan ilegal dari para manusia bengal dan buta aturan. Kitapun sebenarnya juga memiliki banyak aturan, tidak hanya di dunia sepakbola, melainkan di segala bidang. Malah mungkin lebih banyak aturan kita (baik yang masuk akal maupun tidak sama sekali) daripada di lingkungan orang barat, karena kita mengenal adanya Norma di kehidupan sosial bermasyarakat. Lalu kenapa sepertinya susah sekali mengendalikan manusia-manusia lokal? Brutal? Terlalu keras kepala? Tidak juga, lalu?

Pikirkan apa yang akhirnya membuat masyarakat kita begitu menganggap remeh peraturan yang berlaku, apapun itu. Karena sang pembuat undang-undang terlalu banyak memaklumi tindakan yang dianggap salah. Ya, kita terlalu banyak bertoleransi, bahkan pada hal yang seharusnya tidak bisa ditoleransi. Salah pengertian pada waktu pelajaran PPKN, bisa jadi itu salah satu penyebabnya (hahaha). Terlalu banyak memberi ruang pada kesalahan orang lain, dengan alasan “memberi” kesempatan mereka untuk berbuat lebih baik. Minimnya ketegasan dalam mengambil keputusan, terkesan membiarkan “si penjahat” untuk berkreasi lebih jauh, dan dari situ banyak orang yang lebih “pintar” akhirnya melihat celah untuk lepas dari kesalahan dan hukuman. Kalimat yang biasa digunakan adalah, “ah, gini aja dipermasalahkan!” atau “biarkan saja. Nanti juga dia sadar..” . Sangat sepele, untuk hal kecil. Tapi untuk hal yang lebih penting, apalagi ada hubungannya dengan citra kita di mata internasional, itu hal yang membuat kita memang pantas ditertawakan oleh kaum barat. Karena kita minim akan kesadaran. Kesadaran berperilaku, kesadaran akan orang lain. Tidak heran kalau banyak orang asing yang berusaha berbuat onar di Negara Indonesia, karena mereka sudah mempelajari bagaimana sikap kita. Oh ya, jangan pernah menyangkutkan masalah toleransi dengan budaya, karena sebenarnya tidak ada kaitannya. Setahu saya orang memberi toleransi karena budaya yang tercipta sebelumnya “memaksa” orang untuk berbuat maklum, dan akhirnya mereka tidak mampu menghasilkan sesuatu yang maksimal. Bayangkan saja apa yang terjadi bila semua orang bersikap penuh toleransi. Akan banyak sekali perjanjian yang gagal, perilaku yang tidak disiplin, kebohongan di masyarakat, kejahatan merajalela, ketidak adilan dan banyak lagi “efek samping” buruk lainnya.

Lalu apakah toleransi adalah sesuatu hal yang salah? Tidak, karena kita memang “diharuskan” hidup dan berperilaku baik secara sosial (karena bila tidak, bisa-bisa kita dianggap sebagai makhluk anti-sosial di Indonesia), asalkan digunakan untuk momen yang sangat tepat dan porsi yang sesuai, tidak berlebihan. Karena dengan tidak sesuainya penggunaan hal tersebut, maka secara tidak langsung kita membuat orang lain untuk bermalas-malasan, dan meremehkan segala hal yang akan mereka lakukan. Bagaimana yang dimaksud sebagai toleransi yang sesuai? Terserah anda yang memberi sikap tersebut, kalau menurut anda memang sangat pantas untuk diberi, silahkan. Tetapi pikirkan dulu bagaimana karakter orang tersebut, dan bayangkan apa yang akan terjadi bila anda memberi ruang padanya. Semoga tercipta sebuah kehidupan yang sportif, lebih mengutamakan perjuangan, daripada mengharap uluran tangan orang lain. Do it, for yourself, by yourself!

Anang Porwoko, 23 November 2009

Tagged

Sebuah Persembahan Kepada Indonesia Dengan Cara Kita.

Baru saja saya menyaksikan sebuah interview singkat kepada band Superman Is Dead, oleh sebuah acara bernama “Showbiz” di salah satu stasiun televisi swasta. Sang juru bicara, Jerinx (drummer SID)  bercerita banyak seputar perjalanan mereka di Vans Warped Tour, sebuah konser musim panas yang diselenggarakan secara kontinyu setiap tahunnya di Amerika.  Secara garis besar Jerinx mengungkapkan bahwa show mereka disana berjalan “sukses” dan tidak seperti dugaan mereka sebelumnya. Dilihat dari CD (compact disc) album terbaru mereka yang habis terjual, kemudian banyaknya komentar positif dari para penikmat musik di Amerika yang dikenal tidak mengenal istilah “sungkan”, dan yang membuat saya cukup terkejut adalah mereka memiliki 11 kota di show schedule mereka! Mengherankan buat saya, karena rata-rata band yang mengikuti parade tersebut, apalagi sekelas SID yang baru kali pertama menembus Vans Warped Tour biasanya hanya memiliki 3 kota untuk show-nya. Tetapi tidak dengan SID yang merupakan satu-satunya delegasi Indonesia, dan satu-satunya wakil dari Asia! Hebat bukan?

Beberapa waktu lalu juga sempat saya baca sebuah tulisan perjalanan band Burgerkill di beberapa media cetak dan Internet, yang ditulis oleh sang gitaris, Agung kalau tidak salah. Beliau bercerita mengenai perjalanan tour Burgerkill di Australia, secara lengkap dan terkesan apa adanya. Mulai dari persiapan keberangkatan, sepanjang perjalanan, perasaan mereka ketika tiba di Australia, mahalnya studio latihan, hingga bagaimana sikap panitia acara terhadap artis. Semuanya diceritakan dengan gamblang. Bagi anda yang membacanya sudah pasti memiliki kebanggaan tersendiri telah menjadi bagian dari Indonesia, khususnya penikmat maupun pelaku dunia musik bawah tanah. Banyak lagi cerita yang saya baca ataupun saya lihat mengenai kehebatan band-band “Kita” di ranah internasional, seperti Shaggydog yang pernah show di Negara kincir angin Belanda dengan ratusan, atau bahkan ribuan penonton bergoyang, dengan sound berhias bendera merah putih. Kemudian band Noxa yang sempat manggung di Finlandia, di sebuah metal show akbar di Eropa. Tetapi yang kemudian terbesit di benak saya ketika membaca cerita-cerita tersebut adalah bagaimana pandangan pemerintah dan anak buahnya ketika mengetahui hal tersebut. Apa perasaan yang mereka rasakan? Bagaimana label-label industri musik di Indonesia memandang hal tersebut? Dan beberapa saat kemudian pikiran saya menjawab, “NIHIL”!!

Di akhir wawancara Jerinx mengatakan keinginannya yang saya setujui bila itu adalah doa kaum Independen, yakni “Semoga SID mampu menampar industri musik Indonesia, menyadarkan mereka agar lebih jeli memilih band. Indonesia banyak memiliki band bagus, band yang tidak seragam. Tetapi wadah dan penikmatnya yang kurang apresiatif”. Dalam hati saya berpikir, kenapa kita juga masih disini-sini saja? Bila mereka saja bisa, kenapa tidak dengan kita? Tetapi kembali lagi kepada segmen penikmat musik di Indonesia yang masih bodoh dengan band menye-menye nya. Perlu kita akui bahwa semuanya terserah pendengar dan pihak-pihak yang bertanggung jawab dengan menjamurnya band-band Allahualam tersebut. Tapi bukan berarti menutup jalan kita untuk berkreasi kan?

Mengapa saya bisa mengatakan jalan kita sengaja ditutup oleh mereka? Banyak fakta yang membuktikan bahwa mereka (orang-orang yang harus bertanggung jawab) secara sengaja membatasi pergerakan kita sebagai pelaku musik Independen di Indonesia. Contoh kecilnya adalah penghentian acara musik jalanan yang rutin diadakan setiap akhir pekan di bulan puasa oleh sebuah studio musik ternama di Kota Malang. Padahal acara tersebut ber-embel-embel amal, dan saya yakin tidak mengganggu ribuan orang yang berlalu-lalang menunggu waktu berbuka puasa di sekitaran jalan Sukarno-Hatta Malang. Entah apa yang ada di pikiran mereka, intinya acara live music tetap tidak bisa dilaksanakan. Bisa diadakan dengan syarat pertunjukkan digelar dengan format akustik, alias tanpa distorsi! Tidak masalah bila beberapa menganggap sebagai tantangan dalam berkreasi, tetapi tetap saja tidak sesuai kaidah musik bagi sebagian besar band artisnya. Belum lagi cerita-cerita mengenai rumitnya mengadakan sebuah acara underground yang biasanya dipersulit dibagian birokrasi penyewaan venue, atau perizinan keamanan. Semuanya bagaikan subsistem yang disebar oleh orang yang tidak menginginkan musik ini berkembang.

Apa yang sebenarnya kita lakukan? Mengganggu mereka? Tidak kan. Justru bila mereka jeli dalam memanfaatkan situasi hal ini dapat menjadi komoditas yang luar biasa menguntungkan, mengingat underground tengah menjadi tren saat sekarang. Tetapi memang perbedaan budaya disini yang menjadi akar permasalahannya. Bagi kita yang mampu hidup di dunia seperti ini, kita mampu menikmatinya. Bagi mereka yang tidak, ya monggo cari hiburan yang lain sesuai selera masing-masing. Akan tetapi kembali kepada masalah tujuan masing-masing pihak, jangan menutup jalan orang lain untuk berkembang. Apalagi yang ditutup adalah calon orang-orang yang mampu membangkitkan gairah dan selera musik Indonesia.

Negara ini memang bukan ‘pasar’ yang ideal bagi kita, jadi apa yang dilakukan band-band di atas adalah salah satu alternatif jalan yang bisa kita pilih. Tidak perlu bingung bagaimana untuk memulainya. Jaman sekarang fasilitas sudah terpenuhi dengan adanya teknologi yang disebut internet. Sudah banyak cara-cara dari mereka yang lebih dahulu mampu menembus panggung internasional, belajarlah dari situ. Carilah koneksi sebanyak-banyaknya, entah teman, band, atau bahkan label-label luar negeri. Tidak perlu malu atau minder, band sekelas Underoath saat ini juga ternyata memiliki mini album yang secara kualitas rekaman dan materi lagu yang tidak seberapa dulunya. Tergantung usaha kita, bagaimana mencari keuntungan dari pihak label atau lainnya, bukankah orang Indonesia seperti kita dikenal cerdik dalam urusan menjalin hubungan? Hahahaa. Yakinkan mereka bahwa band kalian bagus, lebih bagus dari band Amerika. Masalah biaya, tidak akan terasa berat jika kita memang sudah niat dari awal ingin melakukan gebrakan tersebut. Intinya yakin dengan apa yang kita lakukan maka semua akan terlihat lebih baik. Dan dari keyakinan tersebut akan tercipta sebuah energi tambahan untuk berusaha semaksimal mungkin. Mari bersama-sama belajar untuk menjadi lebih baik, melompat melewati step-step yang seharusnya dilakukan orang pada umumnya, karena kita berbeda! Kita lebih baik.

Anang Porwoko, 24 Agustus 2009