Category Archives: Uncategorized

Sebuah pelayaran yang agung

Kali ini sudah dua jam lewat tengah malam. Mendadak aku dikejutkan oleh tangis seorang perempuan, tepatnya seorang Ibu. Ia menangis histeris, dan perlahan mulai mereda tersedu-sedu. Rupanya, ia sedang meratapi hilangnya keyakinan anak yang dikasihinya, yang ia cinta tanpa berharap pamrih.

Ia tampak begitu terpukul. Keyakinan yang ditanamkannya sejak sang anak masih belum mampu bicara, bahkan belum dapat membuahkan pikiran sehat, kini terpaksa sirna. Hilang diterpa badai ilmu pengetahuan, yang tentu terpisahkan jarak berupa jaman. Sang Ibu dilanda kebimbangan, kalut atas kenyataan yang sulit dicerna, sekaligus barang tentu agak mustahil dibantahnya.

Kegagalan sedang memenuhi kepalanya saat ini, meski sang anak justru merasa Ibunya sudah mencapai keberhasilan tertinggi manusia, pada suatu bagian. Tak bisa tidak, pertentangan pemikiran keduanya tak bermuara, dan semakin menjauhkan makna akan kehidupan masing-masing.

Sang anak yang tak lagi bocah sadar betul, keputusannya untuk kembali bersikap jujur akan berdampak prahara. Batinnya pun tak kalah tersiksa, antara enggan membohongi perempuan yang bertaruh nyawa demi kelahirannya, atau sebaliknya. Ia belum lagi mampu mengusap air mata sang Ibu.

Kini kedua manusia sedarah itu tak hanya dipisahkan lautan membentang. Namun juga samudra realita, yang juga diarungi seribu harap dan doa. Di tengah perahu yang ditumpanginya, sang Ibu terus memohon pada sang pencipta. Memohon agar kapal yang dinahkodai anaknya tak karam, dan lekas merapat ke darat. Di daratan manapun yang dikehendaki buah hatinya.

Gurat senyum mulai melengkung di bibir perempuan itu, karena ia mulai tahu, ia tengah berada dalam sebuah pelayaran yang agung..

Palu Peretas

Berpikir membutuhkan keberanian.
Keberanian yang melampaui kemampuan fisik.
Keberanian untuk menembus sekat dan jaman,
mempertanyakan pengetahuan,
menggulingkan dogma yang membalut tiran,
mendobrak keyakinan yang selama ini dibenarkan,
menggali harta bawah sadar untuk sebuah pertimbangan.

Entah bagaimana mewujudkan keberanian itu.
Betapa malas manusia yang membatasi pikirannya.
Memberi batasan waktu,
memangkas aliran darah,
dengan getah nilai semu yang melemahkan sendi punggung,
dan kaki, dan sekujur tubuh!

Sedikit yang aku tahu, masa muda adalah masa peralihan menuju masa berpikir.
Tak ada cara lain, selain membawa bekal sebanyak mungkin.
Makanlah pengetahuan sekenyang mungkin,
berlarilah ke segala arah, sejauh-jauhnya,
sampai kau kembali pada titik kelahiranmu,
yakni kematian baru.

Sampai pada saat yang dikehendaki, aku akan terlibat pergumulan sengit denganku sendiri.
Perdebatan alot,
dialog tengah malam,
tarik-tambang antara dua kesimpulan,
dalam perang menuju makna.
Hal ini harusnya juga berlaku bagi kau, kau, kau, dan juga kau.

Aku merasa cukup sadar dengan duniaku, meski kerap aku sendiri meragukannya.
Dunia yang enggan ditemani sepi,
yang tak mau menggigil,
menolak terik mentari,
memunggungi kenyataan bahwa sejumlah anugrah hanyalah kebetulan.
Atau bahkan ceceran sampah ilusi,
dari mimpi-mimpi yang menenangkan.

Suatu saat akan ada bisikan, yang bisa dengan gegabah kau sembah.
Jawaban atas pertanyaan,
kunci menuju pintu perjalanan,
di mana kau akan temukan bercak-bercak darah, menuju persimpangan yang tak kalah mengerikan.
Di antara gelap gulita, kau akan membutuhkan pelita.
Dan kau, dan siapapun, telah memilikinya.
Maka, maukah kau menemani dirimu sendiri?