A Celebration of Friendship, Reuni Hura-Hura di Tengah Konser Musik Kejar Profit

Beberapa waktu belakangan memang saya mulai dibuat muak oleh pertanyaan dan pernyataan yang berhubungan dengan kultur underground, kultur tandingan, cutting edge, atau apalah itu sekarang disebutnya. Rasa pesimis tersebut semakin kuat dengan kian bodoh dan kegilaan akan citra sebagian besar penggerak mesin pemberontakan, yang saya yakin bakal jadi warisan bagi para underbow-nya. Tapi mendadak saya rindu datang ke konser musik, yang tidak menye. Oke, tidak menye.

Hanya berbekal publikasi via situs micro-blogging Twitter, even bertajuk “A Celebration of Friendship” secara cukup mendadak mengubah agenda ngopi saya menjadi acara mabuk sambil nonton band. Durasinya terbatas, start jam enam sore kurang lebih dan hanya empat band plus satu band tamu tak diundang, yang kebetulan sedang singgah di Malang. Selasa, 2 Oktober 2012, sekitar jam enam sore, warung bir yang melegalkan pengunjungnya menyelundupkan alkohol, dan acara pun dimulai dalam keadaan cukup mabuk..

Dibuka oleh sang pembawa acara, yang tak lain adalah Oneding, rekan saya, mantan hippies yang malam itu banyak saya kritik hahahaha sori yo Ding. Oke, diulang. Dibuka oleh sang pembawa acara, yang tak lain adalah Oneding, band penampil pertama adalah, “Tamu Tak Diundang, Yang Kebetulan Singgah di Malang” yang sebenernya cukup panjang untuk nama sebuah band. Berbekal musik pop-punk-2007-an dari ranah Borneo, mereka gagal mengalihkan fokus saya ke panggung. Alhasil obrolan sesama rekan dan bir pun masih jadi hal favorit pengunjung. Anggap saja welcome party yang gagal.

Setelahnya, band resmi pertama di acara bertema perayaan pertemanan tersebut diperankan oleh Stand In, band hardcore dalam kota yang saya baru tahu kalo pemain drumnya adalah mas dengan inisial IK. Belum kenal musiknya, apalagi liriknya, tapi adrenalin saya berhasil mereka tingkatkan beberapa inci. Cukup keren sam, selanjutnya bisa masuk daftar download kalo sedang kelebihan bandwidth.

Yang kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab. Band hardcore satu lagi yang berasal dari lain penjuru kota Malang, Difficult and Hard. Dan saya baru tahu, kalo band ini ternyata punya temen baru saya. Woaa, dan baru tahu juga dia kalo maen ternyata nggak pake alas kaki. Jos. Menurut pencermatan orang yang sedang mabuk, musik band-nya temen saya ini kurang lebih menyerupai Hatebreed. Kadar metalnya cukup banyak, liriknya belum tahu, tapi dulu pernah baca. Cuma bentuk kebencian mereka sama satu kaum tertentu. Bintang dua saja ya mas-mas.

Kids Next Door atau biasa dirangkum jadi kaende ini band math-core, atau chaotic, begitulah, yang cukup dinanti sebagian pengunjung-penonton malam itu, yang mayoritas memang saling kenal. Band ini punya pemain bass yang aksi panggungnya atraktif, dan benar saja. Membawakan beberapa lagu yang saya ingat di antaranya berjudul “Bang! You’re Dead” (lagu untuk BamBang hahaha sori mas) dan “Bleeding Balerina”, selain sing along, si pemain bass yang namanya enggan disebut ini tampil edan berdarah-darah, katanya. Karena sebenarnya waktu kaende maen, saya sudah sangat kesulitan duduk, dan akhirnya memilih tidur, merem, sambil mendengarkan kaende tampil. Mendengarkan saja, tanpa menonton.

Dan grup musik yang sayangnya harus jadi yang terakhir malam itu adalah, band hardcore-metal yang menurut saya oke punya, Screaming Factor. Berhubung band ini jarang manggung, saya berusaha sekuat tenaga untuk duduk, kemudian berdiri, mulai ikut nyanyi, masuk moshpit, dan silahkan berimajinasi tentang kesempurnaan acara bertema persahabatan. Sebenernya lebih seperti acara reuni, temu kangen beberapa mas-mas dan mbak-mbak hardcore punk, yang mungkin lama tak bersua akibat tuntutan kehidupan dunia lapis kedua, hehehe. Dan masalah performa Screaming Factor malam itu, ya seperti biasa. Super bagus, menyenangkan dan menyehatkan. Closing yang memorable, karena puluhan penonton gagal encore, dalam kondisi kelelahan dengan dua meja dalam keadaan patah. 2 milyar jempol untuk penyelenggara, top.

Seketika rombongan penerbang panggung dan peselancar crowd kembali menuju meja masing-masing, menghabiskan sisa minuman, kemudian meninggalkan venue, atau warung, untuk menuju spot ngopi favorit, Moskow..

(Sesampainya di Moskow sebagian dari kami akhirnya kembali memutuskan untuk mabuk kembali, sambil saya belajar perbandingan antara kondisi scene lokal dari masa ke masa, dengan saya mewakili generasi kreatif kekinian, yang goblok, memuakkan, mesum dan populer tanpa perubahan. Seperti biasa, perbincangan hanya menghasilkan wacana tanpa solusi, apalagi gerakan. Dan berserulah, “kami adalah konsumenmu wahai underground.”)

Anang Porwoko, 9 Oktober 2012, beberapa bulan sebelum kiamat. ((x

Nggak punya foto dokumentasi acara karena tak punya kamera.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: