Arema Indonesia Juara

This is us, the real champion: Arema Indonesia!

Happy ending! Ya, Arema berhasil membuktikan kapasitas mereka kepada seluruh masyarakat Indonesia, khususnya Direktur teknik tim Persija yang dulu pernah menangani Arema, Benny Dollo. Sebagai sosok yang pernah mengkritik keberhasilan Arema Indonesia sebagai juara paruh musim, sepatutnya Bendol kecewa, dan tentunya malu. Di pertandingan penutup antara Arema Indonesia melawan tim besutannya Persija Jakarta di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan Jakarta, Arema melumat sang tuan rumah dengan skor yang fantastis, 1-5. Kelima gol yang dicetak oleh Roman Chmelo (2), Noh “Super Along” Alam Shah, Pierre Njanka, dan Esteban Guillen tersebut berhasil membungkam “mulut besar” Bendol.

Di pertandingan yang juga dihadiri pelatih tim nasional Indonesia, Alfred Riedl tersebut, Arema mampu memperagakan permainan kolektif, efektif dan efisien, sebagaimana pertandingan-pertandingan sebelumnya. Tanpa beban, tetapi juga “nothing to lose”. Tim Persija juga bukannya “menyerah”, karena adu gengsi kedua kubu sangat besar yang memaksa Macan Kemayoran bermain ofensif sejak awal pertandingan. Sampai akhirnya peluit panjang berbunyi, ketika Aremania berhamburan memasuki rumput hijau Stadion GBK, maka meledaklah tangis kecewa Benny Dollo (harusnya). Semua argumen Bendol tidak terbukti, fakta membuktikan Arema pantas menjadi juara superliga Indonesia. Semua menjadi kontradiktif, dan seluruh penduduk Indonesia dibuat percaya akan kualitas Arema di atas lapangan. Konsistensi Arema selama musim kompetisi 2009/2010 memang patut diacungi jempol. Bagaimana tidak, sebagai tim dengan pertahanan terkuat, dengan variatifnya pencetak gol kemenangan Arema di setiap pertandingan, dengan rekor pertandingan tandang yang baik, maka pantaslah Piala Presiden jika berlabuh di Kota Malang. Belum lagi komentar Nurdin Halid yang mengatakan bahwa Arema dan Persib adalah klub yang patut menjadi percontohan dalam hal manajemen tim, sempurnalah tim kebanggaan warga kota Malang dengan prestasi tersebut.

Indikasi kemenangan Arema sudah tercium sebelum pertandingan, begitu juga sesaat sebelum kick-off, pelatih Mr. Robert Albert yang mengatakan kepada media, “winning is our habit. So we must play as a champion..” dan terbukti di pertandingan tersebut Persija begitu kewalahan menahan gempuran Singo edan, dan mati kutu menembus barikade pertahanan Arema. Saking hebatnya, komentator yang mendampingi jalannya pertandingan sampai-sampai kehabisan kata-kata untuk melukiskan permainan luar biasa tim Singo edan. Dan pesta itupun akhirnya harus terjadi bukan di kandang Singo edan, melainkan di kandang Macan kemayoran, di depan pendukung Persija, di stadion yang menjadi kebanggan masyarakat Indonesia, Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.

Dan akhirnya, mengutip kalimat salah satu spanduk Aremania di hadapan Bendol yang betuliskan “MAAF, KAMI JUARANYA!”. Euforia pun berlanjut..

Anang Porwoko, 31 Mei 2010

Dimuat di website Ongisnade.net, tribunaremania.com

Advertisements
Tagged

Dewasalah Aremania! Kita sudah di ambang surga!

Masyarakat Kota Malang kembali melanjutkan selebrasi kemenangan setelah di laga pamungkas Super Liga Indonesia tim Arema Indonesia berhasil mengganyang Persija Jakarta di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) pada 30 Mei 2010 lalu. Siapapun warga yang sedang berada atau berdomisili di Kota Malang sudah barang tentu ikut merasakan juga atmosfer euforia, atau malah hanyut dalam konvoi bergelombang sebagai wujud kebahagiaan Aremania akan prestasi mentereng Arema musim ini. Di berbagai sudut jalan Kota Malang hampir dipastikan selalu terpampang entah spanduk atau sekedar tulisan tentang Arema. Begitu pula dengan atribut, satu hal yang sejak beberapa waktu dianggap sebagai seragam segala aktifitas oleh sebagian besar masyarakat Kota Malang. Dan sangat wajar, mengingat perayaan gelar seperti ini telah mereka tunggu selama kurang lebih 13 tahun, pasca era Galatama.

Hampir setiap saat, sesaat setelah tim Singo Edan berhasil mengunci gelar juara di Stadion Rumbai dimana disiarkan melalui siaran radio oleh Radio Republik Indonesia Pekanbaru, kita penduduk Kota Malang selalu dihibur oleh nyanyian Aremania. Pada awalnya saya salut, sekaligus terharu mendengar nyanyian kemenangan di ruas-ruas jalan, mengalahkan suara adzan, lebih bertenaga dari auman singa sekalipun, juga lebih menyayat daripada lagu Indonesia raya, mungkin. Ya, emosi siapapun pasti sangat labil saat itu, antara menangis dan tertawa. Berkali-kali saya berbicara pada siapapun, “Saya bangga menjadi warga Malang. Saya bangga mendukung Arema!”.

Tetapi selang satu dua hari, perayaan mereka mulai mengarah pada hal yang negatif. Contoh paling kongkrit adalah ketika konvoi di banyak jalan Kota Malang. Mereka jarang menyanyikan mars-mars kemenangan Arema Indonesia, melainkan lebih banyak “misuhi” kelompok supporter lain yang memang menjadi musuh bebuyutan bagi Aremania. Yang perlu digaris bawahi adalah pada penggunaan kata-kata “misuh” tersebut, pada tempat dan situasi yang tidak selayaknya. Pertama, kita Aremania sedang merayakan keberhasilan tim Singo Edan meraih prestasi. Alangkah baiknya bila kita menyanyi dengan sopan, dengan nada dan pesan yang menimbulkan kebanggaan warga Malang lainnya tergali kembali, bukannya menebar kebencian yang akhirnya memprovokasi rekan maupun lawan. Anda salah sikon bung bila menyanyikan lagu untuk suporter yang tahun depan tim kebanggaannya terdegradasi ke divisi utama! Tidak ada alasan untuk “membalas” atau apapun istilahnya bagi Aremania, karena kita pernah (dan mungkin masih, semoga) dianggap sebagai role model suporter modern di Indonesia. Yang perlu diingat adalah ini saat untuk ber-euforia, mari berselebrasi bersama. Kedua, tidak ada satu pihak pun saat ini yang memungkiri bahwa Arema seakan menjadi agama baru bagi warga Malang Raya, dari segala jenis, usia sampai status sosial. Dari atribut, sampai istilahnya makes everything in an Arema way. Dan, dampak buruk dari nyanyian tersebut adalah semakin meningkatnya kemampuan balita seusia 4-5 tahun untuk mengenal kata “musuh” dan “misuh”. Mereka tahu apa yang dikatakan, dan kepada siapa kata-kata tersebut ditujukan oleh Aremania di jalanan. Atau mungkin memang terdapat semacam misi regenerasi bagi penerus Sandi Macan, bocah asli Malang yang beberapa waktu lalu sempat meramaikan berita di media nasional, who knows? J

Yang tidak kalah memprihatinkan adalah perilaku Aremania di jalanan. Sudahlah, tidak ada yang meragukan loyalitas kalian di panggung sepakbola nasional sebagai suporter dengan fanbase terbesar, dengan daya kreatifitas tinggi, dengan tingkah yang santun, tetapi juga tidak tinggal diam ketika diusik ketentramannya. Tetapi, siapa yang berani mengusik kalian di kandang kalian sendiri, Kota malang tercinta? Tidak ada! Tidak usahlah kiranya kita berlagak jagoan, preman, atau apalah namanya. Kita sudah diakui, maka sekarang buktikan. Jangan Cuma besar mulut saudaraku. Kalian berani melakukan justifikasi bahwa suporter tetangga adalah biang onar, tapi kenyataannya kalian juga tidak lebih baik dari kelompok tersebut. Mana bukti dari idiom “Aremania cinta damai” yang selama ini kalian dengungkan? Mana aplikasi dari slogan “Kami adalah suporter, bukan perusuh” yang banyak tertulis di atribut kalian? Mari sama-sama mengoreksi kekurangan dan memperbaiki kelebihan kita..

Satu lagi fakta yang akhirnya membuat hati saya (dan mungkin beberapa ibu-ibu yang menjadi saksi kriminalitas ala Aremania) menangis, marah, sekaligus malu menjadi bagian dari Aremania. Hari senin, tanggal 31 Mei 2010, sekitar pukul 19.00 WIB di kawasan jalan Tlogomas Malang, tepatnya di depan SPBU Tlogomas, saya yang kebetulan pulang dari kampus secara tidak sengaja berhadapan dengan rombongan konvoi Aremania (X), dengan skala yang tidak begitu besar. Dari arah berlawanan muncul seorang Aremania (Y) sedang berkendara motor sendirian. Entah apa yang terjadi, seketika seorang anggota dari massa X meneriaki Y dengan nada dan kata yang menantang. Jelas sekali terdengar saudara muda kita berucap “heh j*****! Mandeg o!” (heh, berhenti!). Dan Y yang merasa tidak bersalah pun berhenti. Walaupun tidak terdengar dialog mereka secara jelas, tetapi dari gestur tubuh Y seolah mengatakan, “Aku yo Arema sam. Ono opo?” (Aku juga Arema mas. Ada apa?), sembari menunjukkan syal kebanggaan Aremania dan t-shirt yang dikenakannya. Sejurus kemudian, yang terjadi adalah X dan seorang temannya malah melucuti atribut Y yang notabene juga seorang Aremania. Bahasa tubuh Y menunjukkan rasa ketakutan, dan mengiba kepada “saudara”nya tersebut. Setelah itu X dengan santainya pergi meninggalkan Y dipinggir jalan, dan kembali meneriakkan “AREMA!”. Siapa yang akan bertanggung jawab kepada Y, bila suatu saat hal ini juga terjadi kepada Y-Y yang lain? Tidak ada! Karena Aremania adalah raja, raja yang bengis. Setidaknya itu analogi saya saat itu. Kecewa? Sangat! Menjadi suatu ironi, ketika persahabatan diantara Aremania sendiri pada kenyataannya tidak terbukti. Dan parahnya, mayoritas massa X adalah Aremania licek, berusia setara siswa sekolah menengah. Darimana kalian mendapat “pelajaran” seperti itu? Memprihatinkan..

Yang terjadi pun akhirnya, beberapa teman dari berbagai daerah yang berdomisili di Malang malah sengaja berbelanja atribut Arema bukan karena antusiasme mereka terhadap Singo Edan belaka, melainkan juga sebagai tameng atau pelindung ketika berada di jalan raya. Karena mereka berpikir dengan atribut Arema, maka keselamatan mereka akan terjamin. Tragis bukan?

Apa sebenarnya yang menjadikan Aremania menjadi beringas, bahkan tidak memiliki empati antar sesama sekalipun? Kenapa mereka begitu sensitif terhadap rekan, bahkan saudaranya sendiri? Tidak adakah edukasi yang mereka terima sebelum “membaptiskan” diri menjadi seorang suporter yang bermartabat? Ingat sam, ini Malang. Dan Malang juga masih bagian dari pulau jawa, yang berbudaya santun dan memiliki tenggang rasa.  Dewasalah, jadilah contoh yang baik. Marilah membangun sikap saling menghormati antar sesama pengguna jalan, karena dari hal kecil semacam itulah persepsi masyarakat akan tindak negatif Aremania bisa berangsur berubah. Siapa yang akan mengembalikan citra apik Aremania kalau bukan mereka sendiri? Stay calm, stay cool, Lions. Lanjutkan selebrasi kalian..

Salam Satu Jiwa!! (Katanya..)

 

Anang Porwoko, 1 Juni 2010

Dimuat di website Ongisnade.net, tribunaremania.com

Tagged

Kita, terlalu banyak toleransi!

(Memberi terlalu banyak, kepada yang ‘sebenarnya’ mampu berbuat banyak)

Rabu, tanggal 18 November 2009 kemarin, saya bergegas menuju ke rumah setelah meninggalkan kampus, dengan alasan petandingan kualifikasi pra-piala Asia antara Timnas Indonesia melawan Kuwait disiarkan secara langsung oleh salah satu stasiun televisi swasta. Di pertandingan yang krusial tersebut Tim Merah-Putih bermain apik, dan layak disebut tim Nasional, meskipun dalam skala Asia. Dan hasilnya, pasukan garuda senior mampu unggul 1-0 di penghujung babak pertama. Betapa bangganya saya menyaksikan laga pada babak pertama tersebut, dimana akhirnya optimisme membekali hati saya melanjutkan pertunjukan di babak selanjutnya. Babak kedua baru dimulai sekitar 7 menit, kekecewaan saya muncul lagi. Apa pasal? Permainan “tradisional” khas liga Indonesia malah menjadi suguhan pamungkas mereka. Permainan keras menjurus kasar, protes disertai tindakan fisik, dan segala kebodohan sepakbola Indonesia justru diterapkan di saat-saat genting seperti itu. Alhasil, Timnas Indonesia bermain hanya dengan 10 orang keras kepala dan dungu, yang akhirnya menggagalkan euforia Indonesia karena mereka kebobolan di sisa waktu tersebut. Gagal sudah mimpi saya malam itu untuk mengacungkan jempol kepada punggawa-punggawa “andalan” masyarakat di dunia sepakbola Indonesia. Kecewa? Jelas saya sangat kecewa!

Dalam hati saya berpikir, “Apa yang ada di kepala mereka sewaktu melakukan tindakan bodoh dan tidak perlu tersebut? Sadarkah mereka betapa pentingnya pertandingan tersebut? Atau yang lebih mulia, apakah mereka tidak ingin merubah citra buruk sepakbola Negerinya sendiri?”. Kembali saya pikirkan dan akhirnya saya berkesimpulan bahwa mereka terlalu nyaman bermain dengan iklim sepakbola Indonesia. Iklim yang mengutamakan otot daripada otak, mengesampingkan sikap profesional, urakan, dan segala “kehebatan” pemain lokal. Memang, bila bermain di level nasional sikap-sikap tersebut masih dan mungkin sangat bisa diterima, tetapi untuk tingkat Internasional? Jangan harap! Pemimpin pertandingan tidak segan-segan mengeluarkan mereka, bahkan pelatih sampai anak-cucunya keluar lapangan bila perilaku mereka dirasa tidak sesuai dengan kitab FIFA (federasi sepakbola seluruh dunia). Belangnya sudah barang tentu ada pada sikap kita sendiri, menyama-ratakan peraturan Indonesia dan Internasional. Bagi mereka (sebut saja, orang barat) peraturan sangat perlu untuk dipatuhi, dan itu mutlak, karena mereka sadar bahwa peraturan dibuat agar semua berjalan dengan baik, paling tidak untuk membatasi gerakan-gerakan ilegal dari para manusia bengal dan buta aturan. Kitapun sebenarnya juga memiliki banyak aturan, tidak hanya di dunia sepakbola, melainkan di segala bidang. Malah mungkin lebih banyak aturan kita (baik yang masuk akal maupun tidak sama sekali) daripada di lingkungan orang barat, karena kita mengenal adanya Norma di kehidupan sosial bermasyarakat. Lalu kenapa sepertinya susah sekali mengendalikan manusia-manusia lokal? Brutal? Terlalu keras kepala? Tidak juga, lalu?

Pikirkan apa yang akhirnya membuat masyarakat kita begitu menganggap remeh peraturan yang berlaku, apapun itu. Karena sang pembuat undang-undang terlalu banyak memaklumi tindakan yang dianggap salah. Ya, kita terlalu banyak bertoleransi, bahkan pada hal yang seharusnya tidak bisa ditoleransi. Salah pengertian pada waktu pelajaran PPKN, bisa jadi itu salah satu penyebabnya (hahaha). Terlalu banyak memberi ruang pada kesalahan orang lain, dengan alasan “memberi” kesempatan mereka untuk berbuat lebih baik. Minimnya ketegasan dalam mengambil keputusan, terkesan membiarkan “si penjahat” untuk berkreasi lebih jauh, dan dari situ banyak orang yang lebih “pintar” akhirnya melihat celah untuk lepas dari kesalahan dan hukuman. Kalimat yang biasa digunakan adalah, “ah, gini aja dipermasalahkan!” atau “biarkan saja. Nanti juga dia sadar..” . Sangat sepele, untuk hal kecil. Tapi untuk hal yang lebih penting, apalagi ada hubungannya dengan citra kita di mata internasional, itu hal yang membuat kita memang pantas ditertawakan oleh kaum barat. Karena kita minim akan kesadaran. Kesadaran berperilaku, kesadaran akan orang lain. Tidak heran kalau banyak orang asing yang berusaha berbuat onar di Negara Indonesia, karena mereka sudah mempelajari bagaimana sikap kita. Oh ya, jangan pernah menyangkutkan masalah toleransi dengan budaya, karena sebenarnya tidak ada kaitannya. Setahu saya orang memberi toleransi karena budaya yang tercipta sebelumnya “memaksa” orang untuk berbuat maklum, dan akhirnya mereka tidak mampu menghasilkan sesuatu yang maksimal. Bayangkan saja apa yang terjadi bila semua orang bersikap penuh toleransi. Akan banyak sekali perjanjian yang gagal, perilaku yang tidak disiplin, kebohongan di masyarakat, kejahatan merajalela, ketidak adilan dan banyak lagi “efek samping” buruk lainnya.

Lalu apakah toleransi adalah sesuatu hal yang salah? Tidak, karena kita memang “diharuskan” hidup dan berperilaku baik secara sosial (karena bila tidak, bisa-bisa kita dianggap sebagai makhluk anti-sosial di Indonesia), asalkan digunakan untuk momen yang sangat tepat dan porsi yang sesuai, tidak berlebihan. Karena dengan tidak sesuainya penggunaan hal tersebut, maka secara tidak langsung kita membuat orang lain untuk bermalas-malasan, dan meremehkan segala hal yang akan mereka lakukan. Bagaimana yang dimaksud sebagai toleransi yang sesuai? Terserah anda yang memberi sikap tersebut, kalau menurut anda memang sangat pantas untuk diberi, silahkan. Tetapi pikirkan dulu bagaimana karakter orang tersebut, dan bayangkan apa yang akan terjadi bila anda memberi ruang padanya. Semoga tercipta sebuah kehidupan yang sportif, lebih mengutamakan perjuangan, daripada mengharap uluran tangan orang lain. Do it, for yourself, by yourself!

Anang Porwoko, 23 November 2009

Tagged

Sebuah Persembahan Kepada Indonesia Dengan Cara Kita.

Baru saja saya menyaksikan sebuah interview singkat kepada band Superman Is Dead, oleh sebuah acara bernama “Showbiz” di salah satu stasiun televisi swasta. Sang juru bicara, Jerinx (drummer SID)  bercerita banyak seputar perjalanan mereka di Vans Warped Tour, sebuah konser musim panas yang diselenggarakan secara kontinyu setiap tahunnya di Amerika.  Secara garis besar Jerinx mengungkapkan bahwa show mereka disana berjalan “sukses” dan tidak seperti dugaan mereka sebelumnya. Dilihat dari CD (compact disc) album terbaru mereka yang habis terjual, kemudian banyaknya komentar positif dari para penikmat musik di Amerika yang dikenal tidak mengenal istilah “sungkan”, dan yang membuat saya cukup terkejut adalah mereka memiliki 11 kota di show schedule mereka! Mengherankan buat saya, karena rata-rata band yang mengikuti parade tersebut, apalagi sekelas SID yang baru kali pertama menembus Vans Warped Tour biasanya hanya memiliki 3 kota untuk show-nya. Tetapi tidak dengan SID yang merupakan satu-satunya delegasi Indonesia, dan satu-satunya wakil dari Asia! Hebat bukan?

Beberapa waktu lalu juga sempat saya baca sebuah tulisan perjalanan band Burgerkill di beberapa media cetak dan Internet, yang ditulis oleh sang gitaris, Agung kalau tidak salah. Beliau bercerita mengenai perjalanan tour Burgerkill di Australia, secara lengkap dan terkesan apa adanya. Mulai dari persiapan keberangkatan, sepanjang perjalanan, perasaan mereka ketika tiba di Australia, mahalnya studio latihan, hingga bagaimana sikap panitia acara terhadap artis. Semuanya diceritakan dengan gamblang. Bagi anda yang membacanya sudah pasti memiliki kebanggaan tersendiri telah menjadi bagian dari Indonesia, khususnya penikmat maupun pelaku dunia musik bawah tanah. Banyak lagi cerita yang saya baca ataupun saya lihat mengenai kehebatan band-band “Kita” di ranah internasional, seperti Shaggydog yang pernah show di Negara kincir angin Belanda dengan ratusan, atau bahkan ribuan penonton bergoyang, dengan sound berhias bendera merah putih. Kemudian band Noxa yang sempat manggung di Finlandia, di sebuah metal show akbar di Eropa. Tetapi yang kemudian terbesit di benak saya ketika membaca cerita-cerita tersebut adalah bagaimana pandangan pemerintah dan anak buahnya ketika mengetahui hal tersebut. Apa perasaan yang mereka rasakan? Bagaimana label-label industri musik di Indonesia memandang hal tersebut? Dan beberapa saat kemudian pikiran saya menjawab, “NIHIL”!!

Di akhir wawancara Jerinx mengatakan keinginannya yang saya setujui bila itu adalah doa kaum Independen, yakni “Semoga SID mampu menampar industri musik Indonesia, menyadarkan mereka agar lebih jeli memilih band. Indonesia banyak memiliki band bagus, band yang tidak seragam. Tetapi wadah dan penikmatnya yang kurang apresiatif”. Dalam hati saya berpikir, kenapa kita juga masih disini-sini saja? Bila mereka saja bisa, kenapa tidak dengan kita? Tetapi kembali lagi kepada segmen penikmat musik di Indonesia yang masih bodoh dengan band menye-menye nya. Perlu kita akui bahwa semuanya terserah pendengar dan pihak-pihak yang bertanggung jawab dengan menjamurnya band-band Allahualam tersebut. Tapi bukan berarti menutup jalan kita untuk berkreasi kan?

Mengapa saya bisa mengatakan jalan kita sengaja ditutup oleh mereka? Banyak fakta yang membuktikan bahwa mereka (orang-orang yang harus bertanggung jawab) secara sengaja membatasi pergerakan kita sebagai pelaku musik Independen di Indonesia. Contoh kecilnya adalah penghentian acara musik jalanan yang rutin diadakan setiap akhir pekan di bulan puasa oleh sebuah studio musik ternama di Kota Malang. Padahal acara tersebut ber-embel-embel amal, dan saya yakin tidak mengganggu ribuan orang yang berlalu-lalang menunggu waktu berbuka puasa di sekitaran jalan Sukarno-Hatta Malang. Entah apa yang ada di pikiran mereka, intinya acara live music tetap tidak bisa dilaksanakan. Bisa diadakan dengan syarat pertunjukkan digelar dengan format akustik, alias tanpa distorsi! Tidak masalah bila beberapa menganggap sebagai tantangan dalam berkreasi, tetapi tetap saja tidak sesuai kaidah musik bagi sebagian besar band artisnya. Belum lagi cerita-cerita mengenai rumitnya mengadakan sebuah acara underground yang biasanya dipersulit dibagian birokrasi penyewaan venue, atau perizinan keamanan. Semuanya bagaikan subsistem yang disebar oleh orang yang tidak menginginkan musik ini berkembang.

Apa yang sebenarnya kita lakukan? Mengganggu mereka? Tidak kan. Justru bila mereka jeli dalam memanfaatkan situasi hal ini dapat menjadi komoditas yang luar biasa menguntungkan, mengingat underground tengah menjadi tren saat sekarang. Tetapi memang perbedaan budaya disini yang menjadi akar permasalahannya. Bagi kita yang mampu hidup di dunia seperti ini, kita mampu menikmatinya. Bagi mereka yang tidak, ya monggo cari hiburan yang lain sesuai selera masing-masing. Akan tetapi kembali kepada masalah tujuan masing-masing pihak, jangan menutup jalan orang lain untuk berkembang. Apalagi yang ditutup adalah calon orang-orang yang mampu membangkitkan gairah dan selera musik Indonesia.

Negara ini memang bukan ‘pasar’ yang ideal bagi kita, jadi apa yang dilakukan band-band di atas adalah salah satu alternatif jalan yang bisa kita pilih. Tidak perlu bingung bagaimana untuk memulainya. Jaman sekarang fasilitas sudah terpenuhi dengan adanya teknologi yang disebut internet. Sudah banyak cara-cara dari mereka yang lebih dahulu mampu menembus panggung internasional, belajarlah dari situ. Carilah koneksi sebanyak-banyaknya, entah teman, band, atau bahkan label-label luar negeri. Tidak perlu malu atau minder, band sekelas Underoath saat ini juga ternyata memiliki mini album yang secara kualitas rekaman dan materi lagu yang tidak seberapa dulunya. Tergantung usaha kita, bagaimana mencari keuntungan dari pihak label atau lainnya, bukankah orang Indonesia seperti kita dikenal cerdik dalam urusan menjalin hubungan? Hahahaa. Yakinkan mereka bahwa band kalian bagus, lebih bagus dari band Amerika. Masalah biaya, tidak akan terasa berat jika kita memang sudah niat dari awal ingin melakukan gebrakan tersebut. Intinya yakin dengan apa yang kita lakukan maka semua akan terlihat lebih baik. Dan dari keyakinan tersebut akan tercipta sebuah energi tambahan untuk berusaha semaksimal mungkin. Mari bersama-sama belajar untuk menjadi lebih baik, melompat melewati step-step yang seharusnya dilakukan orang pada umumnya, karena kita berbeda! Kita lebih baik.

Anang Porwoko, 24 Agustus 2009

Piece of peace.

Apakah kedamaian bisa terwujud? Bagaimana kedamaian yang dimaksud dan diinginkan seluruh umat manusia? Apakah itu damai? Ya, kata damai selalu diucapkan hampir di seluruh penjuru dunia. Damai adalah kata yang digunakan untuk melambangkan sebuah kondisi yang nyaman, aman, sejahtera dan situasi baik lainnya. Damai adalah sebuah simbol kebaikan, tetapi bukan kebenaran yang mutlak. Ketika setiap individu atau kelompok menyerukan keinginan sebuah kedamaian dengan maksud dan tujuan berbeda dengan yang lainnya, justru pada saat itulah mereka seakan-akan menabuh genderang perang. Perang kepada para penyeru kedamaian lainnya.

Kedamaian memiliki arti dan tempat berbeda di setiap tubuh manusia. Mungkin menurut para pemeran hidup antagonis, kedamaian adalah membunuh, mencuri, mengintimidasi, menindas, dan sebagainya. Tetapi apakah kelompok lainnya mampu menerima kedamaian tersebut? Tidak. Karena kedamaian adalah kebenaran yang tidak mutlak, kebenaran yang relatif, semua tergantung pada masing-masing penganutnya. Bahkan untuk mewujudkan kedamaian masing-masing pun kebanyakan dilakukan dengan jalan yang tidak damai, yakni dengan konflik. Konflik untuk menciptakan kedamaian, itu yang banyak kita jumpai, bahkan sebagian pasti pernah merasakan hal tersebut.

Dunia tidak akan pernah lepas dari konflik, dari sebuah perpecahan. Bahkan banyak kejadian yang menjadi cikal-bakal peradaban manusia di dunia berawal dari sebuah konflik. Masih ingat dengan sejarah perang salib? Bagaimana ketika kedua belah pihak berperang mewujudkan kedamaian beragama bagi golongannya yang pada akhirnya malah menciptakan banyak trauma budaya kedua agama? Lalu bagaimana dengan sejarah republik Indonesia, ketika mereka berjuang mendapatkan sebuah kemerdekaan, sebuah kedamaian ‘semu’ bagi rakyat Indonesia yang pada akhirnya malah terjajah oleh bangsanya sendiri. Semua selalu berawal dengan konflik, dengan perbedaan pendapat, dengan perpecahan, perang untuk mendapatkan apa yang mereka masing-masing yakini.

Lalu apakah bisa dikatakan bahwa kedamaian merupakan bentuk kedua dari konflik? Bisa jadi, apabila terus dirunut asal muasalnya. Karena konflik adalah suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. Hal itu dilakukan karena kedua pihak menginginkan ketentraman atas kelompoknya. Sangat berkesinambungan, ada sinergi yang mengiringi kedamaian dan konflik. Intergritas, apakah itu juga konflik? Menurut saya bukan, karena Integritas adalah suatu perbedaan atas sikap dan pendirian, dan tidak harus selalu disertai konflik apabila masing-masing pihak mampu menghormati adanya perbedaan tersebut.

Berikut beberapa pendapat yang pernah saya baca mengenai kata damai. “Beberapa pemikir perdamaian memilih membuat ide damai tunggal, dan mendorong ide banyak arti dari damai. Mereka berpikir tidak ada definisi tunggal yang benar tentang damai. Damai, harus dilihat sebagai sesuatu yang jamak. Contohnya, di Wilayah Danau Besar Afrika, kata damai adalah kindoki, yang menunjuk kepada keseimbangan yang harmonis antara manusia, dan dunia alam lainnya, dan juga kosmos. Pandangan ini lebih luas dari damai yang berarti ‘ketiadaan perang’ atau bahkan ‘kehadiran keadilan’. Banyak pemikir yang sama juga mengkritik ide damai sebagai harapan dan yang akan terjadi pada suatu hari. Mereka mengenal damai tidak harus sesuatu yang manusia harus capai ‘suatu hari’. Mereka menganggap bahwa damai hadir, bila kita menciptakan dan mengembangkannya dalam cara yang kecil dalam kehidupan sehari-hari, dan damai akan berubah secara terus menerus. Ada banyak pandangan yang menganggap apakah kekerasan dan perang dibutuhkan. Pengikut Jainisme, berusaha untuk tidak melakukan penderitaan bahkan kepada hewan dan pacifist seperti Kristen anarkis melihat segala kekerasan sebagai penahanan-diri. Kelompok lainnya memiliki pendirian mereka sendiri yang bermacam-macam.”

Saya pun berpendapat bagaimana menyikapi damai (menurut saya sendiri). Bahwa kedamaian tidak mutlak bagaimana manusia seluruhnya hidup dibawah ketenangan dunia. Kita mampu menciptakan kedamaian menurut kita sendiri, tidak peduli dengan apa itu relativisme, atau apalah. Semua hal yang menurut saya baik, dan dapat diyakini akan membawa hal baik, maka tidak salah kalau dilakukan. Menyakiti untuk ketentraman hidup? Bukan pilihan akhir tentunya. Ciptakan surga kalian, di tengah fatamorgana neraka..

 

Anang Porwoko, 5 Maret 2010