Category Archives: Story Telling

Hantu dari korea itu bernama produsen.

Sebenarnya ini bukanlah hal yang baru untuk dibahas, hanya saja beberapa waktu kemarin salah seorang rekan sedang berapi-api membahas tentang begitu tingginya daya konsumsi kita, terutama terhadap produk asing. Dalam sudut pandangnya, dia memperhatikan masalah euforia konsumerisasi, daya konsumsi yang ditujukan untuk menaikkan derajat para menengah, bukan kegilaan pada produk luar negeri atas dasar perbandingan kualitas. Dan yang akan coba saya bagi bukan dari kedua sudut tadi, karena yang jadi objek adalah rokok. Masa iya, kita bahas rokok dari segi kebanggaan dalam mengkonsumsi, apalagi pertimbangan kualitas. Tentu saja tidak.

Oke, awalnya memang saya sudah geram dengan berbagai seni serapan dari korea. Ya contohnya adalah menjamurnya boy/girl-band (kalau memang beda gender) a la korea yang hampir setiap saat menghiasi televisi kita, yang mana… Ah, sudahlah. Setidaknya kalau anda memang waras, pasti mengerti apa yang saya rasakan. Dan, ternyata itu bukanlah akhir dari invasi budaya mereka. Karena beberapa waktu yang lalu baru saya amati merk rokok rekan saya yang lain, yang mana cukup langka di lingkup komunal kami. Rokok itu, berjudul “The One”. Ketika saya tanya rokok macam apakah itu, dengan bangga dia jawab “ini rokok sehat.” Rokok sehat? Tembakaunya diganti daun bayam? Ternyata bukan. Hanya saja, kandungan tar dalam rokok merk tersebut jauh lebih sedikit dari rokok kebanyakan, yakni hanya 1 Miligram di tiap batangnya. Memang jauh lebih sedikit dari kandungan tar pada rokok yang umumnya berkisar antara 7 sampai 22 Miligram per batang. Seperti yang kita tahu, bahwa tar adalah sebuah zat yang dihasilkan dalam pembakaran tembakau (rokok biasa) dan bahan tanaman lain (rokok herbal). Merupakan campuran dari beberapa zat yang bersama-sama membentuk suatu massa yang dapat melekat di paru-paru (untuk lebih jelasnya mengenai efek negatif yang ditimbulkan oleh tar silahkan googling), dan pastinya merugikan tubuh. Indikator keanehannya adalah, rokok “The One” sudah memiliki persepsi rokok sehat, atau lebih tepatnya rokok yang tidak membunuh secepat rokok kebanyakan. Alibinya, bisa menjaga kesehatan asal masih tetap bisa merokok. Begitulah.

Menurut saya pribadi, persepsi macam tadi memang sengaja diciptakan oleh produsen rokok tersebut. Yah semacam strategi promo produknya begitu. Mana ada sih rokok yang menyehatkan? Toh semua juga paham tentang akibatnya, bahkan para perokok yang hiperaktif sekalipun, meski mereka juga seringkali gagal menghentikan kebiasaannya tersebut. Sekali lagi, menurut saya, ini hanya strategi untuk memasarkan produk ke Indonesia, dimana akhirnya rekan saya berhasil mengkonsumsi produk tersebut.

Tampaknya para produsen rokok sudah mempersiapkan trik lain supaya produk mereka tetap berada di jalur aman secara penjualan. Di tengah gencarnya isu pemanasan global dan go green movement tentunya. Sudah pasti rokok dan polusi asap kendaraan adalah hal dasar yang dapat dibasmi bahkan oleh individu sekalipun. Dan Indonesia adalah negara yang termasuk gencar dalam kampanye perlindungan alam, entah karena kesadaran akan posisinya sebagai paru-paru dunia, atau memang ada “energi” lain dibalik kampanye anti-polusi dan penghijauan tersebut. Hebatnya lagi, para pemuda-pemudi harapan bangsa pun turut bersumbangsih atas kampanye yang akhirnya dengan sukses menjadi tren yang mewabah. Jelas sudah, semua gerakan ini tidak ada sangkut pautnya dengan kesadaran hidup lebih baik, melainkan tren, yang erat hubungannya dengan fashion. Dan untuk menjaga asa fashion, kita perlu sifat yang satu ini: Konsumtif.

Pihak marketing rokok “The One” pasti tahu betul mengenai tipikal pasar Indonesia. KT&G Corps (dulu Korea Tobacco & Ginger, kini Korea Tomorrow & Global) sebagai perusahaan yang memproduksi rokok tersebut tentu sudah paham mengenai produk mana dan segmentasi yang akan dijadikan mangsa di Indonesia. Yakni anak-anak muda yang aktif, yang tampak peduli dengan sekitar, meskipun karbitan dan tidak terlalu paham mengenai alam beserta segala konspirasi di sekelilingnya. Mereka (produsen rokok) justru mampu memanfaatkan semangat anak-anak muda yang sedang bersuka cita memberantas eksploitasi alam dan budaya, dengan iming-iming berkedok kepedulian. Sungguh saya pikir ini adalah era kehancuran dari segala aspek kita, penjajahan melalui invasi kebudayaan. Korea yang jahat? Sepertinya bukan, hanya kita saja yang kurang pandai dan peduli.

Sekali lagi, ini murni pendapat saya loh ya. Sangat bisa menerima bantahan dari pandangan yang lain. At least, eksklusifitas dalam mengkonsumsi sesuatu nantinya akan hilang setelah produk tersebut menjadi masif, dan berstatus “segala usia”. Dan untuk merokoknya, kalau memang ingin sehat tanpa rokok, kenapa tidak berhenti saja? Ngomong-ngomong, saya juga sedang berusaha keras kok, walaupun sangat susah. Selamat mencoba. 🙂

Anang Porwoko, 23 April 2012.

Review: “Dari Moskow Kemana-mana” Tour 2011

Perjalanan panggung, mengenai komunikasi, interaksi, dan apresiasi.

 

“Kenapa komunitas musik non-mainstream di kota Malang selalu dikotak-kotakkan?”. Pertanyaan tersebut seakan menjadi soal wajib bagi calon pelaku komunitas non-mainstream di Kota Malang, yang mana masing-masing memaknai persoalan tadi secara beragam. Dan ketika mayoritas pelaku menganggapnya sebagai masalah tanpa solusi, dari sebuah tongkrongan di salah satu sudut kota Malang bernama Moskow tercetus ide untuk melakukan perjalanan promo musik lintas genre. Ide yang terbentuk hanya dalam semalam, dari sebuah tongkrongan yang (dianggap) tidak keren, dan disertai keraguan dari beberapa pihak, serta minim pendanaan tersebut akhirnya disepakati untuk: Harus Terealisasi!

Setelah sebelumnya tim East Coast Empire sempat melakukan tur Jawa Tengah beberapa waktu lalu, kali ini dengan tema yang lebih ceria, tur Dari Moskow Kemana-mana (DMKM) beramunisikan: Gang Holiday (Ska); Give Me A Chance (Hardcore); Lolyta and the Disgusting Trouble (Classic Rock); Pickwolf (Hardrock). Band-band tersebut dipilih berdasar varian musik, intensitas komunikasi, dan yang terpenting adalah semangat mereka. Dengan daerah tujuan: Bali; Surabaya; Gresik; Malang, tur DMKM dilaksanakan selama tiga hari, terhitung sejak 28-30 April 2011. Proses kerjasama juga dilakukan dengan beberapa industri kreatif lokal, beserta media cetak dan elektronik (yang juga tidak kalah lokal) sebagai official media partner. Sebagai salah satu bentuk publikasi, beberapa hari sebelum tur dilaksanakan, perwakilan dari panitia tur DMKM menyempatkan diri untuk melakukan sesi interview dengan radio MFM seputar rangkaian kegiatan. Dan akhirnya di 27 April 2011 malam, 37 awak perjalanan (bands & kru) telah siap untuk bersenang-senang..

 

28 April 2011

Beberapa jam sebelum keberangkatan, seluruh tim sudah melakukan cek ulang personil dan perbekalan. Sampai akhirnya bis dengan kapasitas 40 seats yang sudah dipermak ulang tiba menjemput rombongan sekitar pukul 00:30. Sebagai rumah kedua selama beberapa hari ke depan, bis sewaan kami cukup manis dengan tambahan pamflet oneway vision di sisi kiri, plus cukup liar dengan driver dan navigator yang tidak lebih nakal dari para peserta tur DMKM. Perjalanan pun dimulai, tinggal landas dari Moskow, segera menuju pulau dewata..

Dipenuhi kenakalan yang natural, bis kami serasa tidak mengenal kegalauan. Tanpa terasa rombongan sudah menyebrangi selat Bali, dan sampai di Central Parking Kuta pada siang menjelang sore hari. Setibanya di penginapan (poppies 2), tanpa istirahat, atau setidaknya merebahkan diri sejenak, para pemuda sok nge-band berjumlah 37 orang tadi langsung memilih aktivitas lain: Bermain ombak pantai Kuta. Terlalu bersemangat kelihatannya..

Hingga saat program utama mereka tiba, promo lewat showcase. Band yang didaulat untuk tampil hari pertama adalah Give Me A Chance dan Lolyta and the Disgusting Trouble. Ditemani satu band tuan rumah, yakni Gommora, pertunjukan dengan Twice Bar sebagai venue dimulai tepat pada 21:00 WITA. Gommora membuka show malam itu dengan alunan hardcore metal ala Terror. Entah masih terasa asing atau memang terbawa sikap juri khas audiens Malang, rombongan tur DMKM hanya menikmati nomor-nomor mereka dengan antusias yang cukup dingin. Cukup sigap untuk sekedar tarian selamat datang. Tiba giliran Give Me A Chance (GMAC) dipersilahkan untuk unjuk kebolehan diluar wilayahnya. Sekitar sepuluh menit untuk setting sound, GMAC langsung menghajar telinga pengunjung Twice Bar dengan track-track andalan mereka, antara lain dua lagu dalam promo-kit mereka beberapa waktu lalu, “Beware of the danger” dan “Big shot!”, disusul tembang-tembang yang belum masuk studio rekam, “No time”, “Stage diving”, “Through the past”, dan sebuah lagu cover dari Champion, “The decline”. Hardcore cepat yang mereka mainkan ternyata ditanggapi lebih agresif oleh crowd malam itu. Kaki-kaki beterbangan, puluhan badan saling bertabrakan, dan hebatnya, crowd lokal juga sing-along. Diluar sebuah lagu cover dari Champion, lagu mereka sudah cukup populer rupanya..

Performer selanjutnya, Lolyta and the Disgusting Trouble (LATDT). Bagi mereka, ini adalah panggung luar daerah untuk pertama kali. Rasa penasaran akan respon telinga luar pun tidak hanya membayangi LATDT, tetapi juga seluruh rombongan tur. Membuka dengan intro yang disusul dengan salah satu track di mini album 2008 mereka,  “Get up (Get the partytonite)”, LATDT serasa menghipnotis seluruh pengunjung Twice Bar. Ini bukan kalimat hiperbola, percayalah. Semua mata dan telinga tidak berhenti menelanjangi aksi Limbang malam itu, yang didukung aksi atraktif seluruh personilnya. Memainkan “Time to rock”, “Black Lights”, dan single 2010 mereka berjudul “Magic of rock”, mereka sangat maksimal. Nomor terakhir sepanjang malam, “Syair ababil”. Lagu dengan puluhan sumpah serapah tersebut, entah, sangat kuat aura magisnya. Belum lagi ketika Limbang beradegan menutup kedua mata dengan syal sembari bermain melodi bersama gitarnya. Maka sepantasnya mereka menyesal, event organizer lokal yang sempat memilih LATDT sebagai band pembuka di acara buatannya. Karena mereka adalah headliner. Setidaknya begitu pendapat bule-bule dan mbak-mbak turis lokal penggemar Limbang dan band-nya. Pertunjukkan malam itu ditutup dengan sesi foto-gratis, obrolan santai antara pengunjung bar dengan player beserta rombongan lain. Arena musik keras pun seketika menghangat.

 

29 April 2011

Hari kedua di Bali, tidak banyak berbeda dengan yang dilakukan para pengunjung lokal pulau dewata (mengenai cerita dan pengalaman selama di Bali, sudah disampaikan rekan saya melalui catatan di akun situs facebook-nya). Belanja oleh-oleh, jalan-jalan, makan panganan khas daerah Bali, atau berenang di pantai. Hingga tiba waktunya showcase malam terakhir di Twice Bar. Kali ini sebagai penutup sudah bersiap Gang Holiday dan Pickwolf, dikawal oleh Poppies Soldier, sebuah band punk lokal dari sekitaran Poppies land.

Kembali, pukul 21:00 WITA pertunjukan live music Twice Bar dimulai. Tidak seperti hari sebelumnya, kali ini rombongan Malang difasilitasi sebuah booth untuk merchandise tur DMKM, tepat di pintu masuk bar. Dan kabar keberadaan band-band Malang di Bali ternyata cukup menyedot antusias rekan-rekan yang berdomisili disana, sebagian besar hadir pula menyaksikan show hari terakhir.

Pesta dibuka oleh Gang Holiday (GH), yang pada kesempatan itu diperkuat oleh Fariz, drummer mereka sesungguhnya, yang terpaksa meninggalkan Malang karena alasan tertentu. Membuka malam terakhir dengan track “Heaven smile”, GH mulai memaksa pengunjung Twice Bar yang sedari tadi masih bercengkerama di halaman luar bar. Menyusul lagu anyar mereka “Moskow”, sebuah lagu cover dari Weezer “Burndt Jam”, dan dua lagu dari promo mereka tahun lalu, “Selly for sale” dan “Try my poison”. Original Dub Ska yang dimainkan GH ternyata mampu menggoyang kepala dan kaki pengunjung bar. Belum lagi ketampanan sang vokalis yang membuat gadis-gadis bule klepek-klepek. Alhasil, promo-kit mereka habis diborong mbak-mbak non-Indonesia, plus foto-foto bareng sang artis yang memang luar biasa peka terhadap antusiasme audiens lawan jenis. Hahaa..

Performer selanjutnya, local hero pengiring band pendatang hari itu, Poppies Soldier, yang saya pikir die hard fans dari Rancid. Dan benar saja, mereka memainkan kurang lebih 6 lagu yang mayoritas membawakan nomor-nomor andalan Rancid dari seluruh album. Meskipun begitu, mereka cukup lihai memainkan cover songs tersebut. Diselingi beberapa kali salam dan ucapan selamat kepada rombongan tur dari Malang, maka kami merasa berada di rumah sendiri. Punk yang ramah, apresiatif, patut diteladani..

Seusai Poppies Soldier, giliran band terakhir malam itu, yang juga last warrior dari rangkaian tur DMKM di Bali, Pickwolf unjuk gigi. Sedikit utak-atik sound gitar (sang gitaris memang sedikit manja untuk urusan sound, haha), mereka seketika menghantam telinga penonton dengan intro cover “Roman holiday” milik Everytime I Die. Semakin gerah suasana venue, mereka langsung menggelontor tanpa jeda dengan sebuah lagu baru “Balada rimba fana” yang rencananya akan masuk dalam sebuah album kompilasi lokal. Dengan sigap crowd yang awalnya menyandar bertahap merangsek ke depan, berhadapan langsung dengan sang vokalis. Benar-benar mengagumkan, tidak ada sekat antara band dan audiens, totally awesome! Sebuah nomor lama “This song is called” turut dihadirkan, menyusul tiga lagu dalam mini album 2010 mereka, “Musik sebuah arena”, “Stop this fuckin’ false rock ‘n roll episode”, dan “Asimilasi budaya millenium ketiga”. Benar saja kalau musik rock memang identik dengan lelaki gagah. Mas-mas bule bertato sedari awal mengamati langsung mendekat, seusai Pickwolf beres-beres equipment. Mereka yang ternyata berasal dari Swiss dan Belgia berminat menawarkan kerjasama dengan band-band tur DMKM dalam sebuah proyek rahasia bersama band hardcore-nya. Yah, anggap saja ini sedikit hadiah dari perjuangan rekan-rekan tur atas kerja kerasnya, meskipun belum pasti terealisasi. Setidaknya mereka lebih percaya diri.

Showcase selama dua hari tersebut berdampak besar terhadap penilaian kami pada gigs-gigs lokal sebelumnya, dimana terlalu lebar jarak yang dibuat antara artis dengan penonton. Dengan megahnya panggung, jauhnya barikade, berartinya ID Card, maka interaksi antara keduanya juga semakin lebar. Setidaknya, percakapan setelah manggung yang kami dapat di Twice Bar adalah salah satu bentuk apresiasi mereka terhadap band. Ketika mereka puas, maka ada ketertarikan untuk mengenal lebih jauh. Kenapa tidak terjadi di kota kami? Benar-benar pelajaran yang sangat berharga. Terima kasih Bali..

 

30 April 2011

Menempuh perjalanan sekitar kurang lebih sepuluh jam dari pulau dewata, rombongan tur DMKM akhirnya sampai di kota pudak, Gresik. Harusnya kami singgah terlebih dahulu di kota pahlawan unyuk sebuah panggung. Tetapi karena even dibatalkan secara sepihak, maka akhir pekan kami habiskan disini. Sore hari, rombongan langsung dihadapkan pada venue yang kurang bersahabat, sekaligus menggoda. Betapa tidak, panggung di areal gudang kendaraan berat membuat kami merasa sedang dalam rangkaian hellfest. Bersebelahan dengan lapangan indoor futsal, yang akhirnya kami pilih sebagai sarana melepas penat. Setelah sound check, cukup istirahat dan bermain sepakbola, even pun dimulai bagi band-band tur sejak pukul 18:30.

Setelah sempat dibuka oleh band lokal dengan gaya musik garage rock, Pickwolf yang didaulat sebagai band tur pertama bermain cukup rapi, dengan sound good looking tetapi kualitas sederhana, plus panggung indah nan mungil, mereka cukup luwes dan mampu memantik gairah penonton Gresik yang memang tidak seantusias Malang. Setelah tiga lagu dirasa cukup, giliran band lokal Gresik yang saya lupa namanya (sorry..) menghibur penonton, yang mayoritas warga sekitaran venue, dan beberapa penikmat musik lokal. Hebatnya, beberapa diantara mereka bahkan sudah menunggu dari siang untuk menyaksikan Gang Holiday dan Give Me A Chance! Maka saya berpendapat, mas-mas tadi pasti memiliki facebook. Haha

Berikutnya, Lolyta and the Disgusting Trouble naik panggung. Dengan penampilan uniknya, mereka sudah mendapat applause dari penonton, bahkan sebelum alat musik berbunyi. Dan memang pantas kalau LATDT terpilih sebagai most valuable band of the tour. Entah bagaimana caranya, penonton Gresik yang sebelumnya benar-benar buta akan mereka, bisa dibuat gembira, dan sesekali terpaku pada pola musik LATDT. Menjelang lagu ketiga yang berarti lagu terakhir, gangguan kembali terjadi. Kali ini beberapa orang dari polsek setempat mendatangi venue dan meminta acara diberhentikan saat itu juga. Mereka beralasan birokrasi yang belum beres dari pihak penyelenggara, dan beberapa saat sebelumnya menerima komplain warga atas keramaian yang ditimbulkan even tersebut. Alhasil, even kembali dihentikan setelah LATDT menuntaskan sebuah tembang penutup malam itu, “Magic of rock”. Ketidak beruntungan tersebut sedikit mengecewakan kami, dimana dua band, Give Me A Chance dan Gang Holiday gagal menghibur beberapa penggemar setianya. Tapi apa mau dikata, stamina kami terbatas kalau hanya untuk beradu argumen dengan aparat yang kurang bersahabat. Saat itu juga kami berpamitan kepada rekan-rekan Gresik sebagai penyelenggara. Paling tidak, usaha mereka untuk membangun kota Gresik dalam hal seni musik patut diacungi jempol. Mereka berjanji akan kembali bekerja sama dengan band-band Malang suatu hari nanti. Mudah-mudahan terwujud..

Akhirnya seluruh rangkaian “Dari Moskow Kemana-mana” Tour 2011 berakhir sampai kembali di tempat asal kami, Moskow. Terima kasih kepada semua pihak lokal atas terselenggaranya tur DMKM 2011, juga East Coast Empire dimana beberapa dari mereka juga turut bergabung dalam tur, Antz Studio, serta rekan-rekan Goldstreet 108. Banyaknya pelajaran yang kami dapat setidaknya membuka pandangan baru, bahwa komunikasi yang intens dan tanpa basa-basi dapat mewujudkan segala tujuan. Tidak peduli siapa dengan siapapun, asal tidak berkepentingan individu, maka semua akan lebih mudah. Paling tidak kami berhasil mematahkan pendapat kenapa komunitas kota Malang seperti mengalami separasi di tiap genre musik. Malang berubah? Kenapa tidak? Kemajuan adalah tujuan, regenerasi adalah keharusan!

Anang Porwoko, 12 Mei 2011

Dimuat di website MajalahSintetik.tumblr.com

Sebuah Persembahan Kepada Indonesia Dengan Cara Kita.

Baru saja saya menyaksikan sebuah interview singkat kepada band Superman Is Dead, oleh sebuah acara bernama “Showbiz” di salah satu stasiun televisi swasta. Sang juru bicara, Jerinx (drummer SID)  bercerita banyak seputar perjalanan mereka di Vans Warped Tour, sebuah konser musim panas yang diselenggarakan secara kontinyu setiap tahunnya di Amerika.  Secara garis besar Jerinx mengungkapkan bahwa show mereka disana berjalan “sukses” dan tidak seperti dugaan mereka sebelumnya. Dilihat dari CD (compact disc) album terbaru mereka yang habis terjual, kemudian banyaknya komentar positif dari para penikmat musik di Amerika yang dikenal tidak mengenal istilah “sungkan”, dan yang membuat saya cukup terkejut adalah mereka memiliki 11 kota di show schedule mereka! Mengherankan buat saya, karena rata-rata band yang mengikuti parade tersebut, apalagi sekelas SID yang baru kali pertama menembus Vans Warped Tour biasanya hanya memiliki 3 kota untuk show-nya. Tetapi tidak dengan SID yang merupakan satu-satunya delegasi Indonesia, dan satu-satunya wakil dari Asia! Hebat bukan?

Beberapa waktu lalu juga sempat saya baca sebuah tulisan perjalanan band Burgerkill di beberapa media cetak dan Internet, yang ditulis oleh sang gitaris, Agung kalau tidak salah. Beliau bercerita mengenai perjalanan tour Burgerkill di Australia, secara lengkap dan terkesan apa adanya. Mulai dari persiapan keberangkatan, sepanjang perjalanan, perasaan mereka ketika tiba di Australia, mahalnya studio latihan, hingga bagaimana sikap panitia acara terhadap artis. Semuanya diceritakan dengan gamblang. Bagi anda yang membacanya sudah pasti memiliki kebanggaan tersendiri telah menjadi bagian dari Indonesia, khususnya penikmat maupun pelaku dunia musik bawah tanah. Banyak lagi cerita yang saya baca ataupun saya lihat mengenai kehebatan band-band “Kita” di ranah internasional, seperti Shaggydog yang pernah show di Negara kincir angin Belanda dengan ratusan, atau bahkan ribuan penonton bergoyang, dengan sound berhias bendera merah putih. Kemudian band Noxa yang sempat manggung di Finlandia, di sebuah metal show akbar di Eropa. Tetapi yang kemudian terbesit di benak saya ketika membaca cerita-cerita tersebut adalah bagaimana pandangan pemerintah dan anak buahnya ketika mengetahui hal tersebut. Apa perasaan yang mereka rasakan? Bagaimana label-label industri musik di Indonesia memandang hal tersebut? Dan beberapa saat kemudian pikiran saya menjawab, “NIHIL”!!

Di akhir wawancara Jerinx mengatakan keinginannya yang saya setujui bila itu adalah doa kaum Independen, yakni “Semoga SID mampu menampar industri musik Indonesia, menyadarkan mereka agar lebih jeli memilih band. Indonesia banyak memiliki band bagus, band yang tidak seragam. Tetapi wadah dan penikmatnya yang kurang apresiatif”. Dalam hati saya berpikir, kenapa kita juga masih disini-sini saja? Bila mereka saja bisa, kenapa tidak dengan kita? Tetapi kembali lagi kepada segmen penikmat musik di Indonesia yang masih bodoh dengan band menye-menye nya. Perlu kita akui bahwa semuanya terserah pendengar dan pihak-pihak yang bertanggung jawab dengan menjamurnya band-band Allahualam tersebut. Tapi bukan berarti menutup jalan kita untuk berkreasi kan?

Mengapa saya bisa mengatakan jalan kita sengaja ditutup oleh mereka? Banyak fakta yang membuktikan bahwa mereka (orang-orang yang harus bertanggung jawab) secara sengaja membatasi pergerakan kita sebagai pelaku musik Independen di Indonesia. Contoh kecilnya adalah penghentian acara musik jalanan yang rutin diadakan setiap akhir pekan di bulan puasa oleh sebuah studio musik ternama di Kota Malang. Padahal acara tersebut ber-embel-embel amal, dan saya yakin tidak mengganggu ribuan orang yang berlalu-lalang menunggu waktu berbuka puasa di sekitaran jalan Sukarno-Hatta Malang. Entah apa yang ada di pikiran mereka, intinya acara live music tetap tidak bisa dilaksanakan. Bisa diadakan dengan syarat pertunjukkan digelar dengan format akustik, alias tanpa distorsi! Tidak masalah bila beberapa menganggap sebagai tantangan dalam berkreasi, tetapi tetap saja tidak sesuai kaidah musik bagi sebagian besar band artisnya. Belum lagi cerita-cerita mengenai rumitnya mengadakan sebuah acara underground yang biasanya dipersulit dibagian birokrasi penyewaan venue, atau perizinan keamanan. Semuanya bagaikan subsistem yang disebar oleh orang yang tidak menginginkan musik ini berkembang.

Apa yang sebenarnya kita lakukan? Mengganggu mereka? Tidak kan. Justru bila mereka jeli dalam memanfaatkan situasi hal ini dapat menjadi komoditas yang luar biasa menguntungkan, mengingat underground tengah menjadi tren saat sekarang. Tetapi memang perbedaan budaya disini yang menjadi akar permasalahannya. Bagi kita yang mampu hidup di dunia seperti ini, kita mampu menikmatinya. Bagi mereka yang tidak, ya monggo cari hiburan yang lain sesuai selera masing-masing. Akan tetapi kembali kepada masalah tujuan masing-masing pihak, jangan menutup jalan orang lain untuk berkembang. Apalagi yang ditutup adalah calon orang-orang yang mampu membangkitkan gairah dan selera musik Indonesia.

Negara ini memang bukan ‘pasar’ yang ideal bagi kita, jadi apa yang dilakukan band-band di atas adalah salah satu alternatif jalan yang bisa kita pilih. Tidak perlu bingung bagaimana untuk memulainya. Jaman sekarang fasilitas sudah terpenuhi dengan adanya teknologi yang disebut internet. Sudah banyak cara-cara dari mereka yang lebih dahulu mampu menembus panggung internasional, belajarlah dari situ. Carilah koneksi sebanyak-banyaknya, entah teman, band, atau bahkan label-label luar negeri. Tidak perlu malu atau minder, band sekelas Underoath saat ini juga ternyata memiliki mini album yang secara kualitas rekaman dan materi lagu yang tidak seberapa dulunya. Tergantung usaha kita, bagaimana mencari keuntungan dari pihak label atau lainnya, bukankah orang Indonesia seperti kita dikenal cerdik dalam urusan menjalin hubungan? Hahahaa. Yakinkan mereka bahwa band kalian bagus, lebih bagus dari band Amerika. Masalah biaya, tidak akan terasa berat jika kita memang sudah niat dari awal ingin melakukan gebrakan tersebut. Intinya yakin dengan apa yang kita lakukan maka semua akan terlihat lebih baik. Dan dari keyakinan tersebut akan tercipta sebuah energi tambahan untuk berusaha semaksimal mungkin. Mari bersama-sama belajar untuk menjadi lebih baik, melompat melewati step-step yang seharusnya dilakukan orang pada umumnya, karena kita berbeda! Kita lebih baik.

Anang Porwoko, 24 Agustus 2009

Piece of peace.

Apakah kedamaian bisa terwujud? Bagaimana kedamaian yang dimaksud dan diinginkan seluruh umat manusia? Apakah itu damai? Ya, kata damai selalu diucapkan hampir di seluruh penjuru dunia. Damai adalah kata yang digunakan untuk melambangkan sebuah kondisi yang nyaman, aman, sejahtera dan situasi baik lainnya. Damai adalah sebuah simbol kebaikan, tetapi bukan kebenaran yang mutlak. Ketika setiap individu atau kelompok menyerukan keinginan sebuah kedamaian dengan maksud dan tujuan berbeda dengan yang lainnya, justru pada saat itulah mereka seakan-akan menabuh genderang perang. Perang kepada para penyeru kedamaian lainnya.

Kedamaian memiliki arti dan tempat berbeda di setiap tubuh manusia. Mungkin menurut para pemeran hidup antagonis, kedamaian adalah membunuh, mencuri, mengintimidasi, menindas, dan sebagainya. Tetapi apakah kelompok lainnya mampu menerima kedamaian tersebut? Tidak. Karena kedamaian adalah kebenaran yang tidak mutlak, kebenaran yang relatif, semua tergantung pada masing-masing penganutnya. Bahkan untuk mewujudkan kedamaian masing-masing pun kebanyakan dilakukan dengan jalan yang tidak damai, yakni dengan konflik. Konflik untuk menciptakan kedamaian, itu yang banyak kita jumpai, bahkan sebagian pasti pernah merasakan hal tersebut.

Dunia tidak akan pernah lepas dari konflik, dari sebuah perpecahan. Bahkan banyak kejadian yang menjadi cikal-bakal peradaban manusia di dunia berawal dari sebuah konflik. Masih ingat dengan sejarah perang salib? Bagaimana ketika kedua belah pihak berperang mewujudkan kedamaian beragama bagi golongannya yang pada akhirnya malah menciptakan banyak trauma budaya kedua agama? Lalu bagaimana dengan sejarah republik Indonesia, ketika mereka berjuang mendapatkan sebuah kemerdekaan, sebuah kedamaian ‘semu’ bagi rakyat Indonesia yang pada akhirnya malah terjajah oleh bangsanya sendiri. Semua selalu berawal dengan konflik, dengan perbedaan pendapat, dengan perpecahan, perang untuk mendapatkan apa yang mereka masing-masing yakini.

Lalu apakah bisa dikatakan bahwa kedamaian merupakan bentuk kedua dari konflik? Bisa jadi, apabila terus dirunut asal muasalnya. Karena konflik adalah suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. Hal itu dilakukan karena kedua pihak menginginkan ketentraman atas kelompoknya. Sangat berkesinambungan, ada sinergi yang mengiringi kedamaian dan konflik. Intergritas, apakah itu juga konflik? Menurut saya bukan, karena Integritas adalah suatu perbedaan atas sikap dan pendirian, dan tidak harus selalu disertai konflik apabila masing-masing pihak mampu menghormati adanya perbedaan tersebut.

Berikut beberapa pendapat yang pernah saya baca mengenai kata damai. “Beberapa pemikir perdamaian memilih membuat ide damai tunggal, dan mendorong ide banyak arti dari damai. Mereka berpikir tidak ada definisi tunggal yang benar tentang damai. Damai, harus dilihat sebagai sesuatu yang jamak. Contohnya, di Wilayah Danau Besar Afrika, kata damai adalah kindoki, yang menunjuk kepada keseimbangan yang harmonis antara manusia, dan dunia alam lainnya, dan juga kosmos. Pandangan ini lebih luas dari damai yang berarti ‘ketiadaan perang’ atau bahkan ‘kehadiran keadilan’. Banyak pemikir yang sama juga mengkritik ide damai sebagai harapan dan yang akan terjadi pada suatu hari. Mereka mengenal damai tidak harus sesuatu yang manusia harus capai ‘suatu hari’. Mereka menganggap bahwa damai hadir, bila kita menciptakan dan mengembangkannya dalam cara yang kecil dalam kehidupan sehari-hari, dan damai akan berubah secara terus menerus. Ada banyak pandangan yang menganggap apakah kekerasan dan perang dibutuhkan. Pengikut Jainisme, berusaha untuk tidak melakukan penderitaan bahkan kepada hewan dan pacifist seperti Kristen anarkis melihat segala kekerasan sebagai penahanan-diri. Kelompok lainnya memiliki pendirian mereka sendiri yang bermacam-macam.”

Saya pun berpendapat bagaimana menyikapi damai (menurut saya sendiri). Bahwa kedamaian tidak mutlak bagaimana manusia seluruhnya hidup dibawah ketenangan dunia. Kita mampu menciptakan kedamaian menurut kita sendiri, tidak peduli dengan apa itu relativisme, atau apalah. Semua hal yang menurut saya baik, dan dapat diyakini akan membawa hal baik, maka tidak salah kalau dilakukan. Menyakiti untuk ketentraman hidup? Bukan pilihan akhir tentunya. Ciptakan surga kalian, di tengah fatamorgana neraka..

 

Anang Porwoko, 5 Maret 2010