Air, Mata, Tanah.

Sungguh malu diri ini. Seakan tak lagi pantas menghadapkan diri pada sejarah. Bagaimana mungkin wajah asli berbalut kulit berwarna pernah berlomba, bersaing dengan sadar dan bangga untuk menjadi bagian dari kehancuran bangsa? Menganggap diri sedarah dengan barat, meski harus melalui penindasan, mengemis dengan darah mengalir, di sepanjang jalan di mana darah membanjir.

Agaknya tak ada hal yang lebih sulit di dunia yang bulat ini, selain hidup dalam penyeragaman yang ditentukan dari luar. Lebih dari seperempat abad lamanya turut menghirup udara nusantara, aku tak juga membalas budi. Aku bahkan pernah bersuka cita dengan harapan besar, untuk segera melepas label pribumi. Seluruhnya kulakukan atas dasar keinginan memperbaiki diri sendiri, tidak lebih. Andai saja ada kehinaan yang lebih dari sekadar tindakan Soeharto dalam dokumen setelah ia mati, maka mungkin aku tenggelam di dasarnya. Di dasar kehinaan bangsa.

Entah apa sebenarnya dosa bangsa ini, hingga seluruh kebodohan dan kebebalan dilimpahkan bak sebuah kutukan. Menangislah aku, dan sewajarnya seluruh anak negeri, bila membaca perkiraan di mana letak daratan yang hilang seperti dikisahkan Poseidon. Daratan yang dianggap punya peradaban paling maju, terhormat, bahkan melebihi apa yang ada dalam imajinasi manusia saat ini. Dan lihatlah apa yang ada sekarang. Boneka-boneka buatan yang diselimuti topeng imitasi seperti merayakan perampasan harga diri bangsa, hingga rela meneteskan air mata haru!

Sejauh yang aku tahu sebelumnya, dibutuhkan kebanggaan dan kesetiaan dari seorang anak bangsa untuk menghormati tanah airnya, dengan cara yang paling layak. Namun secuil pengalaman ini rupanya membuktikan ada hal lain yang lebih diperlukan. Kebanggaan membuat diri tenggelam dalam lautan Dewata, tanpa peduli seperti apa kehidupan para penindas di masa yang sama. Sedangkan kesetiaan membuat tanah air menjadi yang utama, sekaligus acuh kepada yang lain, termasuk kepada para perampas. Demikian, bukan berarti pengetahuan tak diperlukan, bahkan untuk menumbuhkan rasa bangga dan loyal. Pengetahuan membuat manusia hina ini mulai memahami cara dan tipu muslihat dunia luar, dalam menghidangkan racun pemati rasa kepada kawan sebangsanya. Teori Asosiasi Snouck Hurgronje sepertinya sudah membuktikan penyesalannya saat ini. Memang hal pamungkas tak juga menjanjikan kenyamanan, karena pada dasarnya ia dan sesamanya terlahir tanpa pengaman. Namun setidaknya ia berusaha, untuk tak mengulang hal menjijikkan yang sama: Menjilat pantat pucat, yang tak hanya busuk, tapi juga tanpa rasa yang tak bisa dirasakan manusia mana pun. Dalam hatinya ia bersumpah..

Anang Porwoko, 3 Maret 2014.

tanah dewata

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: