Patahkan Jarum Hipodermik!

Kamis, 16 Februari 2012 yang lalu saya mengikuti proses yudisium fakultas, sebagai salah satu syarat kegiatan menuju prosesi wisuda. Pada acara tersebut terdapat salah satu bagian bernama ‘Orasi Ilmiah’, dimana menyampaikan sebuah orasi dari hasil analisa seorang dosen yang sifatnya lebih kepada motivasi kepada calon wisudawan agar lebih memfungsikan dirinya bagi masyarakat. Tema yang diangkat kali itu cukup umum, tetapi menarik. Yakni mengenai progres jurnalisme infotaintment yang semakin kesini semakin berlebihan, sekaligus menjijikkan.

Siapa yang tidak mengkonsumsi berita infotaintment hari ini? Adakah seseorang yang tidak tahu siapa itu Syahrini? Siapa kekasihnya, siapa kekasih sebelumnya, bagaimana model rambutnya, dan banyak lagi pertanyaan memuakkan yang sayangnya justru menjadi konsumsi primer bagi mayoritas masyarakat televisi di Indonesia, dan tentunya juga dari segala jenis kelamin serta tak mengenal batasan usia. Sebuah survey dari lembaga riset AC. Nielsen mengatakan bahwa Indonesia adalah negara dengan program acara infotaintment terbanyak di dunia, dan otomatis juga menjadikan acara tersebut sebagai program dengan durasi paling lama. Padahal hampir seluruh negara maju di dunia sudah menciptakan filter bagi program semacam ini, salah satunya adalah dengan tidak memberi banyak durasi untuk acara infotaintment. Biasanya, komisi penyiaran di tiap negara hanya memberi durasi paling lama lima menit, itupun sifatnya hanya sebagai intermezo, dan disisipkan pada program berita umum. Kasus yang hampir serupa dengan pergerakan rokok disini, dan di negara maju.

Infotaintment rupanya sudah berhasil memperdaya konsumen media massa dalam negeri yang mayoritas menggunakan televisi sebagai sumber informasi, dan membentuk budaya busuk yang baru. Sebut saja, menggunjing, atau menggosip, begitulah. Infotaintment hampir selalu menyajikan berita seputar kehidupan pribadi seorang publik figur, tanpa memperdulikan garis privasi objek liputannya. Apa yang dilakukan jurnalis infotaintment di Indonesia lebih seperti tugas paparazzi, yang dianggap ilegal. Sementara kode etik jurnalistik yang mereka jadikan pegangan akhirnya hanya jadi wacana.

Bagi saya pribadi, menjadi jurnalis infotaintment sama saja dengan memproduksi sesuatu yang tidak layak dikonsumsi secara massal. Tidakkah membosankan ketika hari-hari kita dihabiskan dengan mengorek kehidupan pribadi orang lain yang tidak kita kenal dengan baik? Apa pula manfaatnya bagi orang lain? Mungkin tidak terlalu bijak jika hanya menitik beratkan ‘kesalahan’ pada media dan awak jurnalisnya. Mengutip sebuah kalimat percakapan di film ‘V for Vendetta’, yakni ‘.. if you’re looking for the guilty,  you need only look into a mirror.‘ Patut disayangkan melihat pasifnya konsumen media massa (dalam hal ini televisi) dalam proses interaksi dengan sumber informasi mereka sendiri. Sampai akhirnya terbentuklah hal yang dikatakan dalam teori agenda setting, dimana hal yang sedang diangkat oleh media massa akan menjadi tren di masyarakat, bersifat populer tentu saja. Dengan begitu derasnya terpaan arus informasi tersebut, konsumen ditekan hingga tidak memiliki ruang gerak, sampai pada akhirnya tidak berdaya dan menjadi korban keganasan infotaintment. Semakin banyak orang tidak berdaya, maka kebiasaan untuk mengkonsumsi akan terbentuk, hingga taraf membudaya, dan akhirnya rating mereka meningkat. Dengan rating yang tinggi, maka pihak pemasang iklan komersial akan datang dengan sendirinya. Siapa yang diuntungkan? Media akan semakin kaya, sementara kita? Jadi abu.

Sebelum sampai pada tahap bencana tersebut, ada baiknya kita asah daya literasi terhadap media. Teori uses and gratification berpendapat bahwa kendali terhadap arus media massa ada pada konsumen. Jangan pernah lupa bahwa remote televisi ada di tangan kita. Tumbuhkanlah sikap melek terhadap media, bangunlah filtrasi yang baik. Karena dalam literasi media sendiri terdapat empat tahap kemampuan komunikan atau konsumen media, yakni kemampuan mengakses media; kemampuan analisa pesan; kemampuan evaluasi pesan; dan yang terakhir adalah tahap kemampuan memproduksi sebuah pesan baru yang berasal dari hasil kita menyerap media. Siapapun dapat melakukan keempat hal tersebut, asal diasah dengan serius, dengan niat memperbaiki pesan yang disampaikan. Feedback sebagai jawaban atas pertanyaan dan pernyataan dari media sangat dibutuhkan, buatlah komunikasi yang berkesinambungan. Meskipun tidak langsung tertuju kepada komunikator (media), setidaknya kita dapat mendistribusi pesan dari kacamata masing-masing kepada orang lain yang belum mampu mengidentifikasi pesan dari media.

Saat ini sudah tersedia berbagai sarana untuk kita menyebar pandangan dalam bentuk apapun, salah satunya social media. Ketika sampai pada proses distribusi pesan melalui social media, maka terbentuklah jaringan komunikasi virtual, yang merupakan salah satu sub-bab citizen journalism. Sekali lagi, siapapun bisa melakukannya, siapapun bisa dan berhak menjadi bagian dari citizen journalism. Setidaknya, patahkan teori jarum hipodermik. Jangan biarkan media menusuk kepala kita dengan tanpa perlawanan, karena sekali lagi, semua media massa memiliki kepentingan yang tidak sedikit. Tidak perlu mematikan televisi, cukup lakukan media literasi tadi. Semakin sempit ruang gerak mereka, maka daya kreatifitas mereka dalam membentuk persepsi masyarakat juga akan semakin terkuras. Mereka tidak akan berkembang tanpa peran kita. Stay sharp!

Anang Porwoko, 21 Februari 2012

Advertisements
Tagged

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: