Review: “Dari Moskow Kemana-mana” Tour 2011

Perjalanan panggung, mengenai komunikasi, interaksi, dan apresiasi.

 

“Kenapa komunitas musik non-mainstream di kota Malang selalu dikotak-kotakkan?”. Pertanyaan tersebut seakan menjadi soal wajib bagi calon pelaku komunitas non-mainstream di Kota Malang, yang mana masing-masing memaknai persoalan tadi secara beragam. Dan ketika mayoritas pelaku menganggapnya sebagai masalah tanpa solusi, dari sebuah tongkrongan di salah satu sudut kota Malang bernama Moskow tercetus ide untuk melakukan perjalanan promo musik lintas genre. Ide yang terbentuk hanya dalam semalam, dari sebuah tongkrongan yang (dianggap) tidak keren, dan disertai keraguan dari beberapa pihak, serta minim pendanaan tersebut akhirnya disepakati untuk: Harus Terealisasi!

Setelah sebelumnya tim East Coast Empire sempat melakukan tur Jawa Tengah beberapa waktu lalu, kali ini dengan tema yang lebih ceria, tur Dari Moskow Kemana-mana (DMKM) beramunisikan: Gang Holiday (Ska); Give Me A Chance (Hardcore); Lolyta and the Disgusting Trouble (Classic Rock); Pickwolf (Hardrock). Band-band tersebut dipilih berdasar varian musik, intensitas komunikasi, dan yang terpenting adalah semangat mereka. Dengan daerah tujuan: Bali; Surabaya; Gresik; Malang, tur DMKM dilaksanakan selama tiga hari, terhitung sejak 28-30 April 2011. Proses kerjasama juga dilakukan dengan beberapa industri kreatif lokal, beserta media cetak dan elektronik (yang juga tidak kalah lokal) sebagai official media partner. Sebagai salah satu bentuk publikasi, beberapa hari sebelum tur dilaksanakan, perwakilan dari panitia tur DMKM menyempatkan diri untuk melakukan sesi interview dengan radio MFM seputar rangkaian kegiatan. Dan akhirnya di 27 April 2011 malam, 37 awak perjalanan (bands & kru) telah siap untuk bersenang-senang..

 

28 April 2011

Beberapa jam sebelum keberangkatan, seluruh tim sudah melakukan cek ulang personil dan perbekalan. Sampai akhirnya bis dengan kapasitas 40 seats yang sudah dipermak ulang tiba menjemput rombongan sekitar pukul 00:30. Sebagai rumah kedua selama beberapa hari ke depan, bis sewaan kami cukup manis dengan tambahan pamflet oneway vision di sisi kiri, plus cukup liar dengan driver dan navigator yang tidak lebih nakal dari para peserta tur DMKM. Perjalanan pun dimulai, tinggal landas dari Moskow, segera menuju pulau dewata..

Dipenuhi kenakalan yang natural, bis kami serasa tidak mengenal kegalauan. Tanpa terasa rombongan sudah menyebrangi selat Bali, dan sampai di Central Parking Kuta pada siang menjelang sore hari. Setibanya di penginapan (poppies 2), tanpa istirahat, atau setidaknya merebahkan diri sejenak, para pemuda sok nge-band berjumlah 37 orang tadi langsung memilih aktivitas lain: Bermain ombak pantai Kuta. Terlalu bersemangat kelihatannya..

Hingga saat program utama mereka tiba, promo lewat showcase. Band yang didaulat untuk tampil hari pertama adalah Give Me A Chance dan Lolyta and the Disgusting Trouble. Ditemani satu band tuan rumah, yakni Gommora, pertunjukan dengan Twice Bar sebagai venue dimulai tepat pada 21:00 WITA. Gommora membuka show malam itu dengan alunan hardcore metal ala Terror. Entah masih terasa asing atau memang terbawa sikap juri khas audiens Malang, rombongan tur DMKM hanya menikmati nomor-nomor mereka dengan antusias yang cukup dingin. Cukup sigap untuk sekedar tarian selamat datang. Tiba giliran Give Me A Chance (GMAC) dipersilahkan untuk unjuk kebolehan diluar wilayahnya. Sekitar sepuluh menit untuk setting sound, GMAC langsung menghajar telinga pengunjung Twice Bar dengan track-track andalan mereka, antara lain dua lagu dalam promo-kit mereka beberapa waktu lalu, “Beware of the danger” dan “Big shot!”, disusul tembang-tembang yang belum masuk studio rekam, “No time”, “Stage diving”, “Through the past”, dan sebuah lagu cover dari Champion, “The decline”. Hardcore cepat yang mereka mainkan ternyata ditanggapi lebih agresif oleh crowd malam itu. Kaki-kaki beterbangan, puluhan badan saling bertabrakan, dan hebatnya, crowd lokal juga sing-along. Diluar sebuah lagu cover dari Champion, lagu mereka sudah cukup populer rupanya..

Performer selanjutnya, Lolyta and the Disgusting Trouble (LATDT). Bagi mereka, ini adalah panggung luar daerah untuk pertama kali. Rasa penasaran akan respon telinga luar pun tidak hanya membayangi LATDT, tetapi juga seluruh rombongan tur. Membuka dengan intro yang disusul dengan salah satu track di mini album 2008 mereka,  “Get up (Get the partytonite)”, LATDT serasa menghipnotis seluruh pengunjung Twice Bar. Ini bukan kalimat hiperbola, percayalah. Semua mata dan telinga tidak berhenti menelanjangi aksi Limbang malam itu, yang didukung aksi atraktif seluruh personilnya. Memainkan “Time to rock”, “Black Lights”, dan single 2010 mereka berjudul “Magic of rock”, mereka sangat maksimal. Nomor terakhir sepanjang malam, “Syair ababil”. Lagu dengan puluhan sumpah serapah tersebut, entah, sangat kuat aura magisnya. Belum lagi ketika Limbang beradegan menutup kedua mata dengan syal sembari bermain melodi bersama gitarnya. Maka sepantasnya mereka menyesal, event organizer lokal yang sempat memilih LATDT sebagai band pembuka di acara buatannya. Karena mereka adalah headliner. Setidaknya begitu pendapat bule-bule dan mbak-mbak turis lokal penggemar Limbang dan band-nya. Pertunjukkan malam itu ditutup dengan sesi foto-gratis, obrolan santai antara pengunjung bar dengan player beserta rombongan lain. Arena musik keras pun seketika menghangat.

 

29 April 2011

Hari kedua di Bali, tidak banyak berbeda dengan yang dilakukan para pengunjung lokal pulau dewata (mengenai cerita dan pengalaman selama di Bali, sudah disampaikan rekan saya melalui catatan di akun situs facebook-nya). Belanja oleh-oleh, jalan-jalan, makan panganan khas daerah Bali, atau berenang di pantai. Hingga tiba waktunya showcase malam terakhir di Twice Bar. Kali ini sebagai penutup sudah bersiap Gang Holiday dan Pickwolf, dikawal oleh Poppies Soldier, sebuah band punk lokal dari sekitaran Poppies land.

Kembali, pukul 21:00 WITA pertunjukan live music Twice Bar dimulai. Tidak seperti hari sebelumnya, kali ini rombongan Malang difasilitasi sebuah booth untuk merchandise tur DMKM, tepat di pintu masuk bar. Dan kabar keberadaan band-band Malang di Bali ternyata cukup menyedot antusias rekan-rekan yang berdomisili disana, sebagian besar hadir pula menyaksikan show hari terakhir.

Pesta dibuka oleh Gang Holiday (GH), yang pada kesempatan itu diperkuat oleh Fariz, drummer mereka sesungguhnya, yang terpaksa meninggalkan Malang karena alasan tertentu. Membuka malam terakhir dengan track “Heaven smile”, GH mulai memaksa pengunjung Twice Bar yang sedari tadi masih bercengkerama di halaman luar bar. Menyusul lagu anyar mereka “Moskow”, sebuah lagu cover dari Weezer “Burndt Jam”, dan dua lagu dari promo mereka tahun lalu, “Selly for sale” dan “Try my poison”. Original Dub Ska yang dimainkan GH ternyata mampu menggoyang kepala dan kaki pengunjung bar. Belum lagi ketampanan sang vokalis yang membuat gadis-gadis bule klepek-klepek. Alhasil, promo-kit mereka habis diborong mbak-mbak non-Indonesia, plus foto-foto bareng sang artis yang memang luar biasa peka terhadap antusiasme audiens lawan jenis. Hahaa..

Performer selanjutnya, local hero pengiring band pendatang hari itu, Poppies Soldier, yang saya pikir die hard fans dari Rancid. Dan benar saja, mereka memainkan kurang lebih 6 lagu yang mayoritas membawakan nomor-nomor andalan Rancid dari seluruh album. Meskipun begitu, mereka cukup lihai memainkan cover songs tersebut. Diselingi beberapa kali salam dan ucapan selamat kepada rombongan tur dari Malang, maka kami merasa berada di rumah sendiri. Punk yang ramah, apresiatif, patut diteladani..

Seusai Poppies Soldier, giliran band terakhir malam itu, yang juga last warrior dari rangkaian tur DMKM di Bali, Pickwolf unjuk gigi. Sedikit utak-atik sound gitar (sang gitaris memang sedikit manja untuk urusan sound, haha), mereka seketika menghantam telinga penonton dengan intro cover “Roman holiday” milik Everytime I Die. Semakin gerah suasana venue, mereka langsung menggelontor tanpa jeda dengan sebuah lagu baru “Balada rimba fana” yang rencananya akan masuk dalam sebuah album kompilasi lokal. Dengan sigap crowd yang awalnya menyandar bertahap merangsek ke depan, berhadapan langsung dengan sang vokalis. Benar-benar mengagumkan, tidak ada sekat antara band dan audiens, totally awesome! Sebuah nomor lama “This song is called” turut dihadirkan, menyusul tiga lagu dalam mini album 2010 mereka, “Musik sebuah arena”, “Stop this fuckin’ false rock ‘n roll episode”, dan “Asimilasi budaya millenium ketiga”. Benar saja kalau musik rock memang identik dengan lelaki gagah. Mas-mas bule bertato sedari awal mengamati langsung mendekat, seusai Pickwolf beres-beres equipment. Mereka yang ternyata berasal dari Swiss dan Belgia berminat menawarkan kerjasama dengan band-band tur DMKM dalam sebuah proyek rahasia bersama band hardcore-nya. Yah, anggap saja ini sedikit hadiah dari perjuangan rekan-rekan tur atas kerja kerasnya, meskipun belum pasti terealisasi. Setidaknya mereka lebih percaya diri.

Showcase selama dua hari tersebut berdampak besar terhadap penilaian kami pada gigs-gigs lokal sebelumnya, dimana terlalu lebar jarak yang dibuat antara artis dengan penonton. Dengan megahnya panggung, jauhnya barikade, berartinya ID Card, maka interaksi antara keduanya juga semakin lebar. Setidaknya, percakapan setelah manggung yang kami dapat di Twice Bar adalah salah satu bentuk apresiasi mereka terhadap band. Ketika mereka puas, maka ada ketertarikan untuk mengenal lebih jauh. Kenapa tidak terjadi di kota kami? Benar-benar pelajaran yang sangat berharga. Terima kasih Bali..

 

30 April 2011

Menempuh perjalanan sekitar kurang lebih sepuluh jam dari pulau dewata, rombongan tur DMKM akhirnya sampai di kota pudak, Gresik. Harusnya kami singgah terlebih dahulu di kota pahlawan unyuk sebuah panggung. Tetapi karena even dibatalkan secara sepihak, maka akhir pekan kami habiskan disini. Sore hari, rombongan langsung dihadapkan pada venue yang kurang bersahabat, sekaligus menggoda. Betapa tidak, panggung di areal gudang kendaraan berat membuat kami merasa sedang dalam rangkaian hellfest. Bersebelahan dengan lapangan indoor futsal, yang akhirnya kami pilih sebagai sarana melepas penat. Setelah sound check, cukup istirahat dan bermain sepakbola, even pun dimulai bagi band-band tur sejak pukul 18:30.

Setelah sempat dibuka oleh band lokal dengan gaya musik garage rock, Pickwolf yang didaulat sebagai band tur pertama bermain cukup rapi, dengan sound good looking tetapi kualitas sederhana, plus panggung indah nan mungil, mereka cukup luwes dan mampu memantik gairah penonton Gresik yang memang tidak seantusias Malang. Setelah tiga lagu dirasa cukup, giliran band lokal Gresik yang saya lupa namanya (sorry..) menghibur penonton, yang mayoritas warga sekitaran venue, dan beberapa penikmat musik lokal. Hebatnya, beberapa diantara mereka bahkan sudah menunggu dari siang untuk menyaksikan Gang Holiday dan Give Me A Chance! Maka saya berpendapat, mas-mas tadi pasti memiliki facebook. Haha

Berikutnya, Lolyta and the Disgusting Trouble naik panggung. Dengan penampilan uniknya, mereka sudah mendapat applause dari penonton, bahkan sebelum alat musik berbunyi. Dan memang pantas kalau LATDT terpilih sebagai most valuable band of the tour. Entah bagaimana caranya, penonton Gresik yang sebelumnya benar-benar buta akan mereka, bisa dibuat gembira, dan sesekali terpaku pada pola musik LATDT. Menjelang lagu ketiga yang berarti lagu terakhir, gangguan kembali terjadi. Kali ini beberapa orang dari polsek setempat mendatangi venue dan meminta acara diberhentikan saat itu juga. Mereka beralasan birokrasi yang belum beres dari pihak penyelenggara, dan beberapa saat sebelumnya menerima komplain warga atas keramaian yang ditimbulkan even tersebut. Alhasil, even kembali dihentikan setelah LATDT menuntaskan sebuah tembang penutup malam itu, “Magic of rock”. Ketidak beruntungan tersebut sedikit mengecewakan kami, dimana dua band, Give Me A Chance dan Gang Holiday gagal menghibur beberapa penggemar setianya. Tapi apa mau dikata, stamina kami terbatas kalau hanya untuk beradu argumen dengan aparat yang kurang bersahabat. Saat itu juga kami berpamitan kepada rekan-rekan Gresik sebagai penyelenggara. Paling tidak, usaha mereka untuk membangun kota Gresik dalam hal seni musik patut diacungi jempol. Mereka berjanji akan kembali bekerja sama dengan band-band Malang suatu hari nanti. Mudah-mudahan terwujud..

Akhirnya seluruh rangkaian “Dari Moskow Kemana-mana” Tour 2011 berakhir sampai kembali di tempat asal kami, Moskow. Terima kasih kepada semua pihak lokal atas terselenggaranya tur DMKM 2011, juga East Coast Empire dimana beberapa dari mereka juga turut bergabung dalam tur, Antz Studio, serta rekan-rekan Goldstreet 108. Banyaknya pelajaran yang kami dapat setidaknya membuka pandangan baru, bahwa komunikasi yang intens dan tanpa basa-basi dapat mewujudkan segala tujuan. Tidak peduli siapa dengan siapapun, asal tidak berkepentingan individu, maka semua akan lebih mudah. Paling tidak kami berhasil mematahkan pendapat kenapa komunitas kota Malang seperti mengalami separasi di tiap genre musik. Malang berubah? Kenapa tidak? Kemajuan adalah tujuan, regenerasi adalah keharusan!

Anang Porwoko, 12 Mei 2011

Dimuat di website MajalahSintetik.tumblr.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: