Splakblak!Mutakarak: Kompilasi Musisi Malang nan Seru.

Anak muda selalu indentik dengan sifat yang membuat orang tua resah. Sifat itu namanya gegabah. Istilah kerennya, gegabah itu hampir sama dengan idiom “no future” yang entah kenapa kini kian sering ditemui diantara lelahnya kita dalam meletakkan harapan. Kalau menurut pandangan awam, gegabah mungkin akan identik dengan suatu tindakan buru-buru yang hanya akan menghasilkan output yang levelnya cuma kelas bulu.

 

Adalah sebuah kompilasi musikal yang dinamakan secara gegabah (baca: tidak catchy), Splak Blak! Muta Karak (SB!MK) namun seru dari sekelompok pemuda di Malang Raya. Berisikan 22 lagu dari 11 musisi muda Malang, kompilasi SB!MK ini juga melibatkan ke-gegabah-an di proses pengerjaan yang hanya memakan waktu kurang dari dua bulan saja, mulai dari saat pengonsepan, rekaman, sampai rilis. Dalam waktu pengerjaan yang sesingkat itu, kompilasi ini juga memiliki konsep yang cukup unik yaitu mengkolaborasikan 11 band yang ada dengan 11 artworker muda yang berbeda, plus dua artworker yang mengerjakan artwork untuk sleeve CD dan artwork untuk kepingan CD. Gegabah? Tentu saja! Kelas bulu? Tunggu dulu!

Ternyata, justru cukup gegabah untuk menilai bahwa sebuah hal yang dikerjakan dengan buru-buru hanya akan menghasilkan produk level kelas bulu. Walaupun mayoritas musisi yang ada di kompilasi hanya bermain di genre rock dan sub-genrenya, kompilasi ini kaya akan potensi. Kesebelas musisi yang terlibat mampu memainkan gaya musikal mereka dengan mumpuni. Bumbui potensi-potensi tadi dengan kadar chauvisnis yang tepat, maka mungkin hanya bakso Malang (plus sambal) saja yang bisa menandingi pedasnya isi kompilasi ini.

Berikut adalah wawancara via email yang dilakukan oleh kontributor Jakartabeat.net di Malang, M. Hilmi Khoirul Umam, dengan Anang “Ateng” Purwoko (drummer Pickwolf) dan Adon Saputra, dua orang di antara tim Splak Blak! Muta Karak itu. Simak cerita mereka tentang Jogja Istimewa hingga maraknya band Malang yang (hanya) jualan kaos:

Proyek kompilasi ini dikeluarkan beberapa saat setelah Jogja mengeluarkan kompilasi Jogja Istimewa yang monumental itu, apakah kompilasi SB!MK ini dapat diartikan sebagai respon Malang atas Jogja Istimewa?

Ateng: Kalau diartikan sebagai respon, nggak juga sih ya. Karena sejak awal dicetuskan ide produksi kompilasi, tujuannya cuma pengen menunjukkan bahwa masih ada band/komunitas lain di Malang yang perlu diangkat. Kalaupun mereka lebih awal rilis, ini hanya masalah waktu dan kesempatan, nggak lebih.

Adon: Ah nggak, kompilasi ini bukan mega proyek seperti halnya Jogja Istimewa, apalagi sampai dengan tujuan menjadi monumental. Lagian kenapa parameternya mesti Jogja Istimewa? Kompilasi itu kan udah tahun lalu, yang baru-baru ini kan ada juga kompilasi Rock After School 3, proyek kompilasinya teman-teman dari Bali.

Bagaimana proses kurasi karya sebelum akhirnya bisa masuk dalam kompilasi ini?

Adon: Proses kompilasi ini nggak seribet  seperti proses proyek kebanyakan, yang harus punya konsep ini atau itu, dengan tujuan ini atau itu. Proses awalnya saya ngobrol sama teman-teman, kasih tawaran, deal, terus produski, udah gitu aja. Ini cuma proyek seneng-seneng, no future, kalau gak diterima audience gak masalah, kalau laku ya resiko.

Ateng: Simpel saja, kami kumpulkan varian genre, kemudian mendapat beberapa rekomendasi dari temen-temen band, mereka punya kemauan, karya berkualitas, siap kerja keras, punya kapasitas. Sama halnya ketika kami ambil beberapa seniman visual lokal Malang. Sebagian dari mereka juga ada yang menawarkan diri. Selama mereka bisa, kenapa tidak? Sesederhana itu saja.

Sebagian besar band yang ada di kompilasi ini sebenarnya adalah band sudah pernah (dan sering) masuk kompilasi yang kurang lebih serupa, apakah band Malang yang pantas didengar cuma ini-ini saja?

Ateng: Ya nggak dong! Saya masih sangat percaya bahwa Malang memiliki banyak stok band dengan musik bagus. Sayangnya, sebagian dari mereka masih belum paham mengenai visi mereka sendiri. Seperti ketika banyak band bilang musik mereka bagus, dan pantas didengar. Tapi mana wujudnya? Untuk rekaman saja mereka masih mempertimbangkan biaya studio, yang faktanya lebih murah daripada membiayai gaya hidup. Nggak malu dengan status anak band? Intinya, jarang yang mau bertanggung jawab dengan musik dan pesan yang mereka sampaikan.

Adon: Memang iya, sebagian dari mereka memang sudah pernah ikut terlibat di proyek kompilasi lainnya. Kompilasi ini sebenarnya adalah proyek lanjutan dari rangkaian tur yang kami buat beberapa waktu yang lalu (Dari Moskow Kemana-mana Tour, tur Jawa Timur-Bali). Dan kebetulan personil band-band yang ikut terlibat di kompilasi ini juga orang-orang yang ikut terlibat di tur itu sendiri.  Banyak banget band Malang yang layak didengar, walau nggak sebanyak yang layak disablon.

Dengan kata lain, musisi yang tampil di kompilasi ini muncul hanya dari satu tongkrongan, apakah ini tidak rawan untuk dimaknai sebagai supremasi golongan tertentu?

Ateng: Siapa peduli supremasi? Kompilasi ini dibuat bukan untuk kepentingan sepihak. Dan faktanya, beberapa band partisipan kompilasi ini tidak berasal dari satu tongkrongan. Buktinya adalah adanya sedikit kesulitan pada saat meng-koordinasikan band-band tersebut. Kalaupun dinilai sebagai supremasi salah satu squad, saya pikir siapapun berhak punya persepsi. Jadi, santai saja. Rileks mendalam..

Adon: Satu tongkrongan apaan? Malah kenyataannya individu-individu yang ada di kompilasi ini suka nongkrong di banyak tempat dan spot ngopi, sebut aja mulai dari kopian kebalen, pak ran, moskow sampai sumbersari. Lagian kompilasi ini juga ngelibatin bebrapa band dari scene East Coast Empire – Mlg Ska, dll.

Walaupun materi dalam kompilasi ini cukup berwarna, namun kebanyakan berasal dari genre yang kurang lebih sama, yaitu berputar di sekitaran musik rock, apakah ini merupakan maksud tersembunyi untuk mengembalikan “kejayaan musik rock” yang dulunya dipegang Kota Malang? Bagaimana pendapat tentang genre non-rock di Malang?

Ateng: Menurut saya pribadi, musik rock nggak pernah mati. Mereka tetap berjaya, dalam berbagai dimensi. Mengenai asumsi maksud terselubung, nggak juga. Karena beginilah seharusnya musik untuk kaum muda, bersemangat. Mungkin bisa dibilang realisasi dari identitas kota Malang yang keras dan lugas. Buat apa jadi lugas kalau hanya berupa tulisan tanpa wujud nyata. Tentang genre non-rock yang entah bagaimana mendeskripsikannya, itu pilihan masing-masing. Saya hormati, asal nggak kehilangan esensi main band dan nggak disorientasi. Selebihnya, mari bermain dengan teritori masing-masing, secara sehat.

Adon: Nggak ada maksud tersembunyi di kompilasi ini. Kalau ini bisa jadi trigger untuk mengembalikan kejayaan musik rock di Malang wah itu bagus banget. Walau sebenernya nggak ada tujuan kesana, sekali lagi ini cuma proyek seneng-seneng. Pendapat? Waduh referensi pendengaran saya ini sempit, jarang denger band-band “non-rock” nya Malang. Jangankan dengerin, tau namanya aja nggak.

Setelah Snickers and The Chicken Fighters kemarin hari merilis CD yang berkualitas, dan menyusul SB!MK dengan kompilasi. Tampaknya tahun 2011 akan semakin ramai dengan beberapa rilisan dari band Malang. Apakah ini sebuah pertanda bahwa Malang akan kembali menancapkan taring di skena musik industri Indonesia?

Ateng: Amin! Revolusi scene musik sebuah daerah nggak bisa diukur hanya dengan banyaknya rilisan. Banyak parameternya, termasuk perubahan pola pikir dalam bermain musik. Tapi saya tetep optimis kok, Malang mampu take over, selama mereka punya kemauan, menyatukan visi. Dengan banyaknya rilisan lokal, setidaknya sudah mampu menjawab pertanyaan seputar eksistensi band-band Malang. Kalau dinilai sebagai pertanda, sebaiknya kita amini bersama, hehehe. Oh ya, selamat untuk Snickers and the Chicken Fighter, akhirnya rilis full-length album.

Adon: Iya sebelumnya ada rilisan CD dari SATCF, Fallen to Pieces dan Taste of Poison. Saya pribadi sih nggak muluk-muluk, seandainya band Malang bisa jadi tuan rumah di kotanya sendiri aja itu udah bagus banget. Nggak cuma jadi band pembuka terus.

Kompilasi ini menyuarakan dengan lantang kebanggaan atas Kota Malang, bagaimana dengan kritikan terhadap Kota Malang? Siapa yang ingin disentil lewat kompilasi ini?

Adon: Hahaha… Ini pertanyaan apaan sih? Gak pingin sentil siapa-siapa, pokoknya saya bangga jadi Arek Malang.

Ateng: Yang pertama, jelas kritik terhadap pendapat yang mengatakan bahwa Irfan Bachdim lebih hebat dari Ahmad Bustomi, hahaha. Oke, banyak yang harus dikritik sebenarnya, mulai dari bagaimana menjadi pemuda lokal yang baik dan benar, pemahaman tentang local movement, sampai regenerasi yang harus segera dilakukan di segala titik. Mengenai siapa yang ingin disentil, nggak pengen menyentil sebenarnya, hehehe. Hanya saja, memang kompilasi ini dapat dikatakan sebagai hasil dari budaya tandingan, dan akhirnya menyentil sebagian pihak yang belum mampu mengartikan apa itu counter culture. Ketika banyak anak muda ‘smarter than fifth grader’ berperang asumsi, kompilasi ini muncul dengan imej yang jujur, tanpa harus berlagak pandai. Terkadang sesuatu yang terlihat remeh justru nggak bisa diremehkan..

Kompilasi ini dengan cerdas memadukan konsep musik dengan artwork, apa yang mendasarinya? bagaimana ide ini bermula?

Ateng: Terinspirasi dari banyaknya pertanyaan seputar perbedaan komunitas, lintas genre, dan sebagainya, yang bagi sebagian orang pesimis merupakan hal yang sulit dilakukan. Iseng saja sebenarnya, tapi nekat aja. Toh tujuannya memperbagus tampilan kompilasi, solutif juga, sukur-sukur kalo dianggap breakthrough, dan mampu menambah nilai jual kompilasi ini. Cutting edge lah pokoknya, hahaha… Cutting edge bullshit..

Adon: Saya juga nggak tau, tiba-tiba aja ide buat bikin semacam katalog kecil para pelaku seni itu keluar, mungkin karena saya ini banyak nganggurnya jadi pikirannya gampang melebar ngalor ngidul, ahirnya keluar deh ide itu, tanya ongkos produksi cetak, ternyata ongkos cetaknya mampu kita cover. Ya sudah kita buka tawaran buat artworker lewat twitter, ahirnya mereka mulai ngerjain dalam waktu kurang lebih cuma seminggu, saya sih cuma asik-asikan aja tiap hari berenang sambil mainan bintang laut, hehehe… (tambahan keterangan, Adon Saputra menjalankan tugasnya di kompilasi ini dari Bali, tempat tinggalnya sekarang).

Kompilasi ini muncul dengan cepat (tanpa banyak promo coming soon), namun tiba-tiba saja bisa keluar dan menghasilkan kompilasi yang berbahaya, bagaimana proses kerja tim dalam pengerjaan kompilasi ini?

Adon: Saya beruntung bisa bekerjasama dengan tim, band dan artworker yang yang bisa diajak kerja ngebut dan antusias dalam menanggapi kompilasi ini. Karena  jarak domisili yang berjauhan kami pun banyak memanfaatkan sarana konferensi di Yahoo Messenger buat komunikasi untuk pembagian tugas pada saat pengerjaan kompilasi.

Ateng: Kami cuma nggak ingin menciptakan kondisi harap-harap cemas, dan promo coming soon sepertinya hanya akan menebar janji yang belum pasti. Mengenai proses kerja tim, standar sih. Pembagian deskripsi kerja yang jelas, disiplin, tanpa toleransi, hahaha. Kompilasi berbahaya yang humanis, banget! Oh, satu hal yang tak kalah penting: MERIAH!

Kebanyakan band hanya diberikan waktu yang sempit dalam mengerjakan lagu-lagunya yang masuk dalam kompilasi ini, ketika sampai pada hasil akhir, sudah sesuai harapankah materi-materi yang ada dalam kompilasi ini?

Adon: Udah (sesuai harapan) kok, malah melebihi harapan. Coba dengerin Take This Life yang nyoba nawarin karakter sound yang beda dari band metal kebanyakan. Atau explorasi sound drum super genit yang ada di dua tracknya Lolyta And The Disgusting Trouble.

Ateng: Wah, buat saya malah jauh melebihi ekspektasi lo, suer deh. Waktu deadline pengumpulan materi, saya cuma berpikir, “Saya bener-bener kurang pergaulan, sampai nggak tau ada seniman-seniman lokal yang punya karya sebagus ini.” Mereka serius dalam pengerjaan materi, baik band maupun artwork designer. Keren.

Sebuah kompilasi lokal daerah selalu berpotensi untuk dilabeli dengan slogan “Support Your Local Act”. Padahal slogan tersebut telah berkembang menjadi konsep yang basi ketika slogan tersebut hanya dimaknai sebagai dukungan buta pada musisi lokal (bahkan ketika musisi tersebut karyanya jelek). Menurut sampeyan, bagaimana konsep supportive yang benar bagi kompilasi ini?

Adon: Hahaha… kok dikasih pertanyaan gini sih, pikiran saya langsung ke beberapa orang di Malang yang paling doyan ngobral kata support di twitter atau facebook loh. Nggak ah, saya nggak mau jawab pertanyaan ini, hehehe.

Ateng: Kalo dalam proyek kompilasi ini, seperti yang saya katakan sebagai proyek humanis banget, karena menerapkan konsep support yang benar-benar support. Promo artist, pasti. Dari segi materi, atau kita sebut saja royalti, semua pihak yang berkecimpung berhak mendapatkan, mulai dari artist sampai dealer by hand. Setelah artist sudah memiliki nilai jual, mereka dipersilahkan untuk berkembang sesuai pemahaman masing-masing. Sederhana, kompilasi ini sudah memberi rejeki sekaligus membuka jalan bagi seniman yang berkarya. Realistis kan? Kalo masih ada yang kurang, kompilasi ini butuh saran. Karena sepengetahuan saya, begitulah konsep support. Simbiosis mutualis, saling menguntungkan.

Di sleeve CD saya melihat SB!MK telah menjadi brand tersendiri atas nama SB!MK Music Development. Apa yang bisa diharapkan dari SB!MK Music Development ini nantinya? Akankah ada SB!MK jilid II?

Adon: SB!MK itu memang brand atau wadah untuk meng-implementasikan ide-ide unik yang ada di pikiran temen-temen. SB!MK jilid ll? Maksudnya kompilasi jilid 2 ya? Saya rasa nggak perlu ada jilid berikutnya, nanti kalau kita pingin bikin kompilasi lagi ya kita buat aja format yang baru, lagian ntar nggak enak juga diliatnya, splak blak muta karak 2. Nggak deh, kita bikin lainnya aja.

Ateng: Selama tidak ada band-band muda yang tidak dapat diharapkan, maka kami pun tidak dapat diharapkan, hehehe. Intinya SB!MK berupaya mengembangkan seniman, khususnya musik, yang memang punya kemauan untuk maju. Sukur-sukur kalo dalam perkembangannya bisa jadi record label, dan membantu perkembangan (ekonomi) band lokal, biar nggak selalu mentok di bea produksi karya ketika punya kreasi. SB!MK jilid II? Tunggu saja.

Diproduksi berapa copy cd kompilasi ini? Optimiskah dengan penjualan CD di era pasar yang lebih suka koleksi baju band daripada cd musik?

Adon: Baru produksi 500 keping, sekarang masuk produksi kedua, sejumlah 500 keping juga. Optimis aja, dari 500 keping pertama hari ini tinggal sisa beberapa keping CD saja, nggak sampai 20 biji.

Ateng: Awalnya hanya cetak 500 keping. Tapi dengan lebay-nya pembeli CD, sampai ludes dalam waktu seminggu hanya untuk skala lokal, sepertinya produksi gelombang kedua memang harus dilakukan. Kasihan yang request dari luar kota, distribusi di sana belum rata. Dengan situasi begini, yang pesimis dengan penjualan CD berarti dia emang udah kehilangan fungsi otaknya. Perlu banyak minum susu. Harus maksa pasar dong, capek kalo harus terus kasih penawaran.

Apa yang ingin dicapai dari kompilasi ini?

Ateng: Mendapatkan semangat berkarya dari band dan seniman lain yang belum kaya, belum jadi headliner karena masih muda, serta belum dikenal, supaya nggak mati tertimbun jutaan karyanya sendiri. Dan mudah-mudahan kata pesimis dihapuskan dari kamus besar bahasa indonesia.

Adon: Nggak tau mas apa yang saya ingin capai dari kompilasi ini. Wong sampai hari ini juga, saya belum ngelihat CD kompilasi ini secara otentik, hahaha.

Intipan tracklist penuh seru Splak Blak! Muta Karak oleh Anang “Ateng” Porwoko:

Anniverscary. Track 06 (Dirty Identity) dan track 18 (Stuck in The Middle East). Muda, nakal, urakan. Band punk generasi baru yang tidak perlu dikhawatirkan. Mereka, brengsek.

Brigade 07. Track 09 (Lupakan) dan track 22 (Masa Muda). Original pop punk taste. Easy, sumringah, sekaligus bikin klepek-klepek. Rekomended buat lagu di tempat karaoke. Nancep!

Gang Holiday. Track 08 (Moskow) dan track 15 (Better Day). Ska dub, santai banget. Saya nggak begitu paham musik ska, tapi kalo disuruh denger dua lagu ini sambil minum beer, monggo.

Give Me A Chance. Track 01 (Pride of The City) dan track 16 (Stagedive). Semangat hardcore-nya, gaul. Rancak, vokalnya oke, favorit deh. Silahkan operasi nambah jempol, buat kasih mereka enam jempol. Menyenangkan, dan menyehatkan.

Kobra. Track 07 (Pemuda Harapan Bangsa) dan track 20 (Malam). Klasik, dan ngakunya garage punk. Okelah, apapun, musiknya oke, dan beda. Vokalisnya centil. Masih muda, seleranya gila. Saya kagum.

Lolyta and the Disgusting Trouble. Track 10 (Hard Machine) dan track 17 (Magic of Rock). Classic rock, kakek moyang metallica mungkin. Part melodi dan liriknya magis memang, sayang vokalisnya jelek. Band ini keren! Blacktide 2011 sih, lewaat.

Pickwolf. Track 04 (Balada Rimba Fana) dan 14 (Delusional Kehidupan). Hardrock, nendang. Bukan narsis, tapi liriknya dalem loh, beneran. Warna vokalnya lebih keliatan kalo cowok, kekar. Nah, itu dia. Hardrock kekar!

Sharkbite. Track 05 (S.T.M.L.B) dan track 13 (Set Us Free).  Yang belum paham bagaimana itu beatdown hardcore, mereka bisa jadi mentor yang baik. Mantap, gahar!

Son Of Sundance. Track 02 (Masa) dan track 12 (Lingkaran). Post-rock, manis, ganteng, dan bertenaga. Sudah mumpuni kalau harus maen di acara musik televisi. Mbak-mbak bakal suka setelah dua kali putar lagu mereka.

Take This Life. Track 03 (I’m The Owl, I Roam The Night Alone) dan track 21 (When The Dolphin Pray For Forgiveness). Chaotic, math-core, rumit, kacau. Luas referensi musiknya, penggemar Converge wajib pasang dua lagu ini di playlist!

Youngster City Rockers. Track 11 (Step Back) dan track 19 (Pouring Threat). Ska punk, padat tapi tidak merayap, cepat, rancak, ceria, penuh pokoknya. Vokalisnya nggak kalah ngebut sama gitarnya. Rekomendasi banget buat soundtrack telat kuliah!

Hilmi, 13 September 2011

Dimuat di website Jakartabeat.net

Responden: Adon Saputra & Anang Porwoko

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: