Monthly Archives: July 2014

Sebuah pelayaran yang agung

Kali ini sudah dua jam lewat tengah malam. Mendadak aku dikejutkan oleh tangis seorang perempuan, tepatnya seorang Ibu. Ia menangis histeris, dan perlahan mulai mereda tersedu-sedu. Rupanya, ia sedang meratapi hilangnya keyakinan anak yang dikasihinya, yang ia cinta tanpa berharap pamrih.

Ia tampak begitu terpukul. Keyakinan yang ditanamkannya sejak sang anak masih belum mampu bicara, bahkan belum dapat membuahkan pikiran sehat, kini terpaksa sirna. Hilang diterpa badai ilmu pengetahuan, yang tentu terpisahkan jarak berupa jaman. Sang Ibu dilanda kebimbangan, kalut atas kenyataan yang sulit dicerna, sekaligus barang tentu agak mustahil dibantahnya.

Kegagalan sedang memenuhi kepalanya saat ini, meski sang anak justru merasa Ibunya sudah mencapai keberhasilan tertinggi manusia, pada suatu bagian. Tak bisa tidak, pertentangan pemikiran keduanya tak bermuara, dan semakin menjauhkan makna akan kehidupan masing-masing.

Sang anak yang tak lagi bocah sadar betul, keputusannya untuk kembali bersikap jujur akan berdampak prahara. Batinnya pun tak kalah tersiksa, antara enggan membohongi perempuan yang bertaruh nyawa demi kelahirannya, atau sebaliknya. Ia belum lagi mampu mengusap air mata sang Ibu.

Kini kedua manusia sedarah itu tak hanya dipisahkan lautan membentang. Namun juga samudra realita, yang juga diarungi seribu harap dan doa. Di tengah perahu yang ditumpanginya, sang Ibu terus memohon pada sang pencipta. Memohon agar kapal yang dinahkodai anaknya tak karam, dan lekas merapat ke darat. Di daratan manapun yang dikehendaki buah hatinya.

Gurat senyum mulai melengkung di bibir perempuan itu, karena ia mulai tahu, ia tengah berada dalam sebuah pelayaran yang agung..