Tag Archives: warung kopi

Esensi Warung Kopi.

Apa yang anda bayangkan mendengar kata warung kopi? Kata yang begitu familiar di telinga kita, sebagai orang Indonesia. Begitu familiar sampai-sampai sebuah grup lawak Ibukota mengambil kata tersebut sebagai nama grup mereka. Mengagumkan..

Ya, warung kopi secara umum digambarkan sebuah tempat (kuliner) yang menjadikan ‘kopi’ sebagai menu andalannya. Sementara makanan kelas ringan, sampai kelas menengah hanya menjadi menu pendukung dalam menikmati suasana. Maka tidak heran bila tiap warung kopi memiliki keunikan rasa yang berbeda. Yang akan coba saya bagi disini adalah bukan mengenai detail racikan kopi di tiap warung. Tidak juga tentang profil grup lawak yang saya sebut di paragraf sebelumnya. Tetapi lebih kepada esensi sebuah warung kopi.

Membicarakan tentang esensi, maka kita akan membahas tentang fungsi yang sebenarnya atas suatu hal. Selaras berkembangnya jaman, maka bergeserlah fungsi dan kegunaan segala hal, termasuk sebuah warung kopi. Umumnya mereka datang ke warung kopi atas dasar tujuan yang sama, minum kopi dan ‘membeli’ suasana. Sebelumnya, disini saya membedakan warung kopi menjadi dua jenis, tradisional dan modern.

Yang pertama, warung kopi tradisional. Entah persepsi dari mana, warung kopi tradisional identik dengan penggemar kopi kelas menengah. Mungkin karena lokasi, tata ruang (bahkan eksterior), harga, sampai ‘pelayan’nya yang akhirnya membentuk identitas warung non-eksekutif. Kesederhanaan itulah yang akhirnya membekali niat tulus bagi pengunjung warung kopi tradisional, yang mana tujuan mereka ‘ngopi’ adalah minum kopi dan ngobrol. Bisnis? Bisa jadi, kalau hanya sebatas bisnis kecil sampai menengah, bukan transaksi jual beli helikopter atau negosiasi pembelian mesin keruk. Bagi anda yang berminat untuk mencari teman yang sesungguhnya, saya anjurkan untuk lebih memilih warung kopi tradisional daripada yang modern. Masalah relasi bisnis, itu nomor sekian. Etika kaum elit, apalagi. Yang penting pesan segelas kopi, berbekal rokok sisa semalam, tangan kanan gorengan-tangan kiri cabe, ngobrol ngalor-ngidul panjang-lebar, maka akan terasa perbedaan antara dunia nyata dan dunia maya. Tidak ada kan aplikasi twitter yang bisa mencetak tempe menjes atau pisang goreng? Absolutely, no!

Kategori berikutnya, warung kopi modern. Kenapa modern? Hampir semuanya memilih nama tempat menggunakan bahasa asing. Begitu juga dengan desain interior, manajemen dan pemasaran layaknya perusahaan besar, metode penyajian yang ‘lebih’, sampai pengunjung Coffee Shop (ada baiknya disebut demikian) yang lebih banyak didominasi oleh kalangan high end teenager, hingga pengusaha (yang high end pula). Fasilitas yang disediakan juga bisa dibilang modern, mulai dari buku bacaan, wi-fi area yang memungkinkan akses internet tanpa batas, toilet yang dijamin bersih (meskipun belum tentu steril), dan tentunya panorama mata, turun ke hati, haha. Dengan banyaknya fasilitas tersebut, maka efek samping yang ditimbulkan adalah ‘melenceng’nya tujuan pengunjung Coffee Shop. Yang awalnya berniat untuk minum kopi, akhirnya harus direpotkan dengan dandanan yang tidak apa adanya, bertopeng make up, membebani diri dengan laptop, dan segala ketidak harusan yang terpaksa disertakan dalam kegiatan ngopi.

Mana yang lebih baik? Terserah anda. Semua tergantung tujuan, apa yang kita cari di tempat singgah favorit tersebut. Tapi sebentar, anda penikmat kopi kan? Kalau bukan, hmmm berarti saya salah orang.. 😉

Anang Porwoko, 15 Oktober 2010

Tagged