Sebuah Persembahan Kepada Indonesia Dengan Cara Kita.

Baru saja saya menyaksikan sebuah interview singkat kepada band Superman Is Dead, oleh sebuah acara bernama “Showbiz” di salah satu stasiun televisi swasta. Sang juru bicara, Jerinx (drummer SID)  bercerita banyak seputar perjalanan mereka di Vans Warped Tour, sebuah konser musim panas yang diselenggarakan secara kontinyu setiap tahunnya di Amerika.  Secara garis besar Jerinx mengungkapkan bahwa show mereka disana berjalan “sukses” dan tidak seperti dugaan mereka sebelumnya. Dilihat dari CD (compact disc) album terbaru mereka yang habis terjual, kemudian banyaknya komentar positif dari para penikmat musik di Amerika yang dikenal tidak mengenal istilah “sungkan”, dan yang membuat saya cukup terkejut adalah mereka memiliki 11 kota di show schedule mereka! Mengherankan buat saya, karena rata-rata band yang mengikuti parade tersebut, apalagi sekelas SID yang baru kali pertama menembus Vans Warped Tour biasanya hanya memiliki 3 kota untuk show-nya. Tetapi tidak dengan SID yang merupakan satu-satunya delegasi Indonesia, dan satu-satunya wakil dari Asia! Hebat bukan?

Beberapa waktu lalu juga sempat saya baca sebuah tulisan perjalanan band Burgerkill di beberapa media cetak dan Internet, yang ditulis oleh sang gitaris, Agung kalau tidak salah. Beliau bercerita mengenai perjalanan tour Burgerkill di Australia, secara lengkap dan terkesan apa adanya. Mulai dari persiapan keberangkatan, sepanjang perjalanan, perasaan mereka ketika tiba di Australia, mahalnya studio latihan, hingga bagaimana sikap panitia acara terhadap artis. Semuanya diceritakan dengan gamblang. Bagi anda yang membacanya sudah pasti memiliki kebanggaan tersendiri telah menjadi bagian dari Indonesia, khususnya penikmat maupun pelaku dunia musik bawah tanah. Banyak lagi cerita yang saya baca ataupun saya lihat mengenai kehebatan band-band “Kita” di ranah internasional, seperti Shaggydog yang pernah show di Negara kincir angin Belanda dengan ratusan, atau bahkan ribuan penonton bergoyang, dengan sound berhias bendera merah putih. Kemudian band Noxa yang sempat manggung di Finlandia, di sebuah metal show akbar di Eropa. Tetapi yang kemudian terbesit di benak saya ketika membaca cerita-cerita tersebut adalah bagaimana pandangan pemerintah dan anak buahnya ketika mengetahui hal tersebut. Apa perasaan yang mereka rasakan? Bagaimana label-label industri musik di Indonesia memandang hal tersebut? Dan beberapa saat kemudian pikiran saya menjawab, “NIHIL”!!

Di akhir wawancara Jerinx mengatakan keinginannya yang saya setujui bila itu adalah doa kaum Independen, yakni “Semoga SID mampu menampar industri musik Indonesia, menyadarkan mereka agar lebih jeli memilih band. Indonesia banyak memiliki band bagus, band yang tidak seragam. Tetapi wadah dan penikmatnya yang kurang apresiatif”. Dalam hati saya berpikir, kenapa kita juga masih disini-sini saja? Bila mereka saja bisa, kenapa tidak dengan kita? Tetapi kembali lagi kepada segmen penikmat musik di Indonesia yang masih bodoh dengan band menye-menye nya. Perlu kita akui bahwa semuanya terserah pendengar dan pihak-pihak yang bertanggung jawab dengan menjamurnya band-band Allahualam tersebut. Tapi bukan berarti menutup jalan kita untuk berkreasi kan?

Mengapa saya bisa mengatakan jalan kita sengaja ditutup oleh mereka? Banyak fakta yang membuktikan bahwa mereka (orang-orang yang harus bertanggung jawab) secara sengaja membatasi pergerakan kita sebagai pelaku musik Independen di Indonesia. Contoh kecilnya adalah penghentian acara musik jalanan yang rutin diadakan setiap akhir pekan di bulan puasa oleh sebuah studio musik ternama di Kota Malang. Padahal acara tersebut ber-embel-embel amal, dan saya yakin tidak mengganggu ribuan orang yang berlalu-lalang menunggu waktu berbuka puasa di sekitaran jalan Sukarno-Hatta Malang. Entah apa yang ada di pikiran mereka, intinya acara live music tetap tidak bisa dilaksanakan. Bisa diadakan dengan syarat pertunjukkan digelar dengan format akustik, alias tanpa distorsi! Tidak masalah bila beberapa menganggap sebagai tantangan dalam berkreasi, tetapi tetap saja tidak sesuai kaidah musik bagi sebagian besar band artisnya. Belum lagi cerita-cerita mengenai rumitnya mengadakan sebuah acara underground yang biasanya dipersulit dibagian birokrasi penyewaan venue, atau perizinan keamanan. Semuanya bagaikan subsistem yang disebar oleh orang yang tidak menginginkan musik ini berkembang.

Apa yang sebenarnya kita lakukan? Mengganggu mereka? Tidak kan. Justru bila mereka jeli dalam memanfaatkan situasi hal ini dapat menjadi komoditas yang luar biasa menguntungkan, mengingat underground tengah menjadi tren saat sekarang. Tetapi memang perbedaan budaya disini yang menjadi akar permasalahannya. Bagi kita yang mampu hidup di dunia seperti ini, kita mampu menikmatinya. Bagi mereka yang tidak, ya monggo cari hiburan yang lain sesuai selera masing-masing. Akan tetapi kembali kepada masalah tujuan masing-masing pihak, jangan menutup jalan orang lain untuk berkembang. Apalagi yang ditutup adalah calon orang-orang yang mampu membangkitkan gairah dan selera musik Indonesia.

Negara ini memang bukan ‘pasar’ yang ideal bagi kita, jadi apa yang dilakukan band-band di atas adalah salah satu alternatif jalan yang bisa kita pilih. Tidak perlu bingung bagaimana untuk memulainya. Jaman sekarang fasilitas sudah terpenuhi dengan adanya teknologi yang disebut internet. Sudah banyak cara-cara dari mereka yang lebih dahulu mampu menembus panggung internasional, belajarlah dari situ. Carilah koneksi sebanyak-banyaknya, entah teman, band, atau bahkan label-label luar negeri. Tidak perlu malu atau minder, band sekelas Underoath saat ini juga ternyata memiliki mini album yang secara kualitas rekaman dan materi lagu yang tidak seberapa dulunya. Tergantung usaha kita, bagaimana mencari keuntungan dari pihak label atau lainnya, bukankah orang Indonesia seperti kita dikenal cerdik dalam urusan menjalin hubungan? Hahahaa. Yakinkan mereka bahwa band kalian bagus, lebih bagus dari band Amerika. Masalah biaya, tidak akan terasa berat jika kita memang sudah niat dari awal ingin melakukan gebrakan tersebut. Intinya yakin dengan apa yang kita lakukan maka semua akan terlihat lebih baik. Dan dari keyakinan tersebut akan tercipta sebuah energi tambahan untuk berusaha semaksimal mungkin. Mari bersama-sama belajar untuk menjadi lebih baik, melompat melewati step-step yang seharusnya dilakukan orang pada umumnya, karena kita berbeda! Kita lebih baik.

Anang Porwoko, 24 Agustus 2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: