Kita, terlalu banyak toleransi!

(Memberi terlalu banyak, kepada yang ‘sebenarnya’ mampu berbuat banyak)

Rabu, tanggal 18 November 2009 kemarin, saya bergegas menuju ke rumah setelah meninggalkan kampus, dengan alasan petandingan kualifikasi pra-piala Asia antara Timnas Indonesia melawan Kuwait disiarkan secara langsung oleh salah satu stasiun televisi swasta. Di pertandingan yang krusial tersebut Tim Merah-Putih bermain apik, dan layak disebut tim Nasional, meskipun dalam skala Asia. Dan hasilnya, pasukan garuda senior mampu unggul 1-0 di penghujung babak pertama. Betapa bangganya saya menyaksikan laga pada babak pertama tersebut, dimana akhirnya optimisme membekali hati saya melanjutkan pertunjukan di babak selanjutnya. Babak kedua baru dimulai sekitar 7 menit, kekecewaan saya muncul lagi. Apa pasal? Permainan “tradisional” khas liga Indonesia malah menjadi suguhan pamungkas mereka. Permainan keras menjurus kasar, protes disertai tindakan fisik, dan segala kebodohan sepakbola Indonesia justru diterapkan di saat-saat genting seperti itu. Alhasil, Timnas Indonesia bermain hanya dengan 10 orang keras kepala dan dungu, yang akhirnya menggagalkan euforia Indonesia karena mereka kebobolan di sisa waktu tersebut. Gagal sudah mimpi saya malam itu untuk mengacungkan jempol kepada punggawa-punggawa “andalan” masyarakat di dunia sepakbola Indonesia. Kecewa? Jelas saya sangat kecewa!

Dalam hati saya berpikir, “Apa yang ada di kepala mereka sewaktu melakukan tindakan bodoh dan tidak perlu tersebut? Sadarkah mereka betapa pentingnya pertandingan tersebut? Atau yang lebih mulia, apakah mereka tidak ingin merubah citra buruk sepakbola Negerinya sendiri?”. Kembali saya pikirkan dan akhirnya saya berkesimpulan bahwa mereka terlalu nyaman bermain dengan iklim sepakbola Indonesia. Iklim yang mengutamakan otot daripada otak, mengesampingkan sikap profesional, urakan, dan segala “kehebatan” pemain lokal. Memang, bila bermain di level nasional sikap-sikap tersebut masih dan mungkin sangat bisa diterima, tetapi untuk tingkat Internasional? Jangan harap! Pemimpin pertandingan tidak segan-segan mengeluarkan mereka, bahkan pelatih sampai anak-cucunya keluar lapangan bila perilaku mereka dirasa tidak sesuai dengan kitab FIFA (federasi sepakbola seluruh dunia). Belangnya sudah barang tentu ada pada sikap kita sendiri, menyama-ratakan peraturan Indonesia dan Internasional. Bagi mereka (sebut saja, orang barat) peraturan sangat perlu untuk dipatuhi, dan itu mutlak, karena mereka sadar bahwa peraturan dibuat agar semua berjalan dengan baik, paling tidak untuk membatasi gerakan-gerakan ilegal dari para manusia bengal dan buta aturan. Kitapun sebenarnya juga memiliki banyak aturan, tidak hanya di dunia sepakbola, melainkan di segala bidang. Malah mungkin lebih banyak aturan kita (baik yang masuk akal maupun tidak sama sekali) daripada di lingkungan orang barat, karena kita mengenal adanya Norma di kehidupan sosial bermasyarakat. Lalu kenapa sepertinya susah sekali mengendalikan manusia-manusia lokal? Brutal? Terlalu keras kepala? Tidak juga, lalu?

Pikirkan apa yang akhirnya membuat masyarakat kita begitu menganggap remeh peraturan yang berlaku, apapun itu. Karena sang pembuat undang-undang terlalu banyak memaklumi tindakan yang dianggap salah. Ya, kita terlalu banyak bertoleransi, bahkan pada hal yang seharusnya tidak bisa ditoleransi. Salah pengertian pada waktu pelajaran PPKN, bisa jadi itu salah satu penyebabnya (hahaha). Terlalu banyak memberi ruang pada kesalahan orang lain, dengan alasan “memberi” kesempatan mereka untuk berbuat lebih baik. Minimnya ketegasan dalam mengambil keputusan, terkesan membiarkan “si penjahat” untuk berkreasi lebih jauh, dan dari situ banyak orang yang lebih “pintar” akhirnya melihat celah untuk lepas dari kesalahan dan hukuman. Kalimat yang biasa digunakan adalah, “ah, gini aja dipermasalahkan!” atau “biarkan saja. Nanti juga dia sadar..” . Sangat sepele, untuk hal kecil. Tapi untuk hal yang lebih penting, apalagi ada hubungannya dengan citra kita di mata internasional, itu hal yang membuat kita memang pantas ditertawakan oleh kaum barat. Karena kita minim akan kesadaran. Kesadaran berperilaku, kesadaran akan orang lain. Tidak heran kalau banyak orang asing yang berusaha berbuat onar di Negara Indonesia, karena mereka sudah mempelajari bagaimana sikap kita. Oh ya, jangan pernah menyangkutkan masalah toleransi dengan budaya, karena sebenarnya tidak ada kaitannya. Setahu saya orang memberi toleransi karena budaya yang tercipta sebelumnya “memaksa” orang untuk berbuat maklum, dan akhirnya mereka tidak mampu menghasilkan sesuatu yang maksimal. Bayangkan saja apa yang terjadi bila semua orang bersikap penuh toleransi. Akan banyak sekali perjanjian yang gagal, perilaku yang tidak disiplin, kebohongan di masyarakat, kejahatan merajalela, ketidak adilan dan banyak lagi “efek samping” buruk lainnya.

Lalu apakah toleransi adalah sesuatu hal yang salah? Tidak, karena kita memang “diharuskan” hidup dan berperilaku baik secara sosial (karena bila tidak, bisa-bisa kita dianggap sebagai makhluk anti-sosial di Indonesia), asalkan digunakan untuk momen yang sangat tepat dan porsi yang sesuai, tidak berlebihan. Karena dengan tidak sesuainya penggunaan hal tersebut, maka secara tidak langsung kita membuat orang lain untuk bermalas-malasan, dan meremehkan segala hal yang akan mereka lakukan. Bagaimana yang dimaksud sebagai toleransi yang sesuai? Terserah anda yang memberi sikap tersebut, kalau menurut anda memang sangat pantas untuk diberi, silahkan. Tetapi pikirkan dulu bagaimana karakter orang tersebut, dan bayangkan apa yang akan terjadi bila anda memberi ruang padanya. Semoga tercipta sebuah kehidupan yang sportif, lebih mengutamakan perjuangan, daripada mengharap uluran tangan orang lain. Do it, for yourself, by yourself!

Anang Porwoko, 23 November 2009

Advertisements
Tagged

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: