Dewasalah Aremania! Kita sudah di ambang surga!

Masyarakat Kota Malang kembali melanjutkan selebrasi kemenangan setelah di laga pamungkas Super Liga Indonesia tim Arema Indonesia berhasil mengganyang Persija Jakarta di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) pada 30 Mei 2010 lalu. Siapapun warga yang sedang berada atau berdomisili di Kota Malang sudah barang tentu ikut merasakan juga atmosfer euforia, atau malah hanyut dalam konvoi bergelombang sebagai wujud kebahagiaan Aremania akan prestasi mentereng Arema musim ini. Di berbagai sudut jalan Kota Malang hampir dipastikan selalu terpampang entah spanduk atau sekedar tulisan tentang Arema. Begitu pula dengan atribut, satu hal yang sejak beberapa waktu dianggap sebagai seragam segala aktifitas oleh sebagian besar masyarakat Kota Malang. Dan sangat wajar, mengingat perayaan gelar seperti ini telah mereka tunggu selama kurang lebih 13 tahun, pasca era Galatama.

Hampir setiap saat, sesaat setelah tim Singo Edan berhasil mengunci gelar juara di Stadion Rumbai dimana disiarkan melalui siaran radio oleh Radio Republik Indonesia Pekanbaru, kita penduduk Kota Malang selalu dihibur oleh nyanyian Aremania. Pada awalnya saya salut, sekaligus terharu mendengar nyanyian kemenangan di ruas-ruas jalan, mengalahkan suara adzan, lebih bertenaga dari auman singa sekalipun, juga lebih menyayat daripada lagu Indonesia raya, mungkin. Ya, emosi siapapun pasti sangat labil saat itu, antara menangis dan tertawa. Berkali-kali saya berbicara pada siapapun, “Saya bangga menjadi warga Malang. Saya bangga mendukung Arema!”.

Tetapi selang satu dua hari, perayaan mereka mulai mengarah pada hal yang negatif. Contoh paling kongkrit adalah ketika konvoi di banyak jalan Kota Malang. Mereka jarang menyanyikan mars-mars kemenangan Arema Indonesia, melainkan lebih banyak “misuhi” kelompok supporter lain yang memang menjadi musuh bebuyutan bagi Aremania. Yang perlu digaris bawahi adalah pada penggunaan kata-kata “misuh” tersebut, pada tempat dan situasi yang tidak selayaknya. Pertama, kita Aremania sedang merayakan keberhasilan tim Singo Edan meraih prestasi. Alangkah baiknya bila kita menyanyi dengan sopan, dengan nada dan pesan yang menimbulkan kebanggaan warga Malang lainnya tergali kembali, bukannya menebar kebencian yang akhirnya memprovokasi rekan maupun lawan. Anda salah sikon bung bila menyanyikan lagu untuk suporter yang tahun depan tim kebanggaannya terdegradasi ke divisi utama! Tidak ada alasan untuk “membalas” atau apapun istilahnya bagi Aremania, karena kita pernah (dan mungkin masih, semoga) dianggap sebagai role model suporter modern di Indonesia. Yang perlu diingat adalah ini saat untuk ber-euforia, mari berselebrasi bersama. Kedua, tidak ada satu pihak pun saat ini yang memungkiri bahwa Arema seakan menjadi agama baru bagi warga Malang Raya, dari segala jenis, usia sampai status sosial. Dari atribut, sampai istilahnya makes everything in an Arema way. Dan, dampak buruk dari nyanyian tersebut adalah semakin meningkatnya kemampuan balita seusia 4-5 tahun untuk mengenal kata “musuh” dan “misuh”. Mereka tahu apa yang dikatakan, dan kepada siapa kata-kata tersebut ditujukan oleh Aremania di jalanan. Atau mungkin memang terdapat semacam misi regenerasi bagi penerus Sandi Macan, bocah asli Malang yang beberapa waktu lalu sempat meramaikan berita di media nasional, who knows? J

Yang tidak kalah memprihatinkan adalah perilaku Aremania di jalanan. Sudahlah, tidak ada yang meragukan loyalitas kalian di panggung sepakbola nasional sebagai suporter dengan fanbase terbesar, dengan daya kreatifitas tinggi, dengan tingkah yang santun, tetapi juga tidak tinggal diam ketika diusik ketentramannya. Tetapi, siapa yang berani mengusik kalian di kandang kalian sendiri, Kota malang tercinta? Tidak ada! Tidak usahlah kiranya kita berlagak jagoan, preman, atau apalah namanya. Kita sudah diakui, maka sekarang buktikan. Jangan Cuma besar mulut saudaraku. Kalian berani melakukan justifikasi bahwa suporter tetangga adalah biang onar, tapi kenyataannya kalian juga tidak lebih baik dari kelompok tersebut. Mana bukti dari idiom “Aremania cinta damai” yang selama ini kalian dengungkan? Mana aplikasi dari slogan “Kami adalah suporter, bukan perusuh” yang banyak tertulis di atribut kalian? Mari sama-sama mengoreksi kekurangan dan memperbaiki kelebihan kita..

Satu lagi fakta yang akhirnya membuat hati saya (dan mungkin beberapa ibu-ibu yang menjadi saksi kriminalitas ala Aremania) menangis, marah, sekaligus malu menjadi bagian dari Aremania. Hari senin, tanggal 31 Mei 2010, sekitar pukul 19.00 WIB di kawasan jalan Tlogomas Malang, tepatnya di depan SPBU Tlogomas, saya yang kebetulan pulang dari kampus secara tidak sengaja berhadapan dengan rombongan konvoi Aremania (X), dengan skala yang tidak begitu besar. Dari arah berlawanan muncul seorang Aremania (Y) sedang berkendara motor sendirian. Entah apa yang terjadi, seketika seorang anggota dari massa X meneriaki Y dengan nada dan kata yang menantang. Jelas sekali terdengar saudara muda kita berucap “heh j*****! Mandeg o!” (heh, berhenti!). Dan Y yang merasa tidak bersalah pun berhenti. Walaupun tidak terdengar dialog mereka secara jelas, tetapi dari gestur tubuh Y seolah mengatakan, “Aku yo Arema sam. Ono opo?” (Aku juga Arema mas. Ada apa?), sembari menunjukkan syal kebanggaan Aremania dan t-shirt yang dikenakannya. Sejurus kemudian, yang terjadi adalah X dan seorang temannya malah melucuti atribut Y yang notabene juga seorang Aremania. Bahasa tubuh Y menunjukkan rasa ketakutan, dan mengiba kepada “saudara”nya tersebut. Setelah itu X dengan santainya pergi meninggalkan Y dipinggir jalan, dan kembali meneriakkan “AREMA!”. Siapa yang akan bertanggung jawab kepada Y, bila suatu saat hal ini juga terjadi kepada Y-Y yang lain? Tidak ada! Karena Aremania adalah raja, raja yang bengis. Setidaknya itu analogi saya saat itu. Kecewa? Sangat! Menjadi suatu ironi, ketika persahabatan diantara Aremania sendiri pada kenyataannya tidak terbukti. Dan parahnya, mayoritas massa X adalah Aremania licek, berusia setara siswa sekolah menengah. Darimana kalian mendapat “pelajaran” seperti itu? Memprihatinkan..

Yang terjadi pun akhirnya, beberapa teman dari berbagai daerah yang berdomisili di Malang malah sengaja berbelanja atribut Arema bukan karena antusiasme mereka terhadap Singo Edan belaka, melainkan juga sebagai tameng atau pelindung ketika berada di jalan raya. Karena mereka berpikir dengan atribut Arema, maka keselamatan mereka akan terjamin. Tragis bukan?

Apa sebenarnya yang menjadikan Aremania menjadi beringas, bahkan tidak memiliki empati antar sesama sekalipun? Kenapa mereka begitu sensitif terhadap rekan, bahkan saudaranya sendiri? Tidak adakah edukasi yang mereka terima sebelum “membaptiskan” diri menjadi seorang suporter yang bermartabat? Ingat sam, ini Malang. Dan Malang juga masih bagian dari pulau jawa, yang berbudaya santun dan memiliki tenggang rasa.  Dewasalah, jadilah contoh yang baik. Marilah membangun sikap saling menghormati antar sesama pengguna jalan, karena dari hal kecil semacam itulah persepsi masyarakat akan tindak negatif Aremania bisa berangsur berubah. Siapa yang akan mengembalikan citra apik Aremania kalau bukan mereka sendiri? Stay calm, stay cool, Lions. Lanjutkan selebrasi kalian..

Salam Satu Jiwa!! (Katanya..)

 

Anang Porwoko, 1 Juni 2010

Dimuat di website Ongisnade.net, tribunaremania.com

Advertisements
Tagged

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: