Piece of peace.

Apakah kedamaian bisa terwujud? Bagaimana kedamaian yang dimaksud dan diinginkan seluruh umat manusia? Apakah itu damai? Ya, kata damai selalu diucapkan hampir di seluruh penjuru dunia. Damai adalah kata yang digunakan untuk melambangkan sebuah kondisi yang nyaman, aman, sejahtera dan situasi baik lainnya. Damai adalah sebuah simbol kebaikan, tetapi bukan kebenaran yang mutlak. Ketika setiap individu atau kelompok menyerukan keinginan sebuah kedamaian dengan maksud dan tujuan berbeda dengan yang lainnya, justru pada saat itulah mereka seakan-akan menabuh genderang perang. Perang kepada para penyeru kedamaian lainnya.

Kedamaian memiliki arti dan tempat berbeda di setiap tubuh manusia. Mungkin menurut para pemeran hidup antagonis, kedamaian adalah membunuh, mencuri, mengintimidasi, menindas, dan sebagainya. Tetapi apakah kelompok lainnya mampu menerima kedamaian tersebut? Tidak. Karena kedamaian adalah kebenaran yang tidak mutlak, kebenaran yang relatif, semua tergantung pada masing-masing penganutnya. Bahkan untuk mewujudkan kedamaian masing-masing pun kebanyakan dilakukan dengan jalan yang tidak damai, yakni dengan konflik. Konflik untuk menciptakan kedamaian, itu yang banyak kita jumpai, bahkan sebagian pasti pernah merasakan hal tersebut.

Dunia tidak akan pernah lepas dari konflik, dari sebuah perpecahan. Bahkan banyak kejadian yang menjadi cikal-bakal peradaban manusia di dunia berawal dari sebuah konflik. Masih ingat dengan sejarah perang salib? Bagaimana ketika kedua belah pihak berperang mewujudkan kedamaian beragama bagi golongannya yang pada akhirnya malah menciptakan banyak trauma budaya kedua agama? Lalu bagaimana dengan sejarah republik Indonesia, ketika mereka berjuang mendapatkan sebuah kemerdekaan, sebuah kedamaian ‘semu’ bagi rakyat Indonesia yang pada akhirnya malah terjajah oleh bangsanya sendiri. Semua selalu berawal dengan konflik, dengan perbedaan pendapat, dengan perpecahan, perang untuk mendapatkan apa yang mereka masing-masing yakini.

Lalu apakah bisa dikatakan bahwa kedamaian merupakan bentuk kedua dari konflik? Bisa jadi, apabila terus dirunut asal muasalnya. Karena konflik adalah suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. Hal itu dilakukan karena kedua pihak menginginkan ketentraman atas kelompoknya. Sangat berkesinambungan, ada sinergi yang mengiringi kedamaian dan konflik. Intergritas, apakah itu juga konflik? Menurut saya bukan, karena Integritas adalah suatu perbedaan atas sikap dan pendirian, dan tidak harus selalu disertai konflik apabila masing-masing pihak mampu menghormati adanya perbedaan tersebut.

Berikut beberapa pendapat yang pernah saya baca mengenai kata damai. “Beberapa pemikir perdamaian memilih membuat ide damai tunggal, dan mendorong ide banyak arti dari damai. Mereka berpikir tidak ada definisi tunggal yang benar tentang damai. Damai, harus dilihat sebagai sesuatu yang jamak. Contohnya, di Wilayah Danau Besar Afrika, kata damai adalah kindoki, yang menunjuk kepada keseimbangan yang harmonis antara manusia, dan dunia alam lainnya, dan juga kosmos. Pandangan ini lebih luas dari damai yang berarti ‘ketiadaan perang’ atau bahkan ‘kehadiran keadilan’. Banyak pemikir yang sama juga mengkritik ide damai sebagai harapan dan yang akan terjadi pada suatu hari. Mereka mengenal damai tidak harus sesuatu yang manusia harus capai ‘suatu hari’. Mereka menganggap bahwa damai hadir, bila kita menciptakan dan mengembangkannya dalam cara yang kecil dalam kehidupan sehari-hari, dan damai akan berubah secara terus menerus. Ada banyak pandangan yang menganggap apakah kekerasan dan perang dibutuhkan. Pengikut Jainisme, berusaha untuk tidak melakukan penderitaan bahkan kepada hewan dan pacifist seperti Kristen anarkis melihat segala kekerasan sebagai penahanan-diri. Kelompok lainnya memiliki pendirian mereka sendiri yang bermacam-macam.”

Saya pun berpendapat bagaimana menyikapi damai (menurut saya sendiri). Bahwa kedamaian tidak mutlak bagaimana manusia seluruhnya hidup dibawah ketenangan dunia. Kita mampu menciptakan kedamaian menurut kita sendiri, tidak peduli dengan apa itu relativisme, atau apalah. Semua hal yang menurut saya baik, dan dapat diyakini akan membawa hal baik, maka tidak salah kalau dilakukan. Menyakiti untuk ketentraman hidup? Bukan pilihan akhir tentunya. Ciptakan surga kalian, di tengah fatamorgana neraka..

 

Anang Porwoko, 5 Maret 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: